Ilustrasi berita hoaks. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Indonesia Tsunami Informasi, Literasi Media Warga Tangkal Hoaks

Estimasi Baca:
Rabu, 14 Mar 2018 10:55:32 WIB
Leterasi media untuk masyarakat Indonesia dinilai sebagai langkah terkini untuk menangkal penyebaran berita bohong alias hoaks di tengah Indonesia yang berada dalam tsunami informasi.

Kriminologi.id - Indonesia saat ini berada dalam kondisi tsunami informasi. Bagaimana tidak, dari total penduduk Indonesia yang mencapai 265 juta jiwa itu, setengahnya adalah pengguna internet.

Untuk pengguna telepon seluler saja, angkanya dua kali lipat penduduk Indonesia yakni 415 juta akun mobile phone. Artinya, 157 persen, masyarakat Indonesia mempunyai telepon seluler. Saat ini saja, masyarakat Indonesia yang sudah registrasi 315 juta.

Demikian disampaikan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Niken Widiastuti. Terkait hal itu, ia meminta agar masyarakat Indonesia memperkuat literasi media dan pengetahuan guna menangkal hoaks.

"Kasus penyebaran informasi hoaks di Indonesia mayoritas penyebarannya 90 persen melalui digital," katanya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 13 Maret 2018, seperti dilansir RRI.co.id.

Baca Juga: Kamsan Berutu, Mantan Wartawan Sebar Hoaks dan Buat Akun Nama Artis

Derasnya tsunami informasi tersebut, ia menjelaskan, jika keseluruhan isinya negatif akan berpengaruh pada persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab, empat dari sepuluh masyarakat Indonesia aktif di sosial media.

Selain itu, Niken menambahkan, hasil monitoring Kemenkominfo pada 2017 lalu terdeteksi lebih dari 800 ribu informasi hoaks beredar berdasarkan pendataan secara manual.

"Di mana sebagian besar berita hoaks disebarkan melalui media sosial," ujarnya.

Dari kasus penyebar hoaks Saracen misalnya, Dirut LPP RRI 2010-2015 ini mengungkapkan, terdeteksi mempunyai lebih dari 800 ribu akun palsu.

Baca Juga: Pengakuan Mantan Mantan Penyebar Hoaks, Sakit Hati hingga Cari Makan 

"Sekarang ini media sosial menjadi pilar demokrasi dan kita semua jurnalis dan bekerja di media. Ketika kita akan menyiarkan atau mencetak berita akan melewati kades, redaktur dan kepala bidang. Tujuan orang membuat hoaks di antarnya provokasi, menyulut kebencian dan membangkitkan amarah dan fitnah," katanya menegaskan.

KOMENTAR
500/500