Ilustrasi : Kejahatan dunia maya Foto: Pixabay

Mengantisipasi Ancaman Siber di Kawasan Samudera Hindia

Estimasi Baca:
Jumat, 20 Okt 2017 18:32:41 WIB

Kriminologi.id - Perhelatan Internasional Indian Ocean Dialogue 2017 baru saja digelar oleh Indian Ocean Rim Association atau IORA. IORA adalah organisasi internasional yang terdiri atas negara-negara pesisir yang berbatasan langsung dengan kawasan sekitar Samudera Hindia, termasuk Indonesia.

IORA adalah forum regional yang bersifat tripartit untuk menghimpun perwakilan dari negara, bisnis, dan akademia. Tujuannya, mempromosikan kerja sama dan interaksi erat di antara mereka. Selain diwakili para akademikus dan praktisi terkait, turut hadir pula Kementerian Luar Negeri sebagai perwakilan pemerintah.

Saya sendiri diundang sebagai pembicara dalam Indian Ocean Dialogue 2017 yang digelar di Abu Dhabi itu. Di forum tersebut, saya berbicara tentang kerja sama internasional dalam memperkuat keamaan siber di wilayah Samudera Hindia.

Karakteristik Samudera Hindia memang masih menyisakan banyak pekerjaan rumah, terutama dalam hal keamanan regional. Potensi konflik antarnegara dan ancaman dari pihak luar masih cukup besar di kawasan yang dihuni negara-negara Asia dan Afrika ini. Ancaman konflik terhadap negara-negara di kawasan Samudra Hindia ini dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari konflik sektarian, perebutan sumber daya alam, terorisme, geopolitik kawasan, hingga ancaman perompakan yang terjadi menahun.

Stabilitas keamanaan di negara-negara dekat Samudera Hindia juga belum usai. Perang yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia hingga menimbulkan gelombang pengungsi merupakan tragedi yang masih berlangsung hingga kini. Namun, ancaman konflik berupa fisik ternyata juga diikuti ancaman lain yang tidak kalah mengerikan, yakni ancaman keamanan siber.

Kasus teranyar adalah konflik serius antara beberapa negara teluk yang dimotori Arab Saudi dengan negara teluk lainnya Qatar, yakni isu terjadinya peretasan kantor berita Qatar News Agency. Konflik antara beberapa negara Teluk dan Qatar ini menjadi bukti jika ancaman keamanan siber kemudian berubah menjadi konflik regional yang hingga kini belum mereda.

Belum lagi bicara kasus perompakan di Samudra Hindia. Beberapa anak buah kapal atau ABK warga negara Indonesia pernah turut menjadi korban perompakan di lepas laut Samudra Hindia. Perompak ini diketahui menguasai teknologi. Mereka memiliki pemimdai radio yang bisa memonitor percakapan antarkapal yang melintas.

Perompak ini juga tidak bekerja sendiri. Ada pihak-pihak yang ternyata membantu menyuplai informasi. Pihak-pihak ini pun mengerti teknologi, bahkan peretasan pun bisa dilakukan oleh mereka bila memang diperlukan data penting yang tidak dimuat bebas di Internet.

Kasus terorisme juga menjadi ancaman negara-negara di kawasan Samudera Hindia. Jaringan terorisme internasional menggunakan internet dalam melakukan berbagai aksinya. Jika dilihat dari polanya, Internet dimanfaatkan oleh grup teroris internasional untuk berbagai tujuan.

Pertama, penanaman paham radikal dan rekrutmen. Kedua, propaganda dan pendanaan yang dikirim lintas negara. Terakhir, pelatihan dan perencanaan aksi.

Tiga ancaman ini menjadi bukti jika keamanan siber di negara-negara kawasan Samudera Hindia masih perlu ditingkatkan. Standar keamanan siber yang masih belum tercapai dengan baik memudahkan adanya aksi spionase, perusakan, dan pencurian informasi.

Bangun Kekuatan Siber Indian Ocean Dialogue 2017 menjadi ajang strategis untuk menguatkan kerja sama internasional guna membangun kekuatan siber bersama-sama. Potensi konflik yang sudah besar ini akan bertambah besar bila negara-negara di kawasan Samudra Hindia tak menyamakan persepsi tentang pentingnya keamanan siber.

Setiap negara perlu mempunyai badan siber dan pusat pengoperasiannya, yakni bisa berupa security operation center atau SOC yang berfungsi mendeteksi, menganalisis, dan memperkuat pertahanan siber setiap negara. Adapun di Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara atau BSSN baru terbentuk pada 2017.

Jika setiap negara sudah memiliki SOC, kerja sama internasional bisa dijalin. Negara-negara yang memiliki SOC bisa membangun sistem peringatan dini early warning system bersama. Bila ada serangan siber di satu negara, negara lain bisa langsung waspada, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk turut membantu.

Serangan global Ransomware Wannacry beberapa waktu lalu membuktikan jika setiap negara tidak bisa berdiri sendiri menghadapi sebuah serangan siber global. Kerja sama antarnegara dalam keamanan siber adalah sebuah keniscayaan, meski setiap negara memiliki kepentingan.

Oleh karena itu, komunikasi antarnegara dalam kerja sama keamanan siber juga harus dibahas dan ditentukan, apa saja yang boleh dan tidak boleh dibagi.

Sebagai gambaran, kerja sama informasi keamanan siber bisa dilakukan untuk mendeteksi, menganalisis, dan mencegah serangan siber yang terjadi. Jika sistem SOC antarnegara terkoneksi, sebuah informasi serangan dalam sistem akan dengan cepat dibagikan ke setiap negara. Hal ini sebagai antisipasi mitigasi serangan.

Deteksi ini memungkinkan untuk setiap negara mengambil tindakan pengamanan secara dini terhadap serangan. Bahkan, bukan tidak mungkin jika kerja sama dilakukan dengan cukup baik, tindakan pengamanan dari sebuah negara otomatis juga mengamankan aset milik negara lain yang terkoneksi. Upaya ini tentu harus seizin otoritas negara yang bersangkutan.

Kerja sama keamanan siber oleh negara-negara anggota IORA memiliki beberapa aspek strategis. Kerja sama ini bisa mewujudkan peningkatan kemampuan keamanan siber masing-masing negara dengan pelatihan bersama. Kerja sama keamanan siber juga bisa menjadi Centre for Security Certification, Research and Development yang berguna menyamakan persepsi dan kemampuan setiap negara dalam menghadapi ancaman siber.

Pusat keamaan siber kawasan juga memiliki fungsi strategis sebagai global response centre jika pada masa depan muncul kembali serangan siber yang memiliki dampak luas. Meski demikian, tentunya setelah didahului dengan cyber threat infomation sharing oleh masing-masing SOC. 

Salah satu kunci keamanan siber adalah enkripsi. Lewat enkripsi, celah pihak luar mengeksploitasi sebuah data akan menyempit. Ancaman peretasan, perompakan, dan terorisme bisa diminimalisir dengan tindakan enkripsi. Kerja sama keamanan siber juga harus menjadi pusat enkripsi kawasan.

Indian Ocean Dialogue 2017 adalah modal awal untuk menjajaki kerja sama dalam keamanan siber di kawasan Samudera Hindia. Prioritas utama tentu saja setiap negara mengamankan aset-aset strategis miliknya dengan sebuah pengamanan siber yang terintegrasi dalam bentuk SOC. Lantas untuk mendeteksi ancaman yang masih cukup besar di kawasan, kerja sama antarnegara di wilayah Samudera Hindia sesegera mungkin harus diwujudkan.

Saatnya meluaskan pandangan tentang ancaman teritorial yang tidak hanya berupa serangan fisik, tetapi juga serangan siber yang bisa mengguncang stabilitas di kawasan Samudra Hindia. Memperkuat barisan dengan menjalin kerja sama regional adalah salah satu cara untuk meminimalkan kerusakan yang disebabkan kejahatan siber.

 

*Sangkalan

Tulisan ini dilansir dari Antara. Ditulis oleh Dr. Pratama Persadha, pegiat keamanan siber. Kini aktif sebagai Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber Communication and Information System Secuirty Research Center atau CISSReC.

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Bobby Chandra
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500