AKBP Didik Novi, Foto:Istimewa/Kriminologi.id

Lone Wolf Terrorism: Serigala yang Lahir karena Media

Estimasi Baca:
Jumat, 6 Okt 2017 08:12:42 WIB

Kriminologi.id - Penembakan brutal yang terjadi pada 1 Oktober 2017 di Mandalay Bay, Las Vegas, Amerika Serikat, menelan sedikitnya 59 jiwa dan 500-an orang lainnya terluka. Serangan ini dilakukan bersamaan dengan gelaran konser musik yang dilakukan di ruang terbuka. Stephen Paddock menembaki kerumunan penonton dari lantai 38 Hotel Madalay Bay, Las Vegas.

Serangan ini dinyatakan sebagai aksi terorisme oleh Kepolisian Las Vegas. Aksi ini dikenal dengan lone wolf terrorism. Menurut International Centre for Counter-Terrorism, Lone Wolf adalah sebutan bagi seseorang yang menjalankan aksi terorisme seorang diri. Kelompok teroris memiliki jaringannya sendiri baik di dalam negeri ataupun di luar negeri, pelaku lone wolf diketahui tidak terafiliasi dengan kelompok jaringan teroris mana pun.

Baca: FBI: Tak Ada Kaitan Penembakan Brutal Las Vegas dengan Terorisme

Teroris diumpamakan kelompok serigala yang biasanya hidup secara berkelompok. Oleh karena itu, jika ada individu yang melakukan aksi terorisme sendirian diumpamakan sebagai serigala yang sendirian atau lone wolf.

Aksi terorisme berbentuk lone wolf juga terjadi di Indonesia. Bedasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme terdapat empat kali aksi lone wolf di Indonesia selama 2016-2017. Aksi-aksi tersebut adalah: teror bom Gereja Katolik di Medan, 28 Agustus 2016; teror penikaman tiga anggota polisi di Cikokol, Tengerang, 20 Oktober 2016; penyerangan polisi di Medan, 25 Juni 2017; dan penyerangan anggota Brimob di Masjid Falatehan, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 30 Juni 2017.

Baca: Polisi: Terduga Teroris Cirebon Berbaiat ke ISIS

Pelaku dari keempat aksi teror tersebut memang memiliki simbol-simbol yang diidentifikasi sebagai simbol paham radikal. Mereka mendapatkan pengaruh paham radikal itu justru dari media-media online dan media sosial.

Mereka mencari sendiri informasi-informasi tentang paham radikal dengan browsing-browsing dan kemudian membawa mereka ke situs yang menyebarkan paham radikal. Informasi awal yang mereka dapatkan itu akan mendorong mereka untuk mencari lagi melalui di media sosial. Sedangkan di media sosial, konten-konten radikal sangat mudah ditemukan. Bahkan grup simpatisan kelompok teroris juga ada di Facebook dan media sosial Telegram.

Baca: Infografik: Daftar Terduga Teroris yang Terpantau Densus

Trisha Dowerah dalam jurnal Effectiveness of Social Media as A Tool of  Communication and Its Potential for Technology Enabled Connections: A Micro-Level Study menyatakan bahwa media berperan sebagai medium informasi. Medium artinya alat untuk menyampaikan, sehingga media adalah alat menyampaikan informasi.

Informasi yang dimaksud di sini tidak terbatas, segala jenis informasi bisa disampaikan melalui media. Sedangkan menurut Edosomwan dalam jurnal The History of Social Media and Its Impact on Business menyebutkan media sosial tetap berperan sebagai medium informasi, namun media sosial memberikan peluang bagi setiap orang untuk memproduksi, menyajikan, menyebarkan, dan menerima informasi apa pun.

Baca: Daftar Ancaman Teroris, dari Mega Hingga Jokowi

Inilah kemudian yang menjadi masalah, tidak ada filter yang dapat digunakan untuk menyaring informasi. Sehingga tanggung jawab menyaring informasi terletak pada masing-masing individu. Oleh karena itu, seseorang bisa saja terpapar paham radikal karena informasi-informasi yang berasal dari media online maupun sosial media.

Boyle dalam jurnal Lone Wolf Terrorism and The Influence of The Internet in France menyatakan pelaku lone wolf ini mengimani satu ideologi politik atau agama yang sifatnya ekstrim, kemudian mendapatkan arahan dari pemimpin kelompok tersebut untuk melakukan aksi kekerasan tertentu secara luas. Walaupun pelaku mendapatkan perintah atau arahan tersebut tidak secara langsung dari pemimpin kelompok ekstrim, namun media online dan media sosial memfasilitasi itu sehingga pelaku Lone Wolf merasa seolah-olah mendapat petunjuk langsung dari pemimpin kelompok dan ini dianggap suatu kebanggaan.

Baca: Jelang Kedatangan Jokowi, Polisi Tangkap Terduga Teroris

Melihat aksi lone wolf terrorism di Indonesia, ditemukan seruan untuk berjihad menegakkan dengan apa pun yang mereka miliki saat ini. Para pelaku berusaha memenuhi seruan itu. Banyak alasan yang menyebabkan pelaku akhirnya memutuskan menjalankan teror seorang diri. Bisa saja sebagai bentuk eksistensi dirinya dalam kelompok-kelompok simpatisan paham radikal di media sosial atau karena merasa itu panggilan diri untuk menjalankan amalan yang diyakininya benar.

Lone wolf sendiri menjadi masalah terorisme yang sulit ditangani. Penyebabnya karena tindakan ini tidak terduga, penegak hukum tidak dapat membaca pergerakan aksi terorisme jenis ini. Sebab itu, pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan awareness masyarakat terhadap orang-orang di sekitarnya. Ketika ada oarng berperilaku tidak wajar dan mencurigakan sebaiknya segera melaporkan kepada penegak hukum.

Baca: Mantan Napi Terorisme Ungkap Strategi Penyebaran Radikalisme di Masjid

Selain itu, pencegahan dapat dilakukan dengan turut aktif mencegah penyebaran informasi-informasi dan konten radikal yang ada di situs-situs maupun media sosial. Cara terakhir tidak mudah, apalagi jika pihak penegak hukum saja yang berperan. Keterbatasan jumlah sumber daya manusia dan kemampuan anggota juga sangat berpengaruh. Sehingga peran masyarakat secara luas dibutuhkan untuk mencegah penyebaran paham radikalisme baik di media online maupun media sosial.

 

Catatan

Tulisan ini disarikan dari wawancara dengan Ajun Komisaris Besar Didik Novi R, pemerhati dan praktisi masalah terorisme di Indonesia. Saat ini Didik tergabung dalam Satuan Tugas Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terrorisme. Dia kini tengah menempuh program doktoral di Departemen Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

KOMENTAR
500/500