Kombes Ekotrio Budhiniar (04/07/2017) Foto: pusdikmin.com

Mobil Boks Halangi Kombes Ekotrio, Psikolog: Jangan Dipikir Itu Sepele

Estimasi Baca:
Kamis, 5 Jul 2018 06:05:32 WIB

Kriminologi.id - Tindakan Kombes Pol Ekotrio Budhiniar menganiaya tujuh bawahannya menggunakan helm baja sebagai hukuman atas pelanggaran yang mereka lakukan amat disayangkan. Namun keberadaan mobil boks yang menghalangi kendaraan Ekotrio di kantornya Pusat Pendidikan Administrasi (Pusdikmin) Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol) bukan hal sepele. 

Hal ini diutarakan Psikolog dari Universitas Indonesia Mira Amir kepada Kriminologi.id, Rabu, 4 Juni 20108. Ia mengatakan keberadaan mobil boks yang menghalangi jalan masuk pak kombes itu kemungkinan fatal. 

"Mobil boks katering itu kok bisa menghalangi jalan itu sangat fatal kalau dalam situasi darurat. Dan itu harusnya dievaluasi, kenapa bisa ada mobil menghalangi jalan di sana. Dan memang disayangkan hukuman yang dilakukan pak kombes terhadap anak buahnya itu," ujar Mira Amir. 

Mira menegaskan keberadaan mobil boks yang menghalangi itu tidak boleh dipandang sepele. Alasannya, bisa jadi mobil itu berbahaya sehingga membuat Ekotrio menjadi marah besar. 

Ia mencontohkan kasus mobil boks yang menghalangi Ekotrio di Pusdikmin Lemdikpol Bandung, Jawa Barat itu dengan pemeriksaan metal detektor terhadap kendaraan yang ingin masuk ke pusat perbelanjaan. 

Semula, ia mengaku jengkel dengan pemeriksaan metal detektor terhadap kendaraan yang sudah jelas berpenumpang keluarga, anak dan istri. Pemeriksaan mobil dengan membuka bagian belakang itu dianggap menyinggung pengendara mobil seolah pengelola gedung telah menaruh curiga si pengendara memiliki niat jahat. 

Akan tetapi, dirinya sadar pemeriksaan metal detektor itu menjadi amat penting begitu kejadian bom bunuh diri di Surabaya yang dilakukan satu keluarga. 

"Setelah peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan sekeluarga, saya mencabut omongan saya sendiri. Ternyata ada juga lho ibu dan anak yang melakukan bom bunuh diri," ujarnya. 

Meski demikian, Mira menyarankan peristiwa yang terjadi di Lembaga Pendidikan Polri itu harus dievaluasi menyeluruh terutama pada aturan tentang hukuman terhadap anggotanya.

Kepolisian perlu menyusun standar perilaku hukuman pimpinan terhadap anak buahnya itu lebih detail. Penekanan hukuman itu lebih pada sisi humanis, bukan dalam bentuk sentuhan fisik. 

"Di Kepolisian yang angkatan senior arogansi pimpinan berbau militer itu lumayan signifikan. Karena tempaan fisik dan senioritas itu masih kuat, akibat pendidikan yang dilalui sebelumnya. Tapi kalau yang angkatan muda sudah begitu kurang," ujarnya. 

Mira juga menegaskan perilaku Kombes Ekotrio ini tidak ujug-ujug begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh pengetahuan, penghayatan emosinya hingga melahirkan perilaku tersebut. 

"Perilaku itu tidak ujug-ujug datangnya, tapi ada pengaruh dari apa yang dia ketahui, penghayatan emosinya melahirkan si perilaku. Sayang banget, pak Kombes itu harusnya layak jadi bintang," ujarnya.

Kombes Ekotrio Budhiniar dicopot oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian dari jabatannya sebagai Kepala Pusat Pendidikan Administrasi (Kapusdikmin) Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol) menjadi perwira menengah di Mabes Polri.

Pencopotan ini dilatarbelakangi dengan aksi penganiayaan Ekotrio terhadap tujuh anak buahnya dengan memukul kepala mereka menggunakan helm baja. Tiga dari tujuh bawahannya yang dianiaya itu berpangkat perwira pertama. 

 MSA
KOMENTAR
500/500