Ilustrasi penembakan, Foto: Pixabay.com

Mengenal Karakter Pembunuh Bayaran, Rumah Jadi Tempat Favorit Eksekusi

Estimasi Baca:
Rabu, 1 Ags 2018 07:35:24 WIB

Kriminologi.id - Herdi Sibolga ditemukan tewas dengan luka tembakan di kepala dan dadanya pada 20 Juli 2018. Herdi ditembak di dekat rumahnya. Sebuah penelitian mengungkap tempat eksekusi favorit pembunuh bayaran adalah rumah dan sekitar rumah korban.

Hasil penyelidikan dan penyidikan polisi terhadap pelaku penembakan terhadap Herdi adalah kelompok pembunuh bayaran. Pelaku dijanjikan bayaran senilai Rp 400 juta jika berhasil melakukan eksekusi terhadap Herdi.

Polisi telah menangkap empat pelaku yang memiliki peran masing-masing saat eksekusi. Pelaku PWT dan SM misalnya, berperan mengawasi daerah sekitar saat eksekusi dilakukan. Sedangkan pelaku JS berperan mempelajari keseharian korban dan membonceng AS sebagai eksekutor. AS yang menjadi eksekutor ternyata pecatan anggota TNI AL.

Hingga saat ini, polisi masih memburu otak pembunuhan Herdi dan juga masih mendalami motif pembunuhan tersebut.

Penelitian yang dilakukan Universitas Cape Town, di Afrika Selatan sejak 2000 hingga 2017 mengungkap setidaknya ada empat motif pembunuhan yang dilakukan dengan menggunakan jasa pembunuh bayaran.

Pertama adalah motif politik. Beberapa tokoh politik dan aktivis di Afrika Selatan tewas di tangan pembunuh bayaran. Berdasarkan catatan kepolisian setempat, hampir 30 orang dengan latar belakang politik yang kuat tewas dibunuh pembunuh bayaran.

Motif kedua adalah keterlibatan dengan kelompok organisasi kriminal. Persaingan bisnis ilegal antar kelompok organisasi kriminal dapat menjadi motif utama untuk saling membunuh anggota kelompok kriminal yang menjadi rivalnya.

Motif ketiga adalah masalah personal. Orang yang menyewa jasa pembunuh bayaran juga bisa disebabkan karena masalah personal. Misalnya suami yang menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh istrinya karena telah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.

Sedangkan motif terakhir adalah persaingan usaha. Usaha transportasi taxi di Afrika Selatan merupakan usaha dengan persaiangan yang keras. Para penyedia layanan taxi tidak segan-segan menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi orang-orang yang dianggap rivalnya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam tulisan The Rule of The Gun: Hits and Assassinations in South Africa January 2000 to December 2017 mengungkap, 86 persen korban pembunuh bayaran adalah laki-laki, 7 persen perempuan, dan 7 persen lainnya tidak diketahui secara jelas jenis kelamin korbannya.

Selain itu, pembunuhan yang dilakukan pembunuh bayaran 83 persennya menggunakan senjata api dan sisanya 17 persen membunuh korbannya dengan racun, menggunakan senjata tajam seperti pisau, menggunakan benda tumpul untuk memukul hingga tewas, dan bahkan menabrak korbannya dengan kendaraan bermotor.

Seperti lokasi eksekusi Herdi, penelitian tersebut juga mengungkap tempat eksekusi favorit para pembunuh bayaran adalah rumah dan sekitar rumah korbannya. Sebanyak 63 persen aksi pembunuh bayaran dilakukan di rumah ataupun lingkungan sekitar rumah korbannya. Sedangkan 26 persen eksekusi dilakukan saat korbannya sedang berkendara dan 11 persen eksekusi dilakukan di tempat umum seperti kantor korban, sekolah, ataupun pusat perbelanjaan.

Selain penelitian Universitas Cape Town, tulisan Liam Brolan dkk yang berjudul The British Hitman: 1974-2013 juga tidak kalah menarik. Berdasarkan tulisan tersebut, usia rata-rata para pembunuh bayaran adalah 38 tahun.

Tulisan yang juga dipublikasikan dalam jurnal The Howard Journal of Criminal Justice Volume 35 menyebutkan, ada empat tipe pembunuh bayaran yaitu The Novice, The Dilettante, The Journeyman, dan The Master.

The Novice adalah tingkatan pembunuh bayaran yang paling dasar atau sering disebut sebagai pemula. Seringkali mereka baru melakukan pembunuhan untuk pertama kalinya. Seperti yang terjadi pada Santre Sanchez yang masih berusia 16 tahun menjadi pembunuh bayaran pada 2010 dengan imbalan uang 200 Euro atau sekitar Rp 4 juta (kurs Rp 13.000). Sanchez tertangkap karena membual tentang pengalaman eksekusi itu kepada teman-temannya.

The Dilettante merupakan tingkatan kedua dari pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran kelompok ini biasanya lebih tua dibandingkan dengan kelompok lainnya. Seringkali para pembunuh bayaran tipe ini memiliki latar belakang kriminal. Alasan mereka menjadi pembunuh bayaran adalah untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi yang sedang dihadapinya. Pembunuh bayaran tipe ini juga tidak memiliki pengalaman dan kemampuan untuk melakukan eksekusi pembunuhan dengan baik.

The Journeyman merupakan pembunuh bayaran yang memiliki kemampuan, dan berpengalaman walaupun sebenarnya tipe ini masih dikategorikan sebagai semi-profesional. Biasanya mereka ini memiliki latar belakang kriminal yang kuat sehingga memiliki hubungan dengan para pelaku kriminal di wilayah tersebut. Pembunuh bayaran tipe ini sudah memiliki akses untuk mendapatkan senjata api khususnya yang berasal dari pasar gelap.

Terakhir adalah tipe The Master di mana para pelaku pembunuh bayaran memiliki kemampuan yang luar biasa sehingga eksekusi yang dilakukan begitu cepat dan efektif. Pembunuh bayaran tipe ini juga jarang sekali gagal melakukan eksekusi targetnya. Tidak hanya itu, pelaku pembayaran tipe ini juga hampir seluruhnya memiliki latar belakang militer. Tidak heran jika kemampuannya melebihi pembunuh bayaran tipe lainnya sebab kemampuan itu dikembangkan berdasarkan pengalamannnya saat berada di dunia militer.

Salah satu eksekutor Herdi diketahui memiliki latar belakang militer karena sempat menjadi anggota TNI Angkatan Laut. Sehingga berdasarkan tipe pembunuh bayaran yang disebutkan sebelumnya maka eksekutor Herdi termasuk tipe pembunuh bayaran The Master. AS

KOMENTAR
500/500