Ilustrasi keluarga teroris. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Menyoal Keterlibatan Perempuan dalam Terorisme dan Kontra-Terorisme

Estimasi Baca:
Minggu, 20 Mei 2018 18:05:12 WIB

Kriminologi.id - Aksi teror yang terjadi di Surabaya pekan lalu menghadirkan fakta baru dalam sejarah terorisme di Indonesia. Seperti yang diketahu sebelumnya, aksi teror di Surabaya secara gamblang melibatkan perempuan sebagai ‘pengantin’ bom bunuh diri. Hal tersebut mengisyaratkan semakin nyatanya peran perempuan dalam terorisme, yang ditandai dengan terlibatnya perempuan sebagai pemeran utama dalam aksi teror.

Persoalan keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme menjadi perhatian khusus Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, di Jakarta, Selasa, 15 Mei 2018. Ia mengatakan, sebenarnya perempuan sudah memiliki peran di dalam jaringan teroris sejak lama. Hanya saja di beberapa tahun belakangan ini faktanya semakin mengejutkan.

Bahkan, ia menambahkan, saat ini semua pihak semakin tersadar peran yang dimainkan perempuan langsung berada di posisi central stage atau langsung di depan, nyata terlihat. 

Dalam kelompok teroris, perempuan biasanya bertugas merekrut orang-orang untuk masuk ke dalam jaringan. Perempuan diakui sebagai agen rekrutmen yang sangat canggih, mereka mampu meyakinkan orang-orang di luar jaringan untuk masuk bergabung secara perlahan namun pasti.

Perempuan juga melakukan peran sebagai fundraiser atau pencari dana bagi kelopok teroris. Kemudian, peran lainnya adalah sebagai pengatur logistik. Mereka yang akan mengatur penyewaan kendaraan atau bisa juga memesan bahan-bahan bom ketika akan melakukan penyerangan.

Peran terakhir adalah menjadi eksekutor atau ‘pengantin’-nya. Oleh karena itu, Yenny menegaskan, keterlibatan perempuan dalam terorisme adalah isu yang sangat serius mengingat mereka memainkan multi-peran dalam kelompok teroris.

Pembatasan Radikalisasi Perempuan Sebagai Upaya Kontra-Terorisme

Terkait dengan keterlibatan perempuan dalam terorisme, Yenny mengungkapkan bahwa terdapat faktor loyalitas dan kepatuhan perempuan yang sangat dieksploitasi. Independensi perempuan sangat mutlak diwacanakan sebagai salah satu bentuk penanggulangan terorisme.

Ilustrasi panduan bagi orang tua saat berbicara tentang terorisme pada anak. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id
Ilustrasi panduan bagi orang tua saat berbicara tentang terorisme pada anak. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Yenny mengungkap hasil survei Wahid Foundation menunjukkan bahwa perempuan yang tidak independen dan otonom dalam pengambilan keputusan, di mana dalam mengambil keputusan sangat bergantung pada suami, sangat rentan untuk menjadi radikal. Mereka menjadi lebih mudah untuk diradikalisasi oleh suaminya sendiri.

Tingginya kerentanan perempuan menerima radikalikasi itu diakibatkan karena mereka, sebagai istri, tidak mau membantah lantaran mereka patuh pada suami.

Oleh karena itu, Wahid Foundation menyimpulkan bahwa semakin independen seorang perempuan dalam proses-proses pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya, maka semakin dia punya kemampuan untuk menjadi penahan dari suami ketika suaminya mulai dinilainya semakin radikal.

Sejalan dengan simpulan Wahid Foundation tersebut, dua peneliti dari Amerika Serikat bernama Candice Ortbals dan Lori Poloni-Staudinger juga menunjukkan kesadaran akan pentingnya peran perempuan dalam upaya kontra-terorisme.

Dalam tulisan mereka berjudul How Gender Intersects with Political Violence and Terrorism, yang diterbitkan Oxford University Press pada Februari 2018, menyebutkan bahwa pada kenyataannya, dalam terorisme, posisi perempuan berada di batas-batas antara sebagai agen teroris dan korban.

Perempuan merupakan aktor yang kompleks dalam terorisme. Apa yang memotivasi mereka terlibat dalam terorisme bisa jadi karena adanya dorongan politik dan di saat yang sama juga dipengaruhi (atau dimanipulasi) oleh seorang laki-laki dalam organisasi teroris.

Oleh karena itu, Candice dan Lori menyebutkan bahwa sebagai langkah pertama dalam upaya kontra-terorisme yang terkait dengan gender adalah mengenali bagaimana peluang unik perempuan untuk melakukan serangan teroris didasarkan pada asumsi yang salah bahwa mereka feminin dan dengan demikian tidak dapat melakukan kekerasan.

Beberapa ahli berpendapat bahwa menghentikan partisipasi perempuan dalam terorisme sangat penting. Hal tersebut dikarenakan ketika perempuan membatasi aktivisme radikalnya, mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi aktivisme radikal keluarga dan komunitasnya.

Dengan demikian, bisa dikatakan tindakan kontra-terorisme harus mempertimbangkan fokusnya pada membatasi radikalisasi perempuan karena perempuan memiliki kemampuan untuk mencegah laki-laki terdekat mereka terlibat dalam terorisme.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500