Pakar Kriminologi UI, Prof Dr Muhammad Mustofa (14/02/2018). Foto: Ist/doctorjayabaya.ac.id

Kriminolog: Bunuh Sekeluarga di Tangerang, Ciri Lingkungan Telah Mati

Estimasi Baca:
Rabu, 14 Feb 2018 12:05:55 WIB

Kriminologi.id - Pakar Kriminologi Universitas Indonesia Prof Dr Muhammad Mustofa mengatakan, pembunuhan satu keluarga yang dilakukan orang terdekat hanya karena emosi menunjukkan kegagalan masyarakat setempat. Masyarakat sudah tidak lagi berfungsi dalam pengendalian sosial alias mati. 

Dua potret kekerasan yang terjadi di wilayah Bogor dan Kabupaten Tangerang dimana sang suami mencoba mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri setelah membunuh keluarganya sendiri. Pemicunya karena emosi sesaat.  

Adalah Muchtar Effendi alias Pendi, yang mencoba bunuh diri dengan melukai tangan dan lehernya. Perbuatan menyiksa diri sendiri itu dilakukan setelah membunuh istrinya Titin Suhemah alias Emma (40) dan kedua anak tirinya, Nova (19) dan Tiara (11).

Berbeda dengan Pendi yang gagal bunuh diri, di Bogor pelaku yang menghabisi orang tua dan suami baru mantan istrinya mengakhiri hidup dengan gantung diri. Tegar ditemukan warga menggantung di kandang cacing yang terletak tidak jauh dari rumah yang menjadi lokasi pembunuhan. 

Baca: Cemburu, Tegar Bunuh Orang Tua dan Suami Baru Mantan Istri  

"Ini menunjukkan semuanya tidak berfungsi. Orang tua, lingkungan, sekolah, pemerintah gagal dalam pengendalian sosial," ujarnya. 

Mustofa menambahkan, masyarakat gagal dalam persoalan sosialisasi nilai kekerasan. Menurutnya, kekerasan adalah kemampuan alamiah manusia yang harus dikendalikan dengan sosialisasi. 

"Masyarakat harusnnya mensosialisasikan nilai kekerasan. Kalau ini boleh dilakukan atau itu tidak boleh, harus dicontohkan," ujarnya. 

Selain masyarakat, pakar Kriminologi kelahiran Temanggung, Jawa Tengah itu juga menyebut pemerintah harusnya hadir dan ikut aktif dalam mensosialisasikan nilai kekerasan terhadap masyarakat. Sosialisasi itu, kata pakar Kriminologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu disajikan dengan cara yang menggembirakan dan menyenangkan sehingga mudah diterima masyarakat.

Baca: Cicilan Mobil Jadi Motif Pembunuhan Satu Keluarga di Tangerang

Hal ini perlu segera dilakukan sebagai counter derasnya nilai kekeraasan yang disajikan kepada masyarakat. 

"Sinetron banyak sekali menayangkan adegan karena kekuasaan bisa mengendalikan apa saja, sehingga kekerasan dianggap wajar. Di sini pemerintah harus mengcounter dengan sosialisasi nilai kekerasan," ujarnya. 

Begitu juga dengan unit Cyber Crime yang dimiliki Polisi, kata Mustofa, harus cekatan dalam mengontrol isu kekerasan yang membanjiri media sosial. Apalagi, memasuki tahun politik 2018, potensi kekerasan itu berpeluang dilakukan politikus menggunakan segala cara untuk memperoleh kekuasaan. 

"Cyber Crime harus muncul untuk meredam tindak kekerasan yang semakin marak di media sosial," ujarnya. 

Mustofa mengakui tidak mudah bagi Cyber Crime untuk memberantas praktek tindak kekerasan di media sosial. Apalagi menghadapi dalih kebebasan mengutarakan pendapat yang menjadi hak asasi manusia. "Kalau itu merugikan orang lain dan merusak tatanan sosial apakah bisa dibiarkan? Itu yang menjadi kendala terberat Cyber Crime," ujarnya. SM

KOMENTAR
500/500