Ilustrasi teroris bersenjata, Foto: Ist/Kriminologi.id

Metamorfosis Kelompok Teror Jamaah Ansharut Daulah

Estimasi Baca:
Minggu, 20 Mei 2018 06:05:14 WIB

Kriminologi.id - Jamaah Ansharut Daulah (JAD) menjadi dalang dari serangkaian serangan bom bunuh diri di tiga lokasi berbeda di Surabaya, Jawa Timur, Minggu, 13 Mei 2018. Tiga lokasi tersebut adalah Gereja Santa Maria Tak bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta. Pelaku diketahui adalah satu keluarga dan sang ayah adalah Ketua JAD wilayah Surabaya.

Selain aksi terror di Surabaya, kelompok JAD diduga juga terlibat dalam perencanaan dan sejumlah serangan di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Apabila dirunut, kelompok teror ini merupakan metamorfosis dari kelompok teror sebelumnya. Artinya, mereka memiliki hubungan personal dan jaringan organisasi masih sangat erat dengan kelompok-kelompok terror yang pernah eksis pada era sebelumnya. 

Sejarah aksi terorisme atau aksi bom pertama kali terjadi di Cikini pada 30 November 1957. Saat Orde Baru, aksi teror dilakukan Gerakan Komando Jihad yang merupakan bagian dari Darul Islam (DI). Sejarah juga mencatat terjadi pembajakan pesawat terbang Woyla oleh jamaah Imron bin Muhammad Zein tahun 1981 dan peledakan candi Borobudur oleh kelompok Syiah yang dipimpin Hussein al Habsy tahun 1985.

Pada tahun 2000, Al Jamaah Al Islamiyah (JI) yang dipimpin Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir merupakan kelompok teror yang paling dominan melancarkan aksinya usai reformasi. Selain Negara Islam Indonesia (NII) dan DI, JI menjadi kelompok yang juga melibatkan ideologi agama dalam melakukan kekerasan dan teror di Indonesia.

Awalnya, JI merupakan salah satu faksi sempalan dari NII. Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir sebagai pendiri JI berbeda paham dengan Ajengan Masduki yang menjadi pemimpin NII dari 1987 hingga 1990-an. Peseteruan itu membuat JI memisahkan diri dan membentuk kelompok baru.

Dua tokoh pendiri JI ini memiliki peran penting mobilisasi para Mujahidin untuk berjihad ke Afghanistan pada akhir 1980-an. Sebagian dari Mujahidin alumni Afghanistan dan kamp militer di Filipina Selatan inilah yang nantinya menjadi pelaku dan otak di balik serangkaian aksi teror bom di Indonesia. Serangan bom Bali pada 2002 dan bom Mega Kuningan, Jakarta pada 2009 dilakukan Noor Din. M. Top serta Urwah cs.

Setelah pulang dari Malaysia, sekitar awal tahun 2000-an, Abu Bakar Ba’asyir mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Organisasi ini bersifat terbuka, berbeda dengan JI yang bergerak di bawah tanah. Setelah JI mampu dilemahkan oleh Densus 88 Mabes Polri, MMI sempat menjadi organisasi alternatif untuk menampung para anggota JI. 

Terpidana terorisme, Ustadz Abu Bakar Baasyir, Foto: Antaranews.com
Terpidana terorisme, Ustadz Abu Bakar Baasyir, Foto: Antaranews.com

Momentum penting pada 13 Juli 2008 adalah saat Abu Bakar Ba’asyir mundur dari MMI. Menurut Ba'asyir, pedoman umum pada sistem kepemimpinan dan tata keorganisasian MMI dituding tidak menerapkan aturan Islam dengan benar. Selanjutnya Abu Bakar Ba’asyir mendirikan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang dibentuk pada 27 Juli 2008 di Solo. Ansharut Tauhid berarti Pembela Tauhid.

Organisasi ini berupaya untuk mengembalikan struktur kepemimpinan organisasi sesuai ajaran Islam. Namun nyatanya, serangkaian aksi teror dan kekerasan sejak 2008 hingga akhir 2014 justru didalangi kelompok JAT seperti yang diungkap Densus 88.

Dinamika terjadi ketika munculnya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dinamika Global khususnya di Suriah dan Irak mempengaruhi dinamika organisasi teroris di Indonesia. ISIS mendeklarasikan keberadaannya pada 29 Juni 2014 dan mengangkat pemimpin mereka, yaitu Abu Bakar al-Baghdadi sebagai khalifah bagi umat Islam se-dunia.

Kehadiran ISIS ini disambut baik beberapa kelompok teror di Indonesia. Seakan keberadaan ISIS kembali menyegarkan organisasi teror yang selama ini sudah pada posisi tertekan atas penindakan aparat. ISIS juga dianggap menjadi jalan baru inspirasi perjuangan usai pudarnya eksistensi Alqaida.

Segera setelah deklarasi Negara Islam oleh ISIS pada 4 Agustus 2014, Aman Abdurahman dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Abu Bakar Baasyir dengan JAT menyatakan loyalitas dan dukungannya kepada ISIS. Mereka berbai’at kepada Abubakar Al Baghdadi sebagai Amir ISIS.

Aman Abdurrahman orang berpengaruh di Jemaah Ansharut Daulah (JAD) (15/05/2018). Foto: Antaranews
Aman Abdurrahman orang berpengaruh di Jemaah Ansharut Daulah (JAD) (15/05/2018). Foto: Antaranews

Di tubuh JI sendiri terjadi perbedaan di mana sebagian mendukung ISIS, namun sebagian masih loyal kepada Alqaida. Terjadinya perpecahan tersebut disebabkan adanya dua alasan yaitu alasan ideologi antara Salafi Jihadi (Aqaida) dengan Takfiri (ISIS) dan alasan politis yaitu tentang siapa yang menjadi pemimpin.

Pemimpin ISIS, Abubakar Al Baghdadi masih belum dianggap sebagai tokoh senior dalam jaringan Islam Radikal. Bahkan boleh dikatakan sebagai pendatang baru sehingga sebagian tidak mengakui kepemimpinannya.

Ternyata di dalam tubuh JAT juga terjadi perpecahan, sehingga muncul kelompok yang menamakan diri Jama’ah Ansharus Syari’ah (JAS). JAS didirikan bekas pengurus dan anggota JAT. Mereka keluar jadi JAT karena menolak klaim khilafah ISIS. Dua putra ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Abdurrochim Ba’asyir dan Rosyid Ridlo Ba’asyir menjadi orang penting di dalam organisasi JAS.

Sebagian dari anggota JAT lainnya membentuk JAD yang mengakui bagian dari ISIS. Sebelum bernama JAD, awalnya mereka mengidentifikasi diri sebagai Jamaah Anshar Khilafah Daulah Nusantara (JAKDN). Organisasi ini didirikan pada Maret 2015. Amir atau pemimpin JAD adalah Aman Abdurrahman. 

Saat ini JAD merupakan ancaman terbesar bagi Indonesia. Serangkaian terror dan kekerasan yang terjadi di Indonesia diduga kuat disutradarai kelompok ini. Kelompok JAD kini telah mempunyai struktur yang tersebar di delapan provinsi dan beberapa daerah lainnya. Kelompok ini juga memiliki hubungan dengan berbagai elemen di Suriah dan Irak sebagai melting pot, Filipina, Malaysia dan Singapura.

Pimpinan tertinggi JAD, Aman Abdurrahman kini memang mendekam di Rutan Salemba Cabang Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Walaupun mendekam dalam Rutan, pengaruhnya begitu kuat dan mampu membakar semangat para anggota JAD untuk melakukan aksi-aksi teror di Indonesia.

Infografik Metamorfosis Kelompok Teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

KOMENTAR
500/500