Para pelaku pembunuhan Alexander Ramos Favour Sihombing. Foto: Arief Pratama/Kriminologi.id

Kasus Alexander Sihombing, Pembunuhan Jadi Alat Pelaku Kejahatan

Estimasi Baca:
Rabu, 21 Mar 2018 11:11:16 WIB

Kriminologi.id - Pembunuhan yang dilakukan empat pelaku begal terhadap Alexander Sihombing, mahasiwa Telkom University Bandung yang ditemukan tewas pada Minggu, 11 Maret 2018 itu merupakan sarana atau alat mencapai tujuan dalam kejahatan harta benda. Tujuan utamanya adalah merampas motor dan benda lainnya, kata Pakar Kriminologi Universitas Indonesia, Prof Dr Muhammad Mustofa, MA, Rabu, 21 Maret 2018. 

Perlawanan yang dilakukan Alexander terhadap kompolotan begal yang memicu pelaku bernama Cecep Setiawan alias Oces (20) menusukkan senjata tajam ke Alexander hingga tewas. Hal serupa yang terjadi pada kasus pembacokan Raynaldi Kusheriadi, anak Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo oleh komplotan begal di Jalan Pertanian 3, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu, 11 Maret 2018. 

Aldi, panggilan akrab Raynaldi Kusheriadi mengalami luka 15 jahitan akibat bacokan senjata tajam komplotan begal yang sebelumnya telah memepet motor yang dikendarai Agiel Akhfaris untuk kedua kalinya. Pada sergapan pertama, Agiel bisa meloloskan diri dan tancap gas. Polisi masih memburu pelaku begal yang membacok Aldi. Sedangkan di kasus pembunuhan mahasiswa Telkom Bandung, polisi telah menangkap empat pelakunya. 

"Kejahatan harta benda itu selalu dengan kekerasan yang diperlukan agar kejahatan itu sukses. Penggunaan kekerasan hanya sebagai sarana, kalau (korban) melawan akan digunakan kekerasan. Jadi kekerasan bukan tujuan, melainkan alat," ujar Muhammad Mustofa kepada Kriminologi.id. 

Mahasiswa Telkom University Bandung, Alexander Sihombing meregang nyawa karena melakukan perlawanan kepada komplotan begal. Cecep, salah satu pelaku spontan melakukan penusukan ke dada korban hingga korban meregang nyawa akibat tusukan mematikan di bagian dada. 

Malam itu, Cecep berniat membegal korban bersama ketiga rekannya, yaitu Irfal (22), Hera Heryana (26), dan Cep Rudi (17). Cecep dan ketiga rekannya memepet korban yang sedang mengendarai motor di Jalan Radio, sekitar gerbang belakang kampus Telkom University yang saat itu dalam keadaan gelap. 

Namun korban yang merasa dalam bahaya berusaha melakukan perlawanan. Sayang perlawanan itu berjalan tak seimbang, karena korban berhadapan dengan empat orang pelaku.

Saat itu korban dipukul oleh dua orang. Namun korban masih saja melakukan perlawanan. Sialnya perlawanan korban pun membuat Cecep mengambil tindakan spontan menghentikan perlawanan korban dengan menusuk tubuh korban menggunakan pisau yang telah ia siapkan untuk aksi begalnya malam itu.

"Sempat dipepet pelaku di jalan. Namun korban melawan lalu terjadi perkelahian tak seimbang," kata Kasat Reskrim Polres Bandung AKP Firman Taufik di Mapolres Bandung, Selasa, 20 Maret 2018.

Hal serupa terjadi pada kasus Raynaldi Kusheriadi, anak kedua Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo. Aldi dibacok komplotan begal setelah memepet kedua kalinya di Jalan Pertanian 3, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. 

Komplotan begal itu berjumlah lima orang menunggangi dua motor. Dua orang naik motor Honda Scoopy dan tiga orang lainnya menumpang motor Honda Supra. Komplotan begal ini menyergap Agiel Akhfaris, yang mengendarai motor Yamaha NMAX hitam dengan Nopol B 4505 SCJ membonceng Aldi. Agiel dan Aldi mampu menghindar dari sergapan begal kali pertama. Namun hadangan keduanya, salah seorang pelaku begal ini tidak banyak cakap dan langsung mengayunkan senjata tajam ke pinggul Aldi. 

Kapolsek Metro Pasar Minggu, Kompol Harsono mengatakan, Aldi hendak pulang ke rumahnya diantar Agiel menggunakan sepeda motor. Alasannya, alat pengisi baterai handphone Aldi rusak sehingga putra Kapolrestabes Bandung itu memutuskan pulang ke rumah. Pada saat perjalanan pulang itu lah, lanjut Harsono, Aldi dibacok oleh segerombolan orang tidak dikenal. 

"Di situlah mereka kena. Bukan dibegal ya. Kalau dibegal ada barang yang diambil loh. Ini nggak ada barang yang diambil," ujar Harsono.

Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500