Ilustrasi dunia siber Foto: Pixabay.com

Menyoal Kriminogenik Dunia Siber

Estimasi Baca:
Kamis, 21 Sep 2017 06:10:55 WIB

Kriminologi.id - Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya perubahan terhadap masyarakat di seluruh belahan dunia. Penetrasi teknologi dan informasi juga dirasakan di Indonesia. Berdasarkan data yang dilansir Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia, terdapat 132,7 juta orang Indonesia menggunakan Internet dalam kehidupannya sehari-hari.

Keberadaan Internet telah memindahkan interaksi-interaksi di dunia nyata ke dunia siber (cyberspace). Interaksi yang berpindah tidak hanya bentuk interaksi yang konformis tetapi juga yang non-konformis. Artinya, semua tindakan masyarakat baik positif ataupun negatif juga turut berpindah ke dunia siber.

Salah satu ancaman nyata yang sedang dihadapi Indonesia adalah beredarnya berita bohong (hoax) dan tersebarnya ujaran-ujaran kebencian (hate speech) di dunia siber. Berita bohong dan ujaran kebencian ini dapat memprovokasi masyarakat melakukan tindakan nyata.

Ini dapat terjadi karena tidak semua pengguna Internet mengerti dan memahami bagaimana etiket digital (digital etiquette), keamanan digital (digital security) dan hak-hak digital dan juga tanggung jawabnya (digital rights and responsibilities).

Etiket digital artinya bagaimana individu berperilaku di dalam dunia siber. Sebenarnya ada standar norma yang harus diperhatikan dalam berperilaku di dalam dunia siber. Standar norma ini sebagai panduan bagi individu agar tetap aman dan nyaman dalam menggunakan Internet. Sayangnya di Indonesia hal ini tidak diperhatikan oleh masyarakatnya.

Keamanan digital adalah bagaimana kita memproteksi identitas digital kita di dunia siber. Jaringan dan alamat Internet (IP address) adalah salah satu identitas digital yang tanpa kita sadari dapat memberikan identitas dan posisi kita secara fisik. Sering kali masyarakat juga tidak menyadari hal ini, sehingga ini bisa menjadi celah bagi pelaku kejahatan siber.

Hak-hak digital beserta tanggung jawabnya adalah kebebasan dan hak yang dimiliki setiap individu dalam menggunakan segala bentuk teknologi. Namun penggunaannya harus disertai tanggung jawab, sehingga apa yang dilakukan di dunia siber tetap dapat diterima dan tidak merugikan. Setiap orang memang memiliki hak privasi dan kebebasan dalam berekspresi di dunia siber, namun sekali lagi tidak boleh dilupakan bahwa terdapat tanggung jawab yang menyertai hak tersebut.

Seiring dengan perkembangannya, akses terhadap Internet sendiri semakin lama semakin murah. Misalnya saja harga kartu SIM telepon seluler dengan paket data 2 giga bita sudah bisa didapat seharga Rp 25 ribu. Murahnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakses Internet menjadikan Internet menyentuh semua kalangan. Tidak hanya orang dewasa saja yang dapat menggunakan Internet, kini anak-anak tidak bisa lepas dari Internet.

Terdapat beberapa karakter dunia siber yang justru mendukung berkembangnya pelanggaran hukum di dunia siber. Karakter tersebut adalah stealth, anonymity, dan escape. Karakter ini sebenarnya dimunculkan oleh Newman dan Clarke dalam New Opportunities for Crime, New Opportunities for Prevention

Karakter stealth sebenarnya merujuk pada sifat dunia siber yang memungkinkan pelaku kejahatan dengan mudah menyembunyikan identitasnya lewat identitas orang lain. Pelaku bisa menyamar dengan berbagai teknik dan cara untuk mengelabui. Pada karakter ini, pelaku biasanya masuk dengan identitas sebenarnya dan kemudian menggunakan teknik tertentu melakukan kamuflase terhadap identitas tersebut.

Selanjutnya adalah karakter anonymity yang merujuk pada kondisi dunia siber yang memungkinkan penggunanya masuk tanpa memiliki identitas apapun. Pelaku hacking biasanya mengacaukan identitas-identitas digital yang bisa mengarahkan pada identitas asli si pelaku.

Sedangkan karakter escape memungkinkan pelaku kejahatan untuk dengan mudah melarikan diri dengan tidak terdeteksi dan tidak terlacak, bahkan korban seringkali tidak sadar bahwa dirinya telah menjadi korban kejahatan di dunia siber.

Karakter-karakter inilah yang selanjutnya disebut dengan kriminogenik. Kriminogenik adalah konsep dimana terdapat faktor-faktor yang memungkinkan kejahatan lebih mudah terjadi. Kriteria stealth, anonymity, dan escape masuk di dalam konsep kriminogenik. Kriteria-kriteria ini memiliki peran dalam mendorong terjadinya kejahatan siber.

Berdasarkan pemaparan ini dapat kita pahami bahwa sebab terjadinya kejahatan siber tidak hanya terbatas pada pelaku, korban, dan aturan yang diterapkan, tetapi juga kondisi dan karakteristik dunia siber yang kriminogenik.

 

Sangkalan

Tulisan ini pemaparan dari Kisnu Widagso yang disampaikan dalam acara ASEAN Cyber Capacity Development Project yang diadakan The International Police Organization (INTERPOL) di Singapura, 11-13 September 2017. Kisnu adalah pengajar di Departemen Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Dia juga dikenal pemerhati teknologi informasi, kejahatan, dan pemolisian.

KOMENTAR
500/500