Ilustrasi gangguan kejiwaan terhadap anak. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kerabat Atau Sahabat Pedofilia? Ini Yang Harus Anda Ketahui!

Estimasi Baca:
Minggu, 4 Feb 2018 20:20:08 WIB

Kriminologi.id - Pedofil kerap digunakan sebagai kata ganti untuk pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Sayangnya penggunaan kata ini tidak tepat. Pedofilia adalah salah satu gangguan kejiwaan dan tidak semua pelaku kejahatan seksual pada anak mengidap pedofilia

Psikiatri Universitas Indonesia, dr. Tara Aseana dalam acara Diskusi Publik dengan tema "Meluruskan Narasi Pedofilia dan Kejahatan Seksual Terhadap Anak" menjelaskan apa yang dimaksud pedofilia.

“Pedofilia itu suatu fantasi dorongan perilaku seksual terhadap anak usia pra pubertas atau dibawahnya. 13 tahun kebawah. Orientasi dan fantasi ini minimal dimiliki selama 6 bulan. Jadi kalo hanya sekali-sekali itu bukan pedofilia.” ujar dr.Tara

Baca: Waspada, 10 Kawasan Destinasi Wisata Rawan Eksploitasi Seks Anak

Selain itu, dr. Tara menambahkan bahwa orang yang mengidap pedofilia biasanya muncul distress terhadap lingkungan maupun interpersonal.Distress ini dapat digambarkan sebagai perseteruan yang terjadi di dalam diri karena orientasi seksual dan hasrat seksual yang muncul tidak lazim.

Infografik Mengenal Pedofilia. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Penyebab pedofilia belum diketahui secara pasti namun ada kemungkinan-kemungkinan yang diduga bisa menyebabkan pedofilia pada individu. Menurut penuturan dr. Tara terdapat beberapa teori yang digunakan untuk melihat penyebab munculnya pedofilia.

“Misalnya secara teori biologi ada neurotransmitter kita yang mempengaruhi sehingga orientasi seksual kita berbeda dibandingkan dengan orang sekitar. Kemudian ada faktor dinamik, faktor dinamik itu pola asuh orang tua sehingga menentukan bagaimana anak ini berkembang, dan ada teori prilaku. Karena perilaku orang-orang disekitarnya akhirnya dia bisa mengidap pedofilia” kata dr. Tara.

Selanjutnya, Prof. Dr. Nur Arif yang merupakan Neurobiologis menambahkan ada beberapa hal yang diduga juga menyebabkan munculnya gangguan kejiwaan pedofilia pada individu. Beberapa penyebab pedofilia itu antara lain Prenatal Androgen Exposure, Heritability Epigenetic Life Elements, Neurotransmiter Dysbalance, Functional Brain Alterations, Structural Brain Alterations. Selain itu jumlah pedofilian menurut Prof. Dr. Nur Arif adalah 3 persen dari jumlah laki-laki yang ada di seluruh dunia.

Baca: Cegah Kekerasan Anak, Ajarkan Mereka Berani Melapor

“Berapa sih persentase pedofilia di dunia? 3 persen dari laki-laki di dunia. Jadi bisa dibayangkan penduduk dunia itu ada berapa? Katanya 7 miliar ya. Nah itu 3%nya berapa tuh.” Ujar Prof. Dr. Nur Arif di Kampus FISIP UI Depok pada 30 Januari 2018.

Menurut ahli neurobiologis ini pedofilia juga memiliki perbedaan. Ada sebagian pedofilia yang memiliki keinginan untuk melakukan hubungan seksual dengan orang dewasa. Akan tetapi sebagian lagi tidak ingin melakukan hubungan seksual dengan orang dewasa dan hanya menginginkan hubungan seksual dengan anak-anak saja.

“Sebagian pedofilia ada juga yang ingin berhubungan seks dengan orang dewasa. Jadi tidak semata-mata pedofilia hanya mau sama anak-anak tetapi juga ada yang mau sama orang dewasa.” Kata Prof. Dr. Nur Arif

Sedangkan untuk penyembuhannya atau mengurangi gangguan-gangguan dan dorongan seksualnya terhadap anak-anak, penderita pedofilia dapat diterapi. Seperti yang disebutkan oleh dr. Tara ada 3 aspek yang diterapi untuk menyembuhkan ataupun meredam gangguan yang timbul.

“Penyebab gangguan jiwa itu secara garis besar ada 3 yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Biologi, psikologi, dan psiko-sosial. Nah ketiganya itu harus diterapi. “  ungkap dr. Tara

Baca: Tips Agar Anak Terhindar dari Kekerasan Seksual

Ketiga aspek tersebut berperan penting terhadap sembuh-tidaknya penderita pedofilia. Tidak konndusifnya satu aspek saja dapat menyebabkan tidak efektifnya terapi yang dilakukan oleh psikiater.

“Jadi kalo dalam hal pedofilia ini dari biologinya bisa kita kasih obat, tapi dari segi psikologi dan psiko-sosialnya kita tidak bisa terapi. Tentu ini akan berbeda hasilnya kalo ketiga aspek ini bisa diterapi. Misalnya, Orangnya bisa kita terapi, psikologinya bisa kita terapi tapi ternyata lingkungannya tidak mendukung. Masih dijauhi keluarganya misalnya, dia tidak akan sembuh kalo begitu.” kata dr. Tara

Oleh karena itu untuk mendukung kesembuhan penderita pedofilia dibutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitar penderita dan khususnya dukungan dari keluarga. Gangguan kejiwaan pedofilia selayaknya gangguan kejiwaan lainnya membutuhkan terapi yang tepat dan dukungan dari orang-orang terdekat. NL

KOMENTAR
500/500