Ilustrasi Sabu-sabu, Foto: pixabay.com

Menyorot Sepak Terjang Sindikat Narkoba Indonesia-Malaysia

Estimasi Baca:
Selasa, 7 Nov 2017 15:41:34 WIB

Kriminologi.id - Berdasarkan data dari World Drugs Report pada 2017 yang diterbitkan oleh Badan PBB urusan Obat-obatan Terlarang dan Kejahatan atau UNODC pada 2015, tercatat seperempat miliar penduduk dunia menjadi penyalah guna narkotika. Lalu sembilan juta orang setiap tahun menemui ajalnya akibat penyalahgunaan narkotika.

Masalah bertambah karena munculnya jenis narkoba baru yang beredar di dunia. Kekhawatiran global ini terasa hingga ASEAN khususnya antara Indonesia dengan Malaysia. Sindikat asal Indonesia banyak membeli ‘barang’ dari Malaysia dengan modus pembayaran 30 persen terlebih dahulu. Sisanya diselesaikan setelah pesanan datang.

Baca: Lebih dari 200 Ribu Kg Sabu-sabu Disita dalam Operasi 3 Pekan

Sindikat narkotika di Indonesia, khususnya yang beroperasi di wilayah Aceh, Medan dan berjumlah sangat besar itu adalah bagian dari jaringan narkotika Malaysia. Untuk itu, selaku institusi penegak hukum, Polri maupun Polis Diraja Malaysia memiliki tanggung jawab yang tak ringan untuk menanggulangi salah satu persoalan pelanggaran pidana ini.

Sehingga kita bersama-sama diharapkan memiliki komitmen yang kuat untuk memutus dan menghancurkan sindikat perdagangan gelap narkotika. Berangkat dari komitmen bersama itu pula kerja sama memerangi kejahatan narkoba antara Bareskrim Mabes Polri dan JSJN menjadi indikator penting.

Kerjasama dan pembahasan bersama yang pastinya harus meningkat itu terutama dalam hal pengungkapan dan pengembangan pidana pencucian uang atau money laundering yang berasal atau predicate crime-nya dari kejahatan narkotika. Fakta-fakta yang berangkat dari data mengungkapkan banyak jaringan narkotika di Indonesia dikendalikan oleh jaringan Malaysia.

Baca: Polisi Ungkap Sabu-sabu dan Ekstasi Dikubur di Halaman Rumah

Berdasarkan data yang dimiliki Bareskrim Mabes Polri menegaskan banyaknya kasus yang berhasil diungkap oleh Direktorat Tindak Pidana Narkoba mencatat keterlibatan sindikat pelaku dari Indonesia maupun Malaysia. Dari 2015 hingga Oktober 2017, setidaknya 129 warga negara Malaysia terlibat jaringan internasional peredaran narkotika.

Aspek lain, selain keterlibatan pelaku dari kedua negara, Indonesia dan Malaysia juga menghadapi ancaman yang serupa. Khususnya yang terkait dengan aspek geografis, dimana kedua negara memiliki garis perbatasan darat dan garis perbatasan perairan atau pantai yang cukup panjang. Serta penerbangan langsung dari Indonesia ke Malaysia atau sebaliknya.

Ini tentu saja membuka peluang sebagai jalur peredaran narkotika sehingga membutuhkan mekanisme pencegahan dan pengawasan yang lebih intensif lagi, secara bersama-sama. Salah satunya dengan peningkatan frekuensi joint operation. Menyadari masih banyaknya persoalan yang mesti segera dituntaskan kedua negara, efektifitas dan efisiensi penanggulangannya juga mesti melalui pendekatan yang multidimensi.
 
Kejahatan narkotika merupakan permasalahan multidimensi, dengan jaringan peredaran yang luas dan melibatkan lebih dari satu negara atau trans national crime. Untuk itu, dalam penanggulangannya, juga diperlukan perumusan strategi penanggulangan dari berbagai sisi pendekatan permasalahan.

Sangkalan

Tulisan ini adalah pernyataan resmi Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri, Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto dalam pertemuan bilateral antara Polri dengan Direktorat Tindak Pidana Narkotika Polri dengan Jabatan Siasatan Jenayah Narkotik Polis Diraja Malaysia di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Selasa, 7 November 2017. BC

Redaktur: Bobby Chandra
KOMENTAR
500/500