Ilustrasi polisi dipukul dengan helm. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Kasus Kombes Ekotrio Budhiniar, Sosiolog: Itu Sih Namanya Frustrasi

Estimasi Baca:
Selasa, 3 Jul 2018 14:45:45 WIB

Kriminologi.id - Penganiayaan yang dilakukan Kombes Pol Ekotrio Budhiniar terhadap anak buahnya dengan memukul kepala mereka pakai helm baja itu mencoreng lembaga pendidikan di Kepolisian.

Sosiolog menilai tindakan penganiayaan pimpinan terhadap bawahannya itu karena frustasi. Sebagai Kepala Pusat Pendidikan Administrasi (Pusdikmin) Lembaga Pendidikan Polri, Bandung, Jawa Barat seharusnya Ekotrio memberikan contoh bagaimana seharusnya penegak hukum menghadapi masalah. 

Demikian dikatakan Sosiolog dari Universitas Indonesia Hanny Warouw kepada Kriminologi.id, Selasa, 3 Juli 2018. Ia menjelaskan pelanggaran yang dilakukan Ekotrio berlipat-lipat, karena sebagai penegak hukum dan pimpinan melakukan penganiayaan di dalam lingkungan penegak hukum, khususnya pendidikan Polri. 

Akibat ulahnya tersebut, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian langsung mencopot Kombes Ekotrio sebagai Kapusdikmin Lemdikpol ke Mabes Polri. 

"Itu pelanggarannya berkali-lipat, karena dunia pendidikan Polri seharusnya bisa memberikan contoh bagaimana seharusnya penegak hukum menghadapi pelanggaran yang dilakukan anak buahnya. Bukan main fisik seperti itu," ujar Hanny Warouw. 

Hanny menambahkan seharusnya sebagai pimpinan Ekotrio bisa mengatasi kesalahan kecil yang dilakukan anak buahnya, kalau hanya sekadar mobil boks yang menjadi pemicu penganiayaan tersebut. 

Ekotrio, kata Hanny, bisa dengan cepat memanggil anak buahnya tersebut dan menunjukkan kesalahan yang dilakukan. Lalu, memberikan hukuman atas pelanggaran yang dilakukannya. 

"Apakah tindakan administratif atau hanya tidak disiplin saja anak buahnya. Tidak perlu memukul, kecuali sampai anak buahnya sampai menodongkan senjata," ujarnya. 

Hanny menegaskan, jika dilihat dari rekam jejak karier yang dirintis Ekotrio, yang lebih banyak mengemban tugas pembinaan karier polisi, ini sangat bertolak belakang dengan penganiayaan yang dilakukan terhadap tujuh anak buahnya itu. 

Latar belakang karier yang dilalui Ekotrio ini, kata Hanny, menjadi pertimbangan kuat kalau penganiayaan fisik yang dilakukan terhadap bawahannya itu lantaran frustasi. 

"Sepertinya dia (Ekotrio) frustasi akan kariernya sehingga post power syndrom," ujarnya. 

Saat ditanya apa dampaknya bagi anak-anaknya yang mengetahui pelanggaran yang dilakukan orang tuanya, Hannya menyatakan kemungkinan besar sang anak akan menyesalkan tindakan orang tuanya tersebut. 

Namun demikian, pengaruhnya terhadap anak itu relatif kecil dan tergantung pola asuh keluarganya. Hanny menyatakan, pola didik keluarga polisi era sekarang tidak terlalu seketat era orde baru. 

"Kalau anaknya kemungkinan menyayangkan tindakan orang tua tapi kalau soal berpengaruh atau tidak, semua tergantung pendidikan keluarga," ujarnya. 

Seperti diketahui Kombes Ekotrio Budhiniar menganiaya tujuh bawahannya pada Selasa, 26 Juni 2018. Emosi tak terkendali itu dilakukan Ekotrio saat mobilnya berpapasan dengan mobil boks di pintu masuk Pusdikmin Lemdikpol. 

Ekotrio marah-marah dan menganiaya 7 petugas piket hari itu dengan cara menggetokkan helm baja ke kepala anak buahnya tersebut. Tiga dari tujuh korban yang dianiaya itu berpangkat perwira pertama. 

Keduanya adalah AKP Ale Surya, Ipda Taryana dan Ipda Ade Hasan. Sedangkan sisanya adalah berpangkat Bintara, yakni Bripka Iim Permana, Brigadir Asep Ismanto, Penata I Joko Pitoyo dan Pengatur Agus Suherlan.

Reporter: Syahrul Munir
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500