Kriminolog: Miras Oplosan Tak Sebahaya Teroris dan Pembunuhan

Estimasi Baca :

Rilis kasus miras oplosan di Mapolres Jakarta Selatan. Foto: M. Adam Isnan/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Rilis kasus miras oplosan di Mapolres Jakarta Selatan. Foto: M. Adam Isnan/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Pencegahan peredaran Minuman keras (Miras) oplosan bukan prioritas bagi kepolisian karena tak sebahaya teroris atau pembunuhan. Sehingga, pencegahan miras dianggap kurang prestisius atau bergengsi di kalangan polisi, kata Ahli Kriminolog dari Universitas Indonesia Prof Muhammad Mustofa, Rabu, 11 April 2018.

Mustofa menambahkan pengawasan peredaran miras biasanya dilakukan polisi menjelang Bulan Suci Ramadan. Itu pun jenis kegiatan menyambut bulan puasa.

"Miras itu bukan kegiatan yang prestisisus karena tak sebahaya teroris atau pembunuhan," ujar Prof Muhammad Mustofa. 

Ilustrasi Miras

Mustofa menjelaskan, kematian akibat menenggak miras itu akibat ulahnya sendiri. Berbeda dengan teroris dan pembunuhan yang bisa membuat orang kehilangan nyawa. Pengkonsumsi miras itu biasanya adalah pekerja yang ingin melepas kepenatan di akhir pekan. Sehingga mereka mengkonsumsi alkohol. 

Terkait dengan miras oplosan, Mustofa menjelaskan, bahwa mengoplos ini dilakukan untuk menambah adrenalin pecinta alkohol. Pengoplos itu, kata Mustofa, mengetahui kalau yang dilakukannya itu beresiko. 

"Tapi karena ada unsur adrenalin sehingga dia terus melakukannya," ujarnya. 

Kriminolog UI

Mustofa langsung merespons dengan jawaban cepat saat ditanya adakah kesamaan gejala miras oplosan maut dengan penyerangan ulama oleh pelaku berperilaku seperti orang dengan gangguan jiwa? 

Ia mengatakan, gejala miras oplosan berbeda dengan penyerangan ulama. Alasannya, penikmat miras itu adalah para pekerja yang telah berpenghasilan. 

Soal kejadiannya serentak di hari Sabtu, Minggu, kata dia, hari itu merupakan momen para pekerja menikmati liburan dari rutinitas pekerjaannya. "Biasanya Jumat malam hingga akhir pekan itu waktunya pas para pekerja menikmati liburannya dengan minuman keras," ujarnya. 

Rilis kasus miras oplosan di Mapolres Jakarta Selatan

Meski menyebut tak ada kesamaan, Mustofa menjelaskan, polisi lalai dalam melakukan pengawasan peredaran minuman keras.

Peredaran miras itu ada larangan, dan tidak sembarangan warung bisa memasarkan miras tersebut. Akan tetapi, pemasaran gelap ini yang tidak pernah tersentuh.

"Ada larangan, dan tidak sembarang warung boleh jual miras.Tapi polisi tidak pernah melakukan razia sehingga itu yang memudahkan masyarakat mendapatkan miras," ujarnya.  MSA

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Kriminolog: Miras Oplosan Tak Sebahaya Teroris dan Pembunuhan

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu