Kenali Dampak Kekerasan Seksual pada Anak

Estimasi Baca :

pixabay - Kriminologi.id
Ilustrasi foto: Pixabay

Kriminologi.id - Kasus kekerasan seksual yang menimpa tujuh anak sekolah dasar di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, harus mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. Musababnya, peristiwa kekerasan seksual yang menimpa mereka itu dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan para korban yang masih berusia anak-anak.

Psikolog Universitas Indonesia, Rose Mini Adi Prianto atau sering disapa Romi, menilai korban yang mengalami kekerasan seksual akan terpengaruh kejiwaannya pada masa tumbuh kembangnya. Apalagi, bila korban sudah duduk di kelas 5 SD, ia bisa merasakan reaksi tubuhnya karena ia sudah masuk pada fase remaja awal. 

"Bila anak-anak sudah pernah nonton video porno, mereka akan ketagihan untuk menonton itu," kata Romi kepada Kriminologi, Kamis, 19 Oktober 2017.  Ia menjelaskan, anak yang duduk di kelas 5 SD, sudah bisa merasakan saat tubuhnya bereaksi, misalnya bulu kuduk berdiri dan terangsang ketika melihat tayangan porno,"

Baca: Satu Bocah Korban Sodomi Santo Gagu Alami Depresi

Dengan stimulus terus menerus berupa tayangan video porno ditambah mengalami kekerasan seks, salah satunya berupa sodomi, psikologi anak akan rentan. Korban dapat ketergantungan untuk selalu ingin meliihat tayangan tersebut.

"Itu akan menjadi habit dia, sehingga ia merasa tidak bisa tidak harus melihat video itu. Bila itu sudah menjadi habit, maka dorongan seksualnya akan meningkat mulai detik itu," ujarnya.

Bila habit ini sudah terbentuk di dalam dirinya, kata Romi, korban, akan mencari orang lain agar dia dapat melampiaskan nafsunya. Korban, kata Romi, bisa menyasar ke adiknya, teman sebaya, ataupun teman sejenisnya. Kematangan psikologis yang belum dipunyai sang anak, akan membuatnya tidak berpikir panjang untuk berbuat sesuatu tanpa memikirkan akibatnya kelak.

Baca: 7 Anak SD Korban Sodomi di Bekasi, Pelakunya Santo

Selain itu, Romi melanjutkan, karena habit yang sudah terbentuk ini, anak akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya itu dengan berbagai cara. "Ia bisa memiliki dua kehidupan. Bisa saja di depan orang tuanya berpura-pura baik, namun di belakangnya, dia bersembunyi-sembunyi untuk menonton video porno itu," kata Romi.

Dampak yang dialami korban bisa lebih dari itu. Anak akan lebih mudah marah, gampang tersinggung, dan motivasi belajarnya menurun. Bahkan, korban anak juga ada kecenderungan untuk bisa menjadi LGBT.

Baca: 7 Anak Jadi Korban, Polisi Sulit Interogasi Pelaku Cabul Tambun

"Mungkin awalnya tidak merasa tidak nyaman, lama-lama dia takut untuk memberitahu ke orang tua, akhirnya dia merasa bisa menikmati hal itu. Nah, bila itu diteruskan, si anak atau korban itu, bisa menjadi LGBT suatu hari," kata Romi.

Maka, ia berharap, agar anak-anak sedini mungkin, dijauhkan dari ponsel yang memiliki fitur canggih. Menurut dia, anak seusia itu, belum memiliki kebutuhan besar untuk menggunakan telepon genggam seperti layaknya orang dewasa. Ia juga berharap, agar orang tua selalu memantau aktivitas anak, terlebih saat menggunakan gawai.

Selain itu, Romi juga menilai, pelaku kekerasan seksual yang menyasar ke anak-anak, seperti yang dilakukan oleh Santo, biasanya memanfaatkan ketidakmampuan anak untuk menjaga diri.

"Ada kemungkinan dia melakukan ini karena anak-anak enggak punya power. Selain itu, karena pelaku memiliki keterbatasan, jadi ada kemungkinan, saat  pelaku mendekati orang yang seumuran dengan dia, pelaku tidak dianggap oleh mereka," kata Romi.

Baca: Simak, Cara Bijak Hindarkan Anak dari Predator Seksual

Sementara itu, sejumlah peneliti yang tergabung dalam studi yang dilansir dari abc.net.au, Kamis, 12 Oktober 2017, mengatakan, korban pelecehan seksual pada anak-anak memerlukan lebih banyak bantuan untuk pemulihan, terutama selama masa remaja mereka. Penelitian itu melibatkan lebih dari 2.500 kasus pelecehan seksual anak di Victoria, AS, antara tahun 1964 hingga 1995.

Peneliti Margaret Cuttajar, seorang psikolog klinis dan forensik di Monash University mengatakan, penelitian ini merupakan salah satu yang terbesar dan memiliki peran penting. "Kami menemukan bahwa, menjadi korban pelecehan seksual pada anak-anak memang meningkatkan risikonya (menjadi pelaku)," katanya.

Peneliti lain mengatakan, temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa korban pelecehan seksual di masa kecil memerlukan lebih banyak bantuan dari psikolog, psikiater dan pekerja sosial, terutama selama masa remaja.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Ai Maryati Solihah mengungkapkan, selama 6 tahun sejak 2011 tercatat ada 9.266 kasus anak yang berhadapan dengan hukum atau ABH. Berdasarkan laporan yang masuk ke KPAI, kasus tertinggi dari jumlah itu adalah kekerasan seksual. Korban dari kasus ini terindikasi dapat menjadi pelaku baru. 

Anak sebagai pelaku kekerasan seksual pada 2016, kata Ai, ada 146 kasus. Sedangkan anak sebagai korban kekerasan seksual mencapai 192 kasus. Menurut Ai, data ini menandakan bahwa anak-anak sangat rawan dan rentan menjadi pelaku kejahatan. Kini korban kekerasan seksual tidak lagi didominasi oleh kaum perempuan tetapi juga anak laki-laki.

Jumlah kasus ABH pada 2012 tercatat ada 1.221 kasus, tahun 2013 sebanyak 1.428, lalu 2014 ada 2.208 kasus, 2015 sebanyak 1.221 kasus, dan 2016 tercatat 1.314 kasus. Pada tahun ini, hingga 3 April 2017 tercatat ada 191 kasus. Dari uraian data terkait ABH, menurut Ai, angka yang paling tinggi adalah pelaku dan korban dari tindak kekerasan seksual. YH | AS

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Kenali Dampak Kekerasan Seksual pada Anak

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu