Marak Tawuran Pelajar, Sosiolog: Cuma Ajang Gagah-gagahan!

Estimasi Baca :

Foto: Istimewa - Kriminologi.id
Foto: Istimewa

Kriminologi.id - Seorang remaja bernama M Ridwan alias Bule meregang nyawa setelah terlibat tawuran antar remaja di di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu 19 November 2017. Bule tewas oleh luka serius di bagian leher, badan, dan perut.

Polisi yang menyelidiki kejadian itu kemudian meringkus 9 remaja, diduga sebagai aktor utama. Dua remaja ditembak lantaran mencoba kabur saat akan diringkus.

Tawuran antar remaja bukan hal baru di wilayah Jabodetabek. Teranyar adalah kasus tewasnya Hilarius Christian Event Raharjo usai tarung bebas ala gladiator di Taman Palupuh Bogor, Jumat, 29 Januari 2016 lalu.

Pemicu tawuran juga kerap karena hal sepele. Seperti kejadian di Cengkareng, sebelum tawuran para pemuda dalam dua kelompok ini terlibat saling ejek dan kemudian berlanjut di pesan WhatsApp. Hingga akhirnya janjian di lokasi yang telah ditentukan.

Baca: Cerita Warga Usir Tawuran Remaja Sebelum Ridwan Tewas

Tawuran Pelajar

Sosilog Universitas Indonesia, Musni Umar menilai tawuran antarpelajar adalah bentuk gagah-gagahan remaja dalam masa peralihan.

"Saya rasa mau apapun namanya kalau tawuran itu faktor utamanya adalah ajang gagah-gagahan. Gejolak peralihan karakter pembuktian bahwa meraka udah gede, itu aja sih," kata Musni ketika dihubungi Kriminologi di Jakarta, Sabtu, 25 November 2017.

Selain gejolak jiwa muda, kata Musni, faktor yang tak kalah pentingnya adalah kurangnya waktu bermain para remaja. Aktivitas sekolah yang padat dan minim waktu bermain membuat mereka kerap terjebak dalam pergaulan yang salah.

"Faktor lain mereka kurang main. Mereka seolah butuh penyaluran lain. Misal ajang duel. Mau itu tawuran atau ajang gladiator seperti peristiwa pelajar di Bogor itu," katanya.

Baca: Bawa Pedang dan Obat Penenang, Remaja Hendak Tawuran Ditangkap

Media sosial juga bisa menjadi penyebab tawuran, kata Musni. Remaja terlibat tawuran biar terkenal di antara kalangannya. "Apalagi melihat tuntutan media sosial yang salah. Mereka pikir aksi tawuran bisa membuat mereka terkenal denga mudah," ujarnya.

Menurut Musni, peran keluarga dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam pembentukan karakter remaja. Seorang remaja dapat bertumbuh dengan baik dalam keluarga yang memperhatikan perkembangan anaknya. Remaja bisa belajar dari masyarakat tentang apa yang baik dan tidak baik.

"Pelajar itu saya rasa masih fragile (lemah). Masih rapuh makanya butuh bimbingan. Dibimbing orang terlalu fanatik agama misalnya bisa jadi teroris. Dibimbing orang ke olahraga bisa melatih sikap suportif. Tapi kalau dibimbingnya salah, dia bisa menunjukkan sikap sombong atau salah-salah menuntaskan masalah dengan kekerasan," ujarnya.

Baca: Kronologi Tawuran Hingga Indra Jadi Korban Salah Tangkap Polisi

Hanya saja, kata Musni, orang tua kerap kurang menyadari hal ini. Komunikasi yang kurang terbina dengan baik membuat mereka seolah tidak mengalami kasih sayang dari orang tuanya. Orang tua yang sibuk dengan gadget membuat anak lari mencari kenyamanan yang semu di media sosial, atau bergabung dalam lingkungan pergaulan yang kurang sehat.

"Ada istilah orang tua 'zaman now' lebih suka protect anak lewat media sosial. Secara langsung cuek ya susah. Komunikasi jadi hal penting untuk pelajar tidak tawuran. Perasaan dicintai akan membentuk pribadi anak dan remaja penuh cinta kasih," katanya. MG

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Marak Tawuran Pelajar, Sosiolog: Cuma Ajang Gagah-gagahan!

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu