Rizkia Madawiyah korban bunuh diri di Jatiranggon, Bekasi. Foto: Ist/Kriminologi.id

Komnas Perempuan: Ibu Muda Bunuh Diri di Bekasi Kasus Femicide

Estimasi Baca:
Selasa, 7 Ags 2018 19:30:28 WIB

Kriminologi.id - Bunuh diri yang dilakukan Razkia Madawiyah atau Kiki (18) di Jatiranggon, Bekasi, Jawa Barat diduga karena adanya kekerasan dari rekan terdekatnya, yakni sang suami.

Menurut Komisioner Komnas Perempuan Adriana Venny Aryani, kematian ibu rumah tangga berusia muda itu tergolong dalam femicide, yakni penghilangan nyawa yang berhubungan dengan identitas gendernya.

"Kalau ada kasus femicide, polisi harus identifikasi kasus ini dan tidak bisa (kasus ini) disamakan dengan kriminal murni, karena femicide ini dilakukan oleh pasangan dan angkanya tinggi di dunia," kata Adriana berbincang dengan Kriminologi.id, Selasa, 7 Agustus 2018.

Adriana mengatakan, kepolisian harus melakukan identifikasi secara lebih rinci mengapa korban sampai melakukan bunuh diri itu.

Menurut Adriana, peristiwa femicide merupakan puncak dari kekerasan terhadap perempuan yang berakhir pada hilangnya nyawa perempuan.

Adriana menambahkan, pada kasus bunuh diri yang dialami Kiki, termasuk pada femicide tidak langsung. Artinya, sebelum bunuh diri, korban mengalami depresi akibat kekerasan.

"Femicide ini ada yang secara langsung dan tidak langsung, yang langsung itu dibunuh kayak kasus dokter Letty, dan kalau tidak langsung, dia (korban) depresi karena mengalami kekerasan kemudian dia bunuh diri," kata Adriana.

Adriana menguraikan, dalam kasus Kiki ini, sebelum korban bunuh diri dengan cara gantung diri di rumahnya, diduga ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT dari suaminya. Kekerasan itu berupa fisik, psikis, dan ekonomi.

Menurut Adriana, kekerasan fisik yang dialami Kiki bisa terlihat dari seringnya korban menerima pukulan dari suaminya. 

Kekerasan psikis ditunjukkan suami yang melarang korban untuk bekerja mencari nafkah lantaran sang suami tipe pencemburu.

Sedangkan kekerasan ekonomi diterima korban karena pelaku tidak bisa menafkahi keluarganya. Padahal, kata Adriana, korban ingin membantu suaminya mencari nafkah keluarga.

Seperti diketahui, saat itu Kiki dalam keadaan tidak lagi bisa memberikan ASI kepada anaknya dan membutuhkan uang untuk membeli susu formula bagi sang anak.

Kiki diketahui sempat bekerja di SPBU, namun sang suami memintanya untuk berhenti. Sedangkan penghasilan suami sebagai petugas kebersihan tidak bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya. 

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/komnas-perempuan-adriana-venny-aryaniy-1533631179.jpg

Terkait keadaan Kiki itu, Adriana mengatakan bahwa seorang perempuan setelah melahirkan akan mengalami masa baby blues. Pada masa ini, mental perempuan akan labil dan dia akan merasa bahwa tidak sanggup mengasuh anaknya.

Sang ibu yang baru melahirkan juga mungkin berpikir bahwa ia bukanlah ibu yang baik. Kondisi inilah yang akan mengakibatkan perempuan mudah mengalami stres.

Menurut Adriana, pada kasus Kiki, beban itu ditambah dengan kondisi ekonomi yang tidak mencukupi dimana sang suami tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Pada masa-masa seperti itu, kata Adriana, seharusnya Kiki mendapat dukungan atau supporting system dari keluarga terdekat.

"Faktor seorang ibu yang menyusui dan ASI-nya enggak keluar itu penyebabnya dia stres dan depresi. Sebuah keluarga yang sangat paham psikologis seorang ibu yang baru melahirkan tahu bahwa ibu ini harus didampingi, diberikan supporting system. Itu bisa berasal dari suaminya, ibu mertuanya, atau ibu kandungnya. Semua harus turun tangan agar dia tidak stres dan depresi," kata Adriana.

Adriana juga menyoroti fakta bahwa Kiki menikah di usia dini yaitu masih di bawah umur yakni 16 tahun.

Kondisi ini menurutnya telah memicu terjadinya masalah baik itu menyangkut kesehatan perempuan maupun kondisi rumah tangga.

Pada usia itu, kata Adriana, mental perempuan belum matang dan reproduksinya juga belum terbentuk sempurna. Bila seorang perempuan melahirkan di bawah usia (matang), perempuan tersebut dapat terancam penyakit kanker leher rahim.

Pertimbangan lain adalah kondisi ekonominya pun juga belum mandiri.

Adriana mengatakan, berdasarkan data Komnas Perempuan, kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di ranah privat/personal tercata paling tinggi seperti tahun sebelumnya.

Komnas Perempuan mengungkap dari Data Pengadilan Agama (PA) sejumlah 335.062 kasus adalah kekerasan terhadap istri yang berujung pada perceraian.

Sementara dari 13.384 kasus yang masuk dari lembaga mitra pengadalayanan, kekerasan di ranah privat/personal tercatat 71% atau 9.609 kasus, ranah publik/ komunitas 3.528 kasus atau 26% dan ranah negara 247 kasus atau 1,8%.

Sedangkan data pengaduan yang langsung masuk ke Komnas Perempuan, kasus kekerasan pada perempuan yang terjadi di ranah privat atau personal menempati kasus yang paling banyak diadukan yaitu sebanyak 932 kasus atau 80 % kasus dari total 1.158 kasus yang masuk.

Catatan Tahunan Komnas Perempuan (CATAHU) 2018 menunjukkan, berdasarkan laporan kekerasan di ranah privat/personal yang diterima mitra pengadalayanan, terdapat angka kekerasan terhadap anak perempuan yang meningkat dan cukup besar yaitu sebanyak 2.227 kasus.

Sementara angka kekerasan terhadap istri tetap menempati peringkat pertama yakni 5.167 kasus, kemudian kekerasan dalam pacaran merupakan angka ketiga terbanyak setelah kekerasan terhadap anak yaitu 1.873 kasus. RZ

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500