Ilustrasi kapal tenggelam. Ilustrasi: Kriminologi.id

Melihat Kapal Tenggelam Sebagai Sebuah Bencana yang Disengaja

Estimasi Baca:
Minggu, 1 Jul 2018 09:05:35 WIB

Kriminologi.id - Peristiwa kapal tenggelam belakangan menyita perhatian masyarakat. Dua kapal motor tenggelam dalam jangka waktu yang relatif dekat di momen mudik lebaran. Tercatat puluhan penumpang tewas dan ratusan lainnya hilang. Peristiwa tersebut menambah panjang catatan buruk transportasi laut di Indonesia.

Peristiwa yang terakhir yang menyita perhatian adalah tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba pada Senin, 18 Juni 2018. Jumlah korban selamat 18 orang dan korban tewas 8 orang. Adapun dari peristiwa tersebut total laporan kehilangan berjumlah 189 orang.

Faktor alam, seperti pengaruh cuaca buruk angin kencang dan ombak yang besar sering kali diklaim menjadi penyebab utama dari berbagai peristiwa kapal tenggelam. Namun demikian, tanpa mengesampingkan faktor alam tersebut, terdapat faktor lainnya yang mengisyaratkan bahwa peristiwa kapal tenggelam bisa dilihat sebagai sebuah bencana yang disengaja atau disaster by design, dalam arti bencana tersebut sebenarnya bisa diprediksi dari pemicu sebelumnya.

Kriminolog Penny Green, dalam jurnalnya berjudul Disaster by Design: Coruption, Construction and Catastrophe, menganalisa bencana sebagai hasil langsung dari berbagai keputusan dan tindakan yang menyimpang dari para stakeholder.

Dalam jurnal tersebut, ditegaskan bahwa bencana yang dialami oleh manusia bisa dikatakan salah satunya disebabkan oleh kelalaian dari pihak-pihak terkait, dari tingkatan individu hingga kelompok.

Green melihat sebuah bencana sebagai bentuk pelanggaran atas hak asasi manusia, mengingat banyaknya individu yang dirugikan karenanya. Oleh karena itu, kelalaian besar yang menyebabkan bencana perlu ditanggapi secara serius. 

Pandangan Green mengenai disaster by design ini dapat digunakan dalam melihat peristiwa kapal tenggelam yang terjadi belakangan ini. Peristiwa kapal tenggelam disadari sebagai hasil akumulasi dari kesalahan dan kelalaian yang bertumpuk.

Dari riset yang dilakukan Kriminologi.id dalam mencari penyebab utama kecelakaan transportasi laut juga menunjukkan bahwa faktor kelalaian manusia memang menjadi penyebab yang paling signifikan.

Dalam kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun, misalnya, peristiwa kelam itu sebenarnya bisa saja dicegah untuk terjadi. Namun, pembiaran terhadap serangkaian kelalaian yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait membuat bencana tak dapat terhindarkan. Akibatnya, korban jiwa pun berjatuhan.

Seperti yang diketahui, Kepolisian Daerah Sumatera Utara telah menetapkan empat tersangka dalam persitiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba. Hasil penyelidikan menyebutkan ada kelalaian dari tersangka sehingga menyebabkan bencana tersebut terjadi.

Selain nakhoda kapal berinisial KSS, tiga tersangka berikutnya ialah RS selaku Kepala Bidang Angkutan Sungai dan Danau Perairan, KS selaku honorer Dinas Perhubungan Samosir dan anggota Kapos Pelabuhan Simanindo dan GFP selaku Kepala Pos Pelabuhan Simanindo.

Serangkaian kelalaian yang ada dalam kasus KM Sinar Bangun antara lain, pembiaran terhadap jumlah penumpang yang melebihi kapasitas kapal; selain mengangkut penumpang dengan jumlah berlebih hingga ratusan, beban kapal ditambah lagi dengan adanya puluhan sepeda motor yang juga diangkut.

Langkah yang diambil oleh nahkoda kapal tersebut jelas sangat berisiko tinggi untuk aspek keamanan penumpang. Selain itu, aspek keamanan di kapal pun ternyata sangat minim, seperti sedikitnya jumlah jaket pelampung untuk kedaaan darurat.

Lebih jauh lagi, KM Sinar Bangun juga diketahui berlayar tanpa izin, kapal tidak laik jalan, dan dioperasikan tanpa memenuhi persyaratan keselamatan dan keamanan. AS

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500