Kasus Guru Aniaya Murid, Pengamat: Harus Ada Tes Perilaku Guru

Estimasi Baca :

Guru SMK Tangerang aniaya murid. Foto: Ist/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Guru SMK Tangerang aniaya murid. Foto: Ist/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan di SMK Gema Bangsa, Cisoka, Tangerang, Banten, dinilai sebagai satu bentuk lingkungan pendidikan yang belum ramah anak.

Pemerhati pendidikan Doni Koesoema mengatakan, lingkungan pendidikan saat ini belum ramah anak karena para guru yang mengajar masih memiliki konsep kekerasan dalam mendidik murid.

“Jadi harus ada tes perilaku bagi para guru. Perilaku-perilaku para guru dalam mengajar harus diuji, seperti apa psikologinya,” kata Doni melalui sambungan telepon kepada Krimiologi, 16 November 2017.

Menurut Doni, pihak sekolah dan pihak-pihak terkait harus mencari persoalan atas berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di sekolah itu.

“Harus selalu mengevaluasi persoalan-persoalan yang terjadi. Sebenarnya kekerasan itu terjadinya seperti apa. Kemudian memprogramnya dalam pendidikan,” kata Doni.

BACA: Video Guru Tendang Siswa, Korban Dikenal Sering Berkelahi

Doni menambahkan, saat ini sekolah ramah anak sudah banyak, namun dalam hal eksekusi belum maksimal. Hal itu, kata Doni terlihat dari masih banyak perilaku kekerasan yang menjadi budaya dan sistem di lingkungan pendidikan. 

“Semuanya dari cara berpikir, cara berperilaku. Baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat,” katanya.

Doni mencontohkan, jika seorang guru melakukan kekerasan lalu semua diam tentu tidak akan bisa terwujud sekolah ramah anak itu. Bahkan, kata dia, kalau guru melakukan kekerasan semua diam, berarti sekolah itu memperbolehkan kekerasan dalam mendidik para siswanya.

“Bahkan, perilaku yang menentang kekerasan justru akan dibully, jadi malah enggak mau ngomong. Jangan-jangan gurunya sendiri yang melakukan kekerasan,” katanya.

Sementara itu, gagasan sekolah ramah anak menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia harus menjadi keharusan. Pasalnya, sekolah merupakan tempat persemaian dari penanaman nilai.

Namun data International Center for Research on Women (ICRW) pada 2015 merilis data sebanyak 84 persen siswa di Indonesia mengaku pernah mengalami kekerasan di sekolah. 

United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) pada tahun yang sama juga merilis, sebanyak 50 persen anak mengaku pernah mengalami perundungan atau bullying di sekolah. 

BACA: Video Guru Tendang Siswa, Polisi: Anak Ini Trouble Maker

Sekolah ramah anak merupakan model sekolah yang memastikan setiap anak secara inklusif berada dalam lingkungan yang aman, nyaman secara fisik, sosial, psikis.

Selain itu dalam model sekolah tersebut anak dapat hidup tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai fase perkembangannya. Serta mendapatkan anak-anak didik mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Sebelumya, sebuah video yang memperlihatkan penganiayaan yang dilakukan oleh seorang guru kepada murid di SMK Gema Bangsa, menjadi viral di media sosial.

Dalam video itu terlihat, seorang murid berinisla MF tengah menjalankan hukuman push up oleh gurunya yang berinisial IH. Saat hendak kembali ke tempat duduknya, dia dipanggil lagi oleh guru tersebut untuk kembali ke depan kelas. 

Saat siswa tersebut sudah duduk di lantai di depan kelas, tempat ia disetrap, guru tersebut lalu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri murid tersebut.

Dengan menggunakan kaki kanan dia kemudian menendang kepala dan tubuh murid itu sebanyak dua kali, sampai murid itu jatuh terbaring. IH guru yang ada dalam video tersebut menurut pihak sekolah sudah dipecat.

Namun pemecatan itu disayangkan pihak sekolah, karena hanya guru tersebut yang bisa mengajar mata pelajaran teknik dan tidak ada guru pengganti lain. IH diketahui sudah 12 tahun mengajar di sekolah itu, dan selama itu kinerjanya bagus. AS

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Kasus Guru Aniaya Murid, Pengamat: Harus Ada Tes Perilaku Guru

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu