Gambar kekerasan anak. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Hukum Pancung Bagi Pelaku Sodomi, Trafficking, Pemerkosa Anak di Aceh

Estimasi Baca:
Jumat, 23 Mar 2018 11:50:30 WIB
Hukuman pancung alias mati dinilai sebagai hukuman yang tepat bagi para pelaku sodomi, trafficking dan melacurkan anak-anak maupun memperkosa anak-anak di bawah umur.

Kriminologi.id - Kekerasan seksual terhadap anak kian menjadi-jadi belakangan ini. Kejahatan terhadap anak di bawah umur itu, terjadi hampir merata di semua daerah.

Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Aceh (KPPAA) Muhammad AR, mengusulkan agar hukuman pancung atau hukuman mati diterapkan bagi orang-orang yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak. Hukuman tersebut dinilai sepadan, mengingat perbuatan tersebut telah merusak masa depan anak-anak Aceh.

"Hukuman mati tersebut berlaku baik yang melakukan sodomi, trafficking, melacurkan anak-anak maupun menzinahi anak-anak di bawah umur," katanya Kamis, 22 Maret 2018, seperti dilansir RRI.co.id.

Misalnya, ia menyebutkan, seperti yang terjadi beberapa hali yang lalu di Aceh Barat. Yakni, sepasang suami istri (pasutri)  Herwin dan Eka Yanti sengaja merusak masa depan anak-anak untuk melakukan prostitusi.

"Yang seperti ini pelakunya harus dihukum mati. Sebab mareka telah merusak keberlangsungan hidup anak-anak dan telah mencemarkan nama baik banyak orang, di antaranya anak itu sendiri, keluarganya dan masyarakat," ujar Muhammad AR.

Peristiwa yang kurang lebih sama terjadi di Krueng Ray Aceh Besar. MZ memperkosa anak kandungnya. Menurut dia, apa yang dilakukan MZ layak mendapat hukuman pancung. Sebab, MZ telah melakukan tindakan biadap terhadap anak kandungnya sendiri.

Muhammad AR juga meminta kepada Pemerintah Aceh untuk melindungii anak-anak Aceh dari perlakuan hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab mareka adalah aset bangsa dan juga amanah Allah yang mesti dijaga dan diperlakukan dengan baik. 

Sedang kan bagi orang tua yang menyia-nyiakan anak-anaknya, ia menambahkan, mereka juga harus dihukum berat agar tidak lepas tanggung jawab dalam mendidik anak.

"Apa yang terjadi di Aceh Barat haruslah diusut tuntas dan di bongkar jejaringnya. Perlu adanya rehabilitasi mental, terhadap korban. Di samping itu perlu juga informasi lanjutan siapa lagi yang telah menjadi korban kebiadaban pasutri tersebut," kata  Muhammad AR.

Tidak hanya untuk Anak di Aceh, dosen UIN Ar-Raniry ini juga meminta Pemerintah Aceh merumuskan hukuman mati kepada pelaku yang merusak citra anak di mata dunia. Sebagaimana halnya hukuman mati kepada teroris dan koruptor. 

Ia mengaku, banyak terjadi pelecehan terhadap anak-anak yang terkadang tidak terekspose. Namun dengan kejadian di Meulaboh dan Krueng Raya Aceh Besar, ia mengharapkan, dapat membuka mata hati para penyelenggara negara untuk memikirkan hak-hak anak dan solusi yang tepat untuk manusia-manusia yang melecehkan hak-hak anak. 

Dan hasil pantauan KPPAA, ia menjelaskan, hampir semua persoalan anak bermuara pada narkoba dan pendidikan keluarga. Dari semua kasus, baik narkoba, khamar, judi dan minimnya pendidikan orang tua khususnya dalam bidang agama, yang menjadi korban adalah anak.

"Dari itu bagi orang tua yang menelantarkan anak-anak mereka juga perlu dihukum berat. Selain itu bagi yang ingin menikah, perlu diadakan kursus tentang kegunaan dan manfaat berkeluarga dan tanggung jawab terhadap anak-anak. Jangan asal nikah saja," ujar Muhamamd AR.

KOMENTAR
500/500