Guru Tewas oleh Muridnya, Pengamat: Ada Kesalahan Metode Pembelajaran

Estimasi Baca : 3 Menit

Ahmad Budi Cahyono, guru honorer pelajaran seni rupa yang tewas dianiaya murid SMA Negeri 1 Torjun, Madura. Foto: Ist/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ahmad Budi Cahyono, guru honorer pelajaran seni rupa yang tewas dianiaya murid SMA Negeri 1 Torjun, Madura. Foto: Ist/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Tindakan guru dalam menjalankan proses kegiatan belajar mengajar di sekolah sangat mempengaruhi reaksi siswa tersebut. Pengamat Pendidikan Mohammad Abduhzen menilai peristiwa penganiayaan guru kesenian Siswa SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura oleh siswanya hingga tewas itu akibat penerapan metode pembelajaran yang kurang tepat alias salah. 

Adalah Ahmad Budi Cahyono guru kesenian yang dianiaya MH, muridnya karena tidak terima dengan sanksi sang guru pada Kamis, 1 Februari 2018. Guru Budi menghukum siswa kelas XII itu dengan menggoreskan cat di pipi karena mengganggu rekannya lainnya saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.

Baca: Penganiaya Guru Budi Jago Silat, KPAI: Bela Diri Pendidikan Karakter  

"Guru mestinya tidak melakukan tindakan fisik, tapi guru juga bukan robot. (Guru) memiliki tingkat emosional. Sebenarya hukuman guru itu tidak berlebihan, tapi reaksi anak yang berlebihan," ujar Abduhzen kepada Kriminologi, Senin, 5 Februari 2018. 

Abduh menyatakan, perbaikan yang tepat dalam konteks peristiwa tewasnya tenaga pendidik di tangan muridnya itu dengan pembenahan pendekatan dan metode guru dalam menjalankan proses pembelajaran di kelas. 

Dalam Undang-Undang, kata Abduhzen, menekankan agar guru menggelar proses pembelajaran dalam suasana dialogis, terbuka dan mengapresisasi keberadaan siswanya. Sehingga, siswa itu merasa diakui sebagai anak dan manusia. 

Baca: Jagoan Silat, Siswa Penganiaya Guru Punya Catatan Merah di Sekolah

"Oleh karena itu anak perlu diberi ruang untuk mengekspresikan dirinya. Tentu saja dengan cara yang menyenangkan," ujarnya. 

Di lain sisi, Abduhzen menyoroti reaksi anak yang terlalu berlebihan dalam merespons sanksi guru pun perlu dicermati. Perilaku anak ini, tidak bisa lepas dari latar belakang keluarga dan masyarakat sekitar tempat tinggalnya. 

Ia menyebutkan, dari analisis dua kasus penganiayaan siswa terhadap gurunya itu terjadi di lingkungan masyarakat dengan kultur yang sangat keras.

"Ini kesimpulan murid mengambil reaksi tergantung referensi yang dilihat dalam kultur masyarakat. Atau yang dikumpulkan melalui pengalamannya," ujarnya. 

Baca: Guru Honorer Tewas Dianiaya Siswa, Begini Kronologi Versi Sekolah

Selain itu, Abduhzen juga menyoroti Undang-Undang tentang Perlindungan Anak yang masih sangat luas akibatnya banyak guru dalam menjalankan tugasnya menjadi apatis lantaran khawatir dianggap melakukan kriminalisasi terhadap siswa. 

Di tambah reaksi masyarakat yang kerap melakukan kriminalisasi guru pun menjadi faktor lainnya. Dengan situasi ini, pihaknya menegaskan perlu dilakukan proses penyadaran dari guru. 

"Dan harus disadarkan bahwa perubahan menyesuaikan dengan perkembangan dunia. Performance harus diubah dan adaptasi dengan perubahan," ujarnya.

Seperti diketahui, Guru Budi tewas setelah dianiaya muridnya pada Kamis, 1 Februari 2018. Guru mata pelajaran kesenian ini sempat dibawa ke Puskesmas Jrengik, Kabupaten Sampang. Karena lukanya itu, Puskesmas langsung merujuk ke rumah sakit Kabupaten Sampang. 

Baca: Tak Terima Wajahnya Dicoret, Siswa Pukuli Guru Kesenian Hingga Tewas

Dari Rumah Sakit Sampang, Guru Budi dirujuk ke rumah sakit DR Soetomo, Surabaya. Pihak rumah sakit yang menangani korban menyatakan Guru Budi mengalami mati batang otak (MBO), yang menyebabkan seluruh organ tubuhnya tidak berfungsi, sekitar pukul 21.40 WIB. 

Sementara MH, siswa yang dikenal jago silat itu ditetapkan sebagai tersangka. Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiam menyatakan, setelah melakukan pemeriksaan terhadap sembilan saksi pihaknya menemukan dua alat bukti yang cukup kuat sehingga menetapkan MH sebagai tersangka pembunuhan gurunya. SM

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Guru Tewas oleh Muridnya, Pengamat: Ada Kesalahan Metode Pembelajaran

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu