Ilustrasi pengeroyokan oleh geng Rawa Lele 212. Ilustrasi: Kriminologi.id

Geng Rawa Lele 212, Sosiolog: Generasi Muda Kerap Buat Aturan Sendiri

Estimasi Baca:
Rabu, 6 Des 2017 14:55:54 WIB

Kriminologi.id - Dua anggota polisi terluka akibat dibacok oleh sekelompok pemuda atau geng yang menyebut diri mereka Rawa Lele 212, di Jalan Celepuk 1, Kelurahan Jati Makmur, Kecamatan Pondok Gede, Minggu dini hari, 3 Desember 2017. Fenomena tersebut terjadi dalam masyarakat karena dinilai negara dan perangkatnya tidak hadir di tengah masyarakat.

Sosiolog dari Universitas Indonesia, JF Warouw, menilai ada kelemahan pada tingkat nasional yang mengakibatkan hal itu terjadi.

“Kita punya hukum tetapi di level nasional, tapi masyarakat punya aturan sendiri. Yang generasi muda itu mereka buat aturan sendiri,” ujarnya saat dihubungi Kriminologi, Rabu, 6 Desember 2017.

Menurut Warouw, timbulnya geng atau kelompok anak-anak muda yang ada di kalangan masyarakat karena proses pencarian identitas.

Baca: Rayakan Ultah, Anggota Geng Rawa Lele 212 Wajib Membunuh Secara Acak

“Geng itu proses pencarian identitas. Namun negara mulai dari aparat, gubernur, camat, lurah, RT/RW, mereka bertindak sendri menurut interpretasi mereka sendiri. Belum lagi menurut agamanya,” kata Warouw.

Gengster Rawalele 212 di Pondok Gede. Foto: Ist/Kriminologi.id

Warouw juga mengkritik bahwa negara kurang mampu melihat secara sosiologis fenomena yang terjadi dengan para remaja itu.

“Bisa tingkat provinsi, kota, kecamatan, kelurahan. Negara berarti dengan segala parangkatnya. Secara politis kalau kita bilang negara berarti ada eksekutiv, legislatif, yudikatif. Berbeda dengan masyarakat yang punya satu struktur. 

Baca: Pengakuan Geng Rawa Lele 212, dari Eksistensi Hingga Bacok Polisi

Warouw menegaskan, jika negara ingin membina generasi muda yang tengah mencari identitas itu, maka harus semua departemen di dalam pemerintah ikut serta. 

Selain itu, kata Warouw, pada level lokal para pemuda yang membetuk kelompok-kelompok tersebut tidak mengenal hukum. Dalam hal itu peran aparat di level lokal juga sangat penting.

“RT RW seringkali tidak searah dengan program yang dijalankan secara nasional. Mereka memakai aturan hukum yang berlaku lokal,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, dua anggota Polsek Pondok Gede, Kota Bekasi, yakni Inspektur Satu P Anjang dan Brigadir Slamet Aji dirawat di rumah sakit akibat pengeroyokan yang dilakukan oleh geng Rawa Lele 212.

Baca: Tiga Pentolan Geng Rawa Lele 212 Dalang Pembacokan Polisi Buron

Peristiwa itu berawal dari perayaan ulang tahun geng Rawa Lele 212 yang dihadiri sekitar 40 orang laki-laki. Para pemuda tersebut berkumpul, makan dan meminum minuman keras. Bahkan mereka juga mencari geng lain untuk tawuran.

Panjang dan Slamet yang sedang berpatroli menggunakan sepeda motor di Jalan Celepuk 1 Kelurahan Jatimakmur, melihat ada sekumpulan anak yang sedang berkumpul di sekitar lokasi. Namun nahas, kedua anggota polisi itu menjadi sasaran pengeroyokan. AS

KOMENTAR
500/500