Ilustrasi kekerasan anak. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kekerasan Fisik pada Anak, Psikolog: Dampaknya Korban Sulit Cari Teman

Estimasi Baca:
Selasa, 22 Mei 2018 18:35:53 WIB

Kriminologi.id - Video kekerasan fisik yang dialami bocah laki-laki berinisial MS (10) di Desa Karang Dapo, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma, Bengkulu sempat viral di media sosial pada pertengahan Mei 2018.

Pelaku kekerasan tersebut adalah ibu kandung korban berinisial M (25) dan ayah tiri korban berinisial B (48). Dalam video tersebut, korban MS mengatakan ia tak berani pulang karena wajah dan dadanya dipukuli menggunakan ikat pinggang dan sepatu. 

Menurut psikolog, anak korban kekerasan fisik yang dilakukan oleh orang tuanya akan mengalami kesulitan dalam bergaul. Ia menjadi sulit percaya terhadap orang lain. 

Tindakan kekerasan terhadap MS bukan saja oleh sang Ibu, melainkan ayah tirinya, M, pun melakukan penganiayaan dengan cara memukul kepala menggunakan batu cincinnya kepada MS. 

Berdasarkan pengakuan MS, ia sering tidak makan karena kondisi ekonomi keluarga yang susah. Bahkan, korban kerap mencuci pakaian sendiri dan mengasuh adik yang masih kecil.

Penderitaan MS akibat penganiayaan oleh kedua orang tuanya itu diakui terjadi sejak berusia 3 tahun. Melihat peristiwa ini, psikolog klinis dari Universitas Tarumanegara Denrich Suryadi kepada Kriminologi.id mengatakan, dampak dari perlakuan kekerasan orang tua terhadap anaknya itu sangat besar dan kompleks. 

"Anak bisa jadi tidak sehat secara mental. Dia akan penuh dengan rasa takut, cemas, tidak percaya diri, trauma, dan merasa tidak berharga," kata Denrich pada Selasa, 21 Mei 2018 melalui sambungan teleponnya.

Biasanya, Denrich menjelaskan, perasaan tidak berharga itu yang terpendam dalam dirinya, lama kelamaan akan ditunjukkan dengan wajahnya yang murung, bahkan seorang anak jika diperlakukan seperti itu, bisa mengalami depresi di kemudian hari. 

Selain dampak tersebut, Denrich mengatakan, secara umum, seorang anak juga akan cenderung menyakiti diri sendiri dan tidak percaya pada orang lain.

"Tidak percaya pada orang lain itu, salah satunya karena ia mengasosiasikan vigur lain yang serupa dengan ibunya. Dia akan berpikir, apakah orang itu akan menyakiti saya lagi atau tidak," kata Denrich menambahkan.

Ia mengatakan, tak hanya dampak dari sisi psikologis saja, kekerasan fisik juga berdampak pada perkembangan intelektualnya. Ketika anak mulai tumbuh di usia remaja, kecerdasan anak akan terganggu.

Alasan terkuatnya, kata Denrich, karena sang anak tidak mempunyai waktu untuk mengembangkan sisi diri dia yang positif. 

"Sebab dia enggak punya waktu untuk mengembangkan dirinya. Dia tidak tahu apa kelebihan yang dia miliki, karena yang selalu digali darinya hanya hal-hal negatif saja," ujarnya.

Terkait dengan kekerasan yang dialami anak tersebut selama 7 tahun, Denrich kuatir jika suatu hari anak tersebut akan menjadi pelaku kekerasan. Sebab menurutnya, pelaku kekerasan biasanya berasal dari korban.

Ini bisa terjadi karena korban memiliki pola pikir yang salah. Apalagi, jika korban kekerasan itu adalah anak-anak. Kecenderungan anak untuk meniru sikap orang lain dapat membuatnya menjadi mungkin.

"Anak yang menjadi korban kekerasan, biasanya akan menjadi pelaku kekerasan itu sendiri. Ada perilaku anak yang meniru, dan ada pola pikir yang salah pada diri anak tersebut. Ia akan beranggapan kalau hidup itu hanya dipenuhi dengan kekerasan. Jadi menurutnya, misalkan kalau menganiaya orang lain dan menipu orang lain adalah hal yang biasa," kata Denrich menambahkan.

Denrich tak menampik jika seseorang mengalami kekerasan secara fisik, maka otomatis, dia juga akan menerima kekerasan verbal. Dampak dari kekerasan verbal sendiri, kata Denrich, membuat seseorang atau anak akan merasa kehilangan harga diri.

"Jika anak dimaki, maka akan tumbuh perasaan tidak berharga pada dirinya, dan ini bisa mengakibatkan ia marah ke dirinya sendiri, lalu ia depresi. Tapi, kalau ia hanya mengalami kekerasan verbal saja, kecenderungannya ia akan bersikap sarkas," kata Denrich.

Kini, MS telah ditangani secara terpadu, diantaranya oleh pekerja sosial Kementerian Sosial, Pemda Seluma, Dinas Kesehatan setempat. MS tinggal di rumah seorang pegawai Dinkes Seluma, di Sawah Lebar, Kota Bengkulu.

Ia diketahui menderita thalasemia dan masih mengalami trauma. Bahkan, MS juga takut bertemu orang baru, terlebih pada kaum ibu. Para pelaku kini telah ditetapkan sebagai tersangka.

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500