Jakmania Pukul Anak Menpora, Kerumunan Hilangkan Identitas Asal

Estimasi Baca :

Tangkapan layar video penganiayaan anak Menpora Imam Nahrawi saat menyaksikan pertandingan Persija Jakarta melawan Persebaya Surabaya di Stadion PTIK Jakarta Selatan, Selasa 26 Juni 2018. Foto: Instagram Extra Green Time - Kriminologi.id
Tangkapan layar video penganiayaan anak Menpora Imam Nahrawi saat menyaksikan pertandingan Persija Jakarta melawan Persebaya Surabaya di Stadion PTIK Jakarta Selatan, Selasa 26 Juni 2018. Foto: Instagram Extra Green Time

Kriminologi.id - Kasus pemukulan yang dilakukan seorang anggota suporter Persija atau biasa disebut Jakmania terhadap anak Menpora Imam Nahrawi, dinilai sebagai hilangnya identitas seseorang yang berganti pada identitas kelompok. Sehingga hal tersebut dinilai sebagai pembentuk psikologi massa.

Kriminolog Universitas Indonesia Kisnu Widagso menyoroti beberapa hal. Satu aspek yang paling menonjol adalah terkait psikologi massa yang terbentuk ketika seseorang di tengah kerumunan, yakni ketika identitas asal seseorang tergantikan dengan identitas kelompok.

Dalam menilai aksi pemukulan yang dilakukan seorang Jakmania itu, Kisnu juga menyoroti tentang sejarah hubungan kedua suporter tim sepak bola yang terlibat itu, yang memang dikenal tidak terlalu baik satu sama lain. 

“Dua tim ini punya suporter yang punya track record yang tidak terlalu baik. Hal-hal yang sepele saja kadang bisa memunculkan emosi sehingga menimbulkan kekerasan di lapangan dan luar lapangan”, ujarnya Minggu, 1 Juli 2018.

Kisnu juga menyoroti aspek pengamanan dari lapangan tersebut. Bagaimana pun juga, menurut Kisnu, lapangan sepak bola di PTIK bukan dirancang untuk sebuah gelaran liga sehingga akan ada aspek-aspek yang berbeda.

Misalnya, lapangan di PTIK sejak pembuatannya tidak disiapkan untuk menampung euforia seperti di lapangan sepak bola umumnya. Hal itu akan mempengaruhi bagaimana antisipasi ketika terjadi hal-hal tertentu, contohnya seperti kericuhan penonton. 

Kisnu menambahkan, jumlah anggota pengamanan yang ditempatkan di lokasi juga akan mempengaruhi psikologis seseorang ketika mengambil akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan kekerasan atau tidak.

“Ketika jumlahnya tidak cukup dan tidak memadai, otomatis kan lemah pengawasannya sehingga kemudian orang bisa melakukan kekerasan. Meskipun emosi sekalipun, kalo dia melihat bahwa ada penjagaan yang memadai pasti mereka akan menahan diri untuk melakukan kekerasan”, ucap Kisnu.

Akan tetapi, Kisnu memberi penekanan pada ada psikologi massa yang terbentuk di sebuah kerumunan. Kisnu menjelaskan kelompok suporter sepak bola sebagai sebuah crowd atau kerumunan. Hal ini yang menurutnya paling bisa menjelaskan mengapa seorang Jakmania berani melakukan tindak kekerasan di lapangan PTIK beberapa waktu yang lalu.

“Di dalam kerumunan itu, biasanya orang akan kehilangan identitas asalnya. Sehingga yang kemudian terbentuk itu adalah psikologi massa”, tambahnya.

Psikologi massa yang dimaksud oleh Kisnu adalah seperti emosi, rasa keinginan, serta rasa kepemilikan yang sama. Juga rasa senasib sepenanggungan dalam membela klub kesayangan.

Lebih jauh, Kisnu mengatakan setiap individu sebenarnya memiliki hal-hal tertentu yang bersifat sebagai intimate handler, yakni sesuatu dalam dirinya yang dapat menahan atau menghalanginya untuk melakukan kekerasan. Salah satu contohnya adalah status dan peran individu tersebut ketika di luar kerumunan. Misalnya statusnya sebagai kepala keluarga.

“Ada hal hal yang sifatnya sebagai intimate handler yang kemudian menghalangi dia untuk melakukan kekerasan. Seperti saya punya istri, punya anak, kalo saya melakukan kekerasan bagaimana nanti”, jelas Kisnu.

Status dan peran diri seseorang itu akan mempengaruhi rasionalitasnya yang dapat menahan seseorang untuk melakukan kekerasan.

Namun Kisnu menjelaskan, dalam kondisi di kerumunan, hal-hal yang bersifat sebagai intimate handler itu bisa hilang. Menghilang karena kemudian status dan perannya sebagai individu, atau dikenal dengan identitas asalnya tergantikan dengan identitas kelompok.

Dalam hal suporter sepak bola, identitas kelompok sangat mungkin terbentuk karena adanya rasa senasib dan sepenanggungan dalam membela klub kesayangan yang melebur di dalam kelompok. Dan tidak jarang, rasa senasib sepenanggungan itulah yang menjadi landasan seseorang untuk melakukan kekerasan.

“Status dan peran seseorang yang sebenarnya bisa menjadi intimate handler telah tergantikan oleh status dan peran yang ada di kerumunan. Dia tidak lagi berpikir untuk mengurungkan niatnya untuk melakukan kekerasan”, ujarnya.

Sebuah video yang merekam aksi pemukulan seorang anggota suporter Persija atau biasa disebut Jakmania terhadap anak Menpora Imam Nahrawi viral di media sosial.

Insiden pemukulan itu terjadi pada Selasa, 26 Juni 2018, saat digelar laga Persija melawan Persebaya di Stadion Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan. Pemukulan itu dipicu oleh selebrasi suporter Persebaya saat merayakan gol pemain Persebaya ke gawang Persija. AS

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Jakmania Pukul Anak Menpora, Kerumunan Hilangkan Identitas Asal

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu