Ilustrasi pelaku kejahatan, Foto: Pixabay.com

Jambret Harus Berkomplot, Ini Alasan Utamanya

Estimasi Baca:
Senin, 2 Jul 2018 06:05:40 WIB

Kriminologi.id - Penangkapan pelaku penjambretan terhadap Syarif Burhanuddin, Dirjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Jakarta Barat mengungkap keberadaan sindikat penjambret yang diklaim terbesar di Jakarta. Penjambretan yang dilakukan secara berkomplot menimbulkan beberapa alasan mulai dari profesionalitas hingga tingkat keamanan.

Frangky dan Agustia tersangka penjambretan tersebut ternyata anggota sindikat penjambret yang berada di bawah pimpinan M. Mereka sering ditemui berkumpul di lokasi permainan biliar yang disebut Tenda Orange di kawasan Teluk Gong, Jakarta Utara.

Pada banyak kasus pelaku kejahatan memiliki komplotannya sendiri misalnya pelaku pencurian rumah kosong ataupun begal motor. Berdasarkan berbagai sumber yang dihimpun Kriminologi.id ini beberapa alasan para pelaku kejahatan konvensional seperti pejambret kerap berkomplot dalam melakukan aksinya.

1. Profesional

Penelitian yang dilakukan Jamie Richard Yapp dalam naskahnya yang berjudul The Profiling of Robbery Offenders menyatakan pelaku kejahatan konvensional yang memiliki kelompok atau berkomplot menandakan mereka adalah pelaku kejahatan yang profesional.

Kata profesional yang dimaksudkan Yapp adalah orang-orang yang memang pekerjaan sehari-harinya adalah melakukan kejahatan tersebut. Selain itu mereka juga telah memahami profil para calon target kejahatannya dengan mudah karena sudah terbiasa.

Sekali bertindak mereka akan melakukan pekerjaannya dengan sangat efektif dan efisien, selain itu pekerjaan mereka lebih rapih jika dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan pelaku kejahatan perorangan.

2. Meningkatkan Percaya Diri

Pelaku kejahatan yang berkomplot atau berkelompok merasa percaya dirinya meningkat. Hal ini seperti yang disebutkan Haran dan Martin dalam bukunya yang berjudul The Armed Urban Bank Robber: A Profile. Dalam buku itu disebutkan, terbentuknya kelompok atau komplotan pelaku kejahatan mendorong terbentuknya rasa percaya diri bagi individu maupun komplotan tersebut dalam melakukan kejahatan.

Kepercayaan diri tersebut menyebabkan kelompok atau komplotan pelaku kejahatan tersebut berani beraksi pada siang hari maupun di tempat-tempat yang ramai.

3. Berbagi Peran

Menurut tulisan Jens David Ohlin dalam Journal of Criminal Law and Criminology menyatakan, pelaku kejahatan yang berkelompok akan membagi-bagi peran mereka sesuai dengan keahlian masing-masing. Ini dilakukan untuk memudahkan dan memperlancar tindak kejahatan yang mereka lakukan.

Tulisan Ohlin yang berjudul Group Think: The Law of Conspiracy and Collective Reason juga mengatakan sejak melakukan perencanaan untuk tindak kejahatannya seperti memilih lokasi, waktu, dan target korbannya para pelaku kejahatan sudah melakukannya sesuai dengan peran tersebut. Seringkali di antara mereka ada seseorang yang dianggap sebagai pemimpin yang akan membagi-bagi peran tersebut.

4. Lebih Aman

Pelaku kejahatan konvensional berkomplot dan berkelompok karena mereka merasa akan lebih aman jika melakukan tindak kejahatan tersebut secara bersama-sama. Sebab mereka merasaakan ada rekan-rekan yang saling melindungi ketika keadaan menjadi buruk bagi mereka.

Selain itu, karena adanya pembagian peran yang sesuai dengan keahlian masing-masing anggotanya, maka mereka merasa kemungkinan untuk tertangkap menjadi rendah.

Biasanya di antara anggota komplotan pelaku kejahatan terdapat kode etik di mana mereka tidak akan melibatkan anggota lainnya jika suatu saat dirinya terntangkap. Inilah kemudian yang menyebabkan para pelaku kejahatan yang berkelompok atau berkomplot merasa jadi lebih aman. AS

KOMENTAR
500/500