Ilustrasi kekerasan anak. Foto: Pixabay.com

Kekerasan Anak Meningkat, Pakar: Butuh Gerakan Antisipasi dari Negara

Estimasi Baca:
Rabu, 25 Jul 2018 16:25:16 WIB

Kriminologi.id - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau Kemenpppa perlu bergerak untuk menekan angka kekerasan anak.

Gerak cepat negara untuk merespons angka kekerasan anak tersebut agar tidak melambung tinggi dengan merancang sistem, kata Peneliti Institue For Criminal Justice Reform atau ICJR, Maidina Rahmawati, kepada Kriminologi.id, Rabu, 25 Juli 2018. 

"Negara bertanggung jawab secara kebijakan, membangun sistem untuk mencegah dan menangani kekerasan anak itu sendiri. Simple deh, KPPPA punya data kekerasan terhadap anak, terus angka itu diapain. Apa tindak lanjut setelah itu?" ujarnya. 

Berdasarkan data Kemenppa hingga pertengahan tahun 2018, tercatat 3. 307 anak di seluruh Indonesia yang menjadi korban kekerasan sepanjang pertengahan tahun 2018. 

Provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama dengan jumlah 424 anak, disusul tetangganya Jawa Tengah dengan selisih 16 kasus lebih sedikit. 

DKI Jakarta adalah daerah yang paling sedikit kasusnya, yakni hanya 7 kasus, dan Papua menempati posisi kedua dari bawah dengan jumlah 12 kasus. 

Berbeda dengan data yang diluncurkan KPAI per 31 Mei 2018, sebanyak 1.885 anak yang menjadi korban kekerasan. Masih menurut data KPAI, tahun 2014 merupakan masa paling buruk bagi anak, mengingat angka anak korban kekerasan itu melonjak hingga 5.066 anak. 

Jumlah tersebut merupakan angka tertinggi. 

Maidina menjelaskan deretan angka tinggi ini bisa menjadi indikasi kekerasan itu meningkat atau masyarakat yang sudah mulai terbuka sehingga tidak lagi takut melaporkan ke pihak berwenang. 

Namun, kata Maidina, rentetan angka itu tidak otomatis disebut tinggi sebelum dibandingkan dengan jumlah anak di daerah tersebut.

Setelah mengetahui jumlah seluruh anak di wilayah itu, baru lah terlihat tinggi atau rendah tingkat kekerasan yang dialami si anak. 

"Harus diperhatikan lagi prevalensi nya bagaimana mas, dibandingkan dengan jumlah anaknya," ujarnya. 

Hal senada diutarakan Komisioner KPAI, Rita Pranawati, yang menyebutkan meningkatnya angka kekerasan anak itu bisa dilihat dari dua faktor. 

Pertama, keterbukaan dan keseriusan kepala daerah dalam menangani kasus kekerasan anak sehingga membuat korbannya lebih terbuka. 

Sisi lainnya, angka itu menunjukkan masih adanya kekerasan di masyarakat yang perlu disikapi secara menyeluruh.

Tentu saja, kata dia, antisipasnya dengan melakukan tindakan bersama-sama, baik pemerintah daerah, dinas terkait serta masyarakat.

Reporter: Syahrul Munir
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500