Gedung Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Foto: Yenny Hardiyanti/Kriminologi.id

Miris, KPAI Temukan Fakta Ketergantungan ABG Pada Prostitusi

Estimasi Baca:
Rabu, 8 Ags 2018 17:50:57 WIB

Kriminologi.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI menyatakan 2018 menjadi tahun tertinggi anak-anak yang dlibatkan dalam prostitusi. Anak-anak tersebut tidak diajak seperti anak korban eksploitasi komersial, namun anak tersebut justru ketergantungan pada kehidupan dunia prostitusi dengan berbagai alasan.

"Ada pergeseran signifikan, bukan dipaksa atau diajak seperti anak korban eksploitasi komersial, tapi sekarang anak mencari dan menagih, ketergantungan pada kehidupan dunia prostitusi dengan alasan-alasan anak zaman sekarang butuh ABCDE, itu kan sebenarnya hal yang miris," kata Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi, Ai Maryati Solihah di Markas Polda Metro Jaya, Rabu, 8 Agustus 2018. 

Sekarang ini menurut Ai, sebagian besar anak-anak yang terlibat praktik prostitusi berasal dari kemuan mereka sendiri. Namun kata Ai, tidak serta merta inisiatif atau keputusan tersebut berasal dari keputusan bulat sang anak.

Latar belakang pengalaman hidup anak-anak tersebut, kata Ai, misalnya anak sebagai korban keretakan rumah tangga atau dikeluarkan dari sekolah, menjadi penyebabnya.

"Jika dilihat lebih jauh, sebagian besar latar belakang mereka berasal dari anak yang mengalami broken home, pernah di-DO, atau anak-anak rentan yang orang tuanya jadi buruh migran. Oleh karena itu mereka harus dilindungi dan direhabilitasi," kata Ai menjelaskan.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/59df35710b5aa-1507800433-0afd7d657f177e8a072a53b2b626c394.jpg

Seorang anak juga dapat terlibat dalam dunia prostitusi, kata Ai karena adanya bujukan, dikondisikan, dan dipaksa. Kondisi ini, Ai menjelaskan, pihaknya menyebutkan dengan sebagai anak korban eksploitasi komersial.

Sedangkan bila anak terlibat karena dibujuk, diajak, atau dia memiliki kemauan sendiri melakukan itu bahkan melalui media online, ia menyebutkan sebagai anak korban prostitusi.

Terkait dengan kasus temuan lima anak perempuan di Apartemen Kalibata City yang menjadi pekerja seks komersial, pihaknya menjelaskan bahwa mereka sedang menjalani pemulihan di rumah rehabilitasi, Cipayung, Jakarta Timur. 

"Iya, sekarang semuanya sedang di rumah singgah. Kami juga sudah wawancara dengan mereka di sana. Mereka direhabilitasi di RPTC (Rumah Perlindungan Trauma Center) Cipayung dan kemudian di PSKW (Panti Sosial Karya Wanita) Pasar Rebo. Sekarang mereka dalam pantauan kami," tutur Ai.

Ia juga menyayangkan tindakan prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur di apartemen tersebut, mengingat banyaknya unit yang diduga menjadi lokalisasi terselubung. 

"Bayangkan saja, dari 18 tower di apartemen Kalibata City,  ada sekitar 13.000 unit. Kalau dikalikan maka per unit diisi sekitar 4 orang, maka ada sekitar 65.000 orang yang hidup di sana tengah meminta kepada kami, 'KPAI tolong kami, tolong kami Bu. Seolah-olah di apartemen tersebut ada lokalisasi terselubung," kata Ai.

Sebelumnya diberitakan, kepolisian mengungkap adanya lima anak perempuan di bawah umur yang dilibatkan dalam praktik prostitusi online di Apartemen Kalibata City, Jakarta pada Kamis, 2 Agustus 2018.

Kelima anak tersebut diarahkan tiga orang dewasa yang berperan sebagai mucikari online dan penyedia properti atau unit apartemen di Kalibata City untuk menjadi PSK dengan tarif mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. YH
 

Reporter: Erwin Maulana
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500