Ilustrasi pedagang sate diserang geng motor Bekasi. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Geng Motor Begal HP Pedagang, Kriminolog: Muncul karena Ada Kesempatan

Estimasi Baca:
Kamis, 9 Ags 2018 15:05:36 WIB

Kriminologi.id - Sekelompok geng motor berulah dengan membegal handphone atau HP milik pedagang di Jalan Bintara 17, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Selasa, 7 Agustus 2018 dini hari.

Salah seorang pedagang Yusron (19), mengalami luka sabetan celurit di sekujur tubuhnya setelah mempertahankan HP barunya dari geng motor. 

Aksi begal yang dilakukan geng motor ini tidak akan terjadi jika dua pedagang tersebut menyimpan HP-nya dalam saku alias tak dimainkan, kata Kriminolog Universitas Indonesia Muhammad Irvan Olii, Kamis, 9 Agustus 2018. 

“Bicara mengenai kekerasan di jalan, niat dan kesempatan selalu tumpang tindih. Kadang memang dari awal ada niatan dari si pelaku melakukan tindak kejahatan. Namun, terkadang memang karena adanya kesempatan dari si korbanlah kejahatan itu terjadi. Seperti kasus pedagang sate itu," ujarnya. 

Olii menjelaskan tiga unsur penting terjadinya kejahatan, yang dikenal dengan teori Segitiga Kejahatan. Dalam jurnal College Students' Lifestyles and Self-Protective Behaviors, Further Considerations of the Guardianship Concept in Routine Activity Theory, Richard Tewksbury menjelaskan ketiga unsur yang dimaksud, antara lain niat pelaku, target yang potensial dan kelemahan sistem pengamanan maupun pengawasan.

Tewksbury menjelaskan bahwa seseorang bisa saja memiliki niat jahat dan peluang yang cukup untuk mengeksekusi kejahatan itu. Namun, aksi itu tak akan terwujud jika tidak ada target yang sesuai.

Demikian pula apabila ia menemukan target yang cocok, tetapi dengan penjagaan dan pengawasan yang baik, maka perbuatan jahat itu tak akan terlaksana.

Terkait dengan minimnya pengawasan, Olii menjelaskan kedua pedagang yang bermain HP ini pun di waktu yang tak wajar. Di saat waktu tidur, keduanya bermain HP di jalanan umum yang relatif sepi. Sehingga hal ini mengundang begal untuk melakukan kejahatan.

Olii mengimbau masyarakat bisa melakukan pencegahan dengan meningkatkan awareness atau kesadaran di mana pun mereka berada, karena kejahatan tidak mengenal waktu dan tempat. 

Masyarakat harus lebih sensitif terhadap keadaan sekitar sehingga bisa lebih menutup ruang tindak kejahatan.

“Misalnya kejadian video viral penumpang ojek online yang dijambret, itu terjadinya siang hari, seharusnya dia lebih sadar dengan memegangi tasnya agar tidak menjadi korban jambret," ujarnya. 

Masyarakat harus meningkatkan awareness terhadap lingkungannya di mana pun mereka berada. Karena di mana pun kita, kalo tidak memiliki awareness yang cukup, maka kejahatan bisa saja terjadi.”, ungkap Olii. (Rizqi Ghiffari)

 

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500