Marak Tawuran Pelajar, Ada Masalah Pola Asuh di Rumah dan Sekolah

Estimasi Baca :

Ilustrasi tawuran pelajar, Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi tawuran pelajar, Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Perkelahian antarpelajar kembali terjadi sepanjang pekan ini. Ada yang berkelompok, ada pula yang berduel satu lawan satu hingga berujung hilangnya nyawa. Pelajar yang semestinya masih memiliki masa depan yang panjang harus kehilangan nyawa sia-sia karena aksi perkelahian. 

Psikolog Verauli melihat hal ini sebagai fenomena yang mengkhawatirkan. "Ketika anak-anak justru menampilkan perilaku ke arah aksi-aksi yang melibatkan agresivitas melbatkan senjata tajam, apa yang sebenarnya terjadi?" kata Verauli dalam perbincangan dengan Kriminologi, Kamis 30 November 2017.   

Baca: Duel Siswa SMP di Bogor Tinggalkan Duka Untuk Seorang Buruh Cuci

Menggunakan kacamata psikologi klinis, Vera melihat anak-anak yang kerap berani atau terlibat dalam perkelahian adalah anak-anak yang sebelumnya punya masalah dalam mengelola emosional. 

Kenapa hal itu terjadi? Untuk mengetahui lebih jelas mengapa mereka memiliki masalah tersebut, menurut Vera, bisa diketahui dengan me-review apakah perilaku itu baru timbul saat sebelum terjadinya perkelahian, atau sudah ada sejak dulu jauh sebelum mereka berani berkelahi.

Vera mencontohkan bagaimana sikap mereka terhadap orang tua atau guru bisa menjadi contoh untuk mengetahui bagaimana seorang anak mengelola emosinya. Jika anak tersebut seringkali melakukan bantahan terhadap sesuatu yang dilarang, atau menolak melakukan sesuatu, hal itu bisa disebut sebagai gejala kurang bisa mengelola emosi. 

"Kalau bicara on set, mereka yang begitu itu sudah pernah tampilkan penentangan terhadap otoritas. Kenapa terjadi? Oh, itu berarti kemampuan kelola emosinya rendah," terang Vera.

Baca: Duel Murid SD Hingga Tewas, Keluarga Korban Tolak Autopsi

Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa anak bisa kesulitan mengelola emosinya? Menurut Vera, rendahnya kemampuan anak mengelola emosi bisa jadi karena ada masalah dalam pola pengasuhan anak tersebut baik di rumah maupun di sekolah. 

Vera menuturkan, ada beberapa anak yang memang mampu mengelola emosinya dengan baik. Namun ada anak yang terlahir dengan temperamen sukar diatur, emosional, dan sukar belajar. 

Anak dengan kondisi seperti yang kedua pada umumnya punya gangguan tumbuh-kembang yang menyebabkan mereka mengalami kesulitan dalam belajar. Karena itu penanganan yang tepat perlu diberikan kepada anak dengan kondisi seperti itu.

"Sebab kalau penanganan tidak tepat, baik itu di sekolah oleh guru ataupun di rumah oleh orang tua, maka mereka akan mencari tempat lain. Misal kumpul-kumpul dengan teman lalu tawuran," kata Vera yang mengaku telah belasan tahun menangani anak dan remaja yang bermasalah dengan kekerasan.

Karena itu, menurut Vera, perlu langkah yang tepat sejak dini untuk mencegah terjadinya kekerasan yang dilakukan anak sejak dini, bukan hanya setelah tragedi itu terjadi. "Pola pengasuhan perlu diperbaik. Tentunya sejak dini di rumah, dan juga di sekolah," katanya.

Vera menuturkan ada lima hal yang perlu diperhatikan juga untuk mengurangi terjadinya aksi kekerasan yang melibatkan pelajar saat ini.

Baca: Tawuran Remaja di Kaliabang Dipicu Saling Ejek di Facebook

Pertama adalah mengetahui profil anak berisiko sejak dini. "Misalkan mereka temperamen, gangguan konsentrasi belajar, kematangan mengelola emosi rendah, maka ini perlu penanganan khusus sejak dini," kata Vera. Hal itu perlu dilakukan agar tidak menjadi faktor pendorong mereka melakukan kekerasan saat masuk bangku sekolah.

Kedua adalah pola pengasuhan orang tua terhadap anak. Orang tua mesti tepat memberikan pola pengasuhan kepada anak. Terutama jika memiliki anak yang sejak dini memperlihatkan gejala seperti kondisi di atas yaitu kurang bisa mengelola emosi, maka diperlukan pola pengasuhan yang tepat.

Ketiga adalah sekolah harus bisa memberikan lingkungan pembelajaran yang tepat dan tidak membiarkan seorang anak dalam waktu belajar melakukan tindakan kekerasan.

Keempat adalah komunitas. Seringkali komunitas atau lingkungan dimana anak itu terlibat kurang bisa memberi pengaruh yang baik. Komunitas seperti ini memang perlu dihindari dan diingatkan kepada anak untuk dijauhi.

Kelima adalah pemerintah harus lebih mengawasi pelajar yang berada di luar sekolahan saat jam belajar. RZ

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Marak Tawuran Pelajar, Ada Masalah Pola Asuh di Rumah dan Sekolah

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu