Ilustrasi Gantung diri. Foto: Pixabay

Mahasiswa Telkom Gantung Diri, Pakar: Tertekan Harapan Orang Tua

Estimasi Baca:
Selasa, 24 Jul 2018 06:05:15 WIB

Kriminologi.id - Aksi mahasiswa Telkom Bandung gantung diri di kamar kosnya dinilai tak bisa dikaitkan dengan dunia pendidikan. 

Jika membaca pesan terakhir dalam laptopnya, terlihat mahasiswa itu tertekan antara realita dan harapan orang tuanya, kata Pakar Pendidikan Prof Dr Edy Suandi Hamid, M.Ec kepada Kriminologi.id, Senin, 23 Juli 2018. 

"Dia berhadapan dengan realita dan harapan serta kebaikan orang tuanya, sehingga dia tertekan. Di satu sisi dia ingin membahagiakan orang tua, tapi dia tidak mampu," ujarnya. 

Adalah Agung Rahmansyah, mahasiswa Universitas Telkom, Bandung, Jawa Barat gantung diri di kamar kosnya, Jalan Sukabirus, Citeureup, Dayeuhkolot, Jumat, 20 Juli 2018. 

Rektor Universitas Islam Indonesia atau UII dua periode 2006 hingga 2014 ini mengatakan penyebab mahasiswa gantung diri itu akibat depresi karena masalah tertentu. 

"Ada depresi yang bisa membuat orang lupa. Beberapa kasus, orang sangat alim, agamis, ketika tertekan menerima beban berat ia tidak sanggup memilih jalan yang dikutuk oleh agama," ujarnya. 

Mantan anggota Komisi Khusus Kajian Staf Ekonomi Pancasila Dirjen Dikti Kemdikbud, itu menduga Agung menghadapi persoalan pendidikan hingga dirinya menyerah. 

Ketidakmampuan Agung dalam menyelesaikan masalah ini bisa karena banyak faktor. Namun, kemungkinan besar tekanan itu karena dirinya kesulitan menyelesaikan studinya. 

Hal ini mengacu pada keterangan sebelumnya yang menyebutkan kalau Agung sudah dua tahun tidak aktif kuliah.  

"Bisa saja problemnya karena dia kesulitan menyelesaikan studi, bisa saja bidangnya tidak cocok. Dia kuat ilmu sosial, tapi harus menghadapai persoalan matematika yang banyak hitung-itungannya," ujarnya. 

Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi dan Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tahun 2005 hingga 2015 ini juga menduga kalau Agung merupakan tipe orang tertutup. 

Hal ini tampak pada empat semester tak aktif kualiah namun lingkungan sekitarnya seperti yang tidak tahu. Edy justru berbalik bertanya apa saja yang dilakukan mahasiswa angkatan 2014 itu selama 2 tahun tak aktif kuliah.

Lalu, bagaimana mengatasinya? Edy memberikan solusi terhadap mahasiswa seperti itu butuh pihak ketiga sebagai tempat mencurahkan seluruh isi hatinya.

Seyogyanya, kata dia, kampus memiliki pojok psikologi atau psikiater yang menjadi tempat mahasiswa menyelesaikan masalahnya. 

Sarana psikologi itu, di sebagian besar kampus sudah tersedia, meskipun kata dia, keberadaannya belum berjalan maksimal. 

"Saya tidak tahu apakah di Universitas Telkom sudah ada atau belum. Walaupun mereka juga tak mau memanfaatkan keberadaan pojok psikolog itu. Harusnya lingkungannya yang aktif, dengan menyarankan mahasiswa memanfaatkan pojok psikolog tersebut," ujarnya. 

Agung meninggalkan surat wasiat di dalam laptopnya sebelum gantung diri. Dalam suratnya Agung meminta kepada ayah, ibu dan kakaknya. Agung merasa sudah tak sanggup lagi menjalani hidup karena hanya bisa membuat masalah. 

Dalam pengakuannya, Agung merasa tersesat dan tampak kehilangan arah. Tak hanya itu, ia juga kehilangan selera untuk hidup hingga akhirnya memilih jalan pintas dengan gantung diri.

Reporter: Syahrul Munir
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500