Kasus Baby J, Siksa Anak Bukan Jalan Akhir

Estimasi Baca :

Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi. Foto: Istimewa - Kriminologi.id
Psikolog UI Rose Mini Adi Prianto, Foto: Istimewa

Kriminologi.id - Psikolog Universitas Indonesia Rose Mini Adi Prianto menilai, Mariana Dangu tersangka penganiayaan terhadap anak kandungnya yang masih balita, pantas mendapat hukuman setimpal. Melalui video yang viral di media sosial, Mariana dilaporkan menganiaya anak kandungnya sendiri, Baby J., pada Maret 2017. Mariana berdalih dia kesal kepada sang suami, Otmar Daniel Adelsbeger, yang pergi ke Austria tanpa memberi nafkah kepada dia dan bayinya.

foto baby j

"Penyiksaan terhadap anak tidak boleh dianggap sebagai pilihan terakhir. Ibunya harus tetap dihukum sesuai perbuatan yang telah dia lakukan. Sebab, anak seusia Baby J. sudah punya rasa percaya pada orang lain. Tapi, kalau Baby J mengalami hal yang tidak baik dari orang yang terdekat dengannya, dia bisa tumbuh menjadi orang yang mistrust, atau orang yang tidak pernah percaya pada orang lain," kata Rose kepada Kriminologi, Senin, 16 Oktober 2017. 

Baca: Baby J Kini Aman di Safe House Polda Bali

Romi melanjutkan, memberikan hukuman yang layak bagi sang Ibu akan mampu memberikan pelajaran bahwa menganiaya anak tidak dapat dilakukan oleh siapapun untuk alasan apapun. Apalagi, kata Rose, dari penganiayaan terhadap Baby J, yang lahir pada 17 Agustus 2016 di Sumba, itu akan mempengaruhi proses pembentukan pribadi sang anak di kemudian hari, terutama pada sisi psikologisnya yang lain.

"Ia bisa tidak akan pernah merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Ia juga bisa merasa bahwa tidak ada orang yang pernah menyukai ia seutuhnya. Dan itu akan berpengaruh pada konsep diri dan self esteem atau harga dirinya kelak," ujar Rose menjelaskan. Selain itu, kata Rose, anak akan tumbuh menjadi apatis terhadap lingkungan sekitarnya. 

Baca: LPAI Dukung Pindahnya Baby J ke Safe House Polda Bali

Rose berpendapat, bila nantinya Mariana menjalani masa hukuman, maka anak balitanya sebaiknya diasuh oleh orang yang mampu melindungi dan memberikan kasih sayang penuh kepada bayinya yang malang. Orang tersebut, menurut ose, dapat berasal dari keluarga dekat.

Selain memberikan hukuman yang layak pada sang Ibu, Romi berharap agar Mariana juga harus mendapatkan bimbingan psikologis agar jiwanya pulih. Persepsi bahwa dia tidak boleh lepas dari tanggung jawabnya sebagai ibu dan bahwa apa yang telah dia lakukan itu salah, harus ditanamkan di dalam benak ibunya.  

"Pihak kepolisian harus mengetahui bahwa bagaimanapun ia tetap ibunya. Suatu saat ia akan ke luar dari penjara dan tetap menjadi ibu dari Baby J. Saya berharap, dia tidak hanya dihukum, tapi juga mendapatkan bimbingan dari psikolog. Dia juga harus diajarkan untuk mencari nafkah sendiri sehingga tidak tergantung lagi dengan suaminya itu," tutur Romi.

Baca: Korban Kekerasan Seksual di Jayapura Didominasi Anak-anak

Kini kasus penganiayaan terhadap Baby J mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Selasa, 10 Oktober 2017. Pada sidang perdana tersebut Jaksa Penuntut Umum membacakan dakwaan bahwa Mariana telah menganiaya anaknya sehingga Baby J. mengalami luka lebam dan memar di beberapa bagian tubuhnya.

Jaksa mendakwa Mariana dengan pasal 44 ayat 1 Undang-undang RI nomor 23 tahun 2014 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan pasal 76C jo pasal 80 ayat 1 Undang-undang RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Baca: Studi: Anak Korban Kekerasan Seksual Butuh Psikiater Saat Remaja

Pihak kepolisian sebelumnya menjerat Mariana dengan Pasal 44 ayat 1 Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pasal 80 ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman lima tahun penjara. YH | RZ

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Kasus Baby J, Siksa Anak Bukan Jalan Akhir

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu