Mutilasi Kerap Dilakukan Orang Dekat Korban

Estimasi Baca :

ilustrasi mutilasi. Ilustrasi: Kriminologi.id - Kriminologi.id
ilustrasi mutilasi. Ilustrasi: Kriminologi.id

Kriminologi.id - Pada penghujung tahun 2017, kasus pembunuhan yang berujung pada mutilasi menjadi perhatian masyarakat. Jasad Siti Saidah alias Nindy, seorang ibu muda dengan kondisi terbakar ditemukan tanpa kepala dan kaki, 7 Desember 2017.

Penemuan jasad itu menggemparkan warga Desa Ciranggon, Majalaya, Karawang. Yang lebih mencengangkan, pelaku pembunuhan sadis yang berujung pada mutilasi adalah suaminya sendiri, Muhammad Kholili.

Sebelum kasus mutilasi yang terjadi di Karawang, ada kasus Babe Baekuni dan Ryan Jombang yang juga sempat menjadi sorotan masyarkat. Kriminologi juga mencatat terdapat 10 kasus mutilasi lainnya yang terjadi di berbagai daerah di tahun 2017.

Baca: Korban Mutilasi Pernah Jadi Pemandu Lagu hingga Marketing Meikarta

Kasus mutilasi itu bukan satu-satunya bentuk kejahatan sadis yang hanya ada di Indonesia. Melainkan, fenomena pembunuhan dengan cara memutilasi korbannya juga ada dalam kehidupan masyarakat di belahan bumi lainnya. Berbagai penelitian pun dilakukan sebagai cara untuk memahami fenomena kejahatan ini.

Jonghan Sea dan Eric Beauregard, dalam jurnal mereka yang berjudul Mutilation in Korean Homicide: An Exploratory Study 2, menunjukkan temuan-temuan dari beberapa penelitian yang dilakukan terkait kejahatan mutilasi.

Jonghan Sea adalah peneliti yang fokus pada penilaian risiko kekerasan, psikopati, dan profil kriminal. Ia adalah kandidat PhD di Departemen Psikologi di Simon Fraser University, Kanada. Sementara Eric Beauregard adalah seorang professor di School of Criminology di universitas yang sama.

Baca: Sebelum Memutilasi, Pelaku Sempat Ajak Istrinya Pulang Kampung

Merujuk pada jurnal yang ditulis oleh Sea dan Beauregard, beberapa temuan muncul terkait kejahatan mutilasi. Dalam jurnal mereka, berdasarkan studi yang dilakukan selama 30 tahun terhadap mutilasi di Swedia oleh Rajs dkk. (1998), kejahatan mutilasi diklasifikasikan menjadi empat  tipe, berdasarkan motivasinya.

Defensive, motif ini bisasanya dilakukan pelaku mutilasi untuk menyingkirkan atau menghilangkan tubuh korban agar tidak diketahui pihak lain, terutama pihak kepolisian. 

Aggressive, dimana pembunuhan dan mutilasi dimotivasi oleh kemarahan seorang pelaku terhadap korbannya. Offensive, dalam motivasi pelaku jenis ini, pemotongan tubuh merupakan tujuan utama dari pembunuhan yang dilakukan, termasuk pembunuhan karena hawa nafsu dan nekrosadistis.

Baca: Sepatu Sport Ungkap Korban Mutilasi Dihabisi Pulang Kerja

Necromantic, mutilasi dilakukan pelaku dengan tujuan agar beberapa bagian tubuh korban dapat digunakan sebagai piala, simbol, atau jimat.

Infografik Motif di Balik pelaku Mutilasi. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Sea dan Beauregard mengatakan meskipun mutilasi defensive sering kali ditemukan sebagai bentuk mutilasi yang paling umum, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa mutilasi offensive sama populernya.

Pada kasus-kasus mutilasi defensive yang diobservasi, para pelaku memisahkan tubuh korban menjadi potongan-potongan untuk memindahkan dan menyembunyikan jasad korban secara efektif.

Pada banyak kasus, kepala dan jari menjadi bagian yang sering kali dipotong, yang diketahui sebagai barang bukti penting dalam proses indentifikasi. Menariknya, pembakaran juga sering kali dilakukan oleh para pelaku mutilasi, dengan asumsi lebih mudah untuk mencegah terdeteksinya barang bukti.

Baca: Wanita Dimutilasi, Keluarga Sudah Curiga Pelakunya Suami Sendiri

Selain itu, temuan penelitian yang dilakukan oleh Ressler dkk (1986) menunjukkan bahwa dalam sampel kecil pada kasus-kasus pembunuhan seksual, mutilasi secara signifikan memiliki keterkaitan dengan pengalaman menjadi korban kekerasan seksual pada masa kanak-kanak dan remaja.

Sea dan Beauregard juga menunjukkan penelitian yang dilakukan oleh Konopka dkk (2007) yang melakukan identifikasi terhadap 23 kasus yang diperiksa di Departemen Forensik Kedokteran di Cracow pada periode tahun 1968 hingga 2005.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku mutilasi sering kali adalah seseorang yang dekat, atau setidaknya kenal, dengan korban. 

Selain itu, mutilasi biasanya dilakukan di lokasi kejahatan tanpa perencanaan apa pun. Di Finlandia, penelitian lainnya yang dilakukan oleh Häkkänen-Nyholm dkk (2009), mendapatkan temuan bahwa mutilasi tidak terkait dengan psikopati atau penyalahgunaan zat-zat tertentu.

Baca: Korban Mutilasi Karawang Pernah Unggah Jeritan Hati di Facebook

Kejahatan itu terkait masalah kesehatan mental dan pendidikan di masa kanak-kanak dan skizofrenia secara signifikan lebih sering terjadi pada pelaku mutilasi. 

Penelitian tersebut dilakukan dengan mengindentifikasi 13 kasus pembunuhan dengan mutilasi di antara 1995 dan 2004 dan membandingkan karakteristik sosiodemografi, sejarah kejahatan, psikopati, dan psikopatologi dengan 676 kasus pembunuhan biasa.

Selanjutnya, masih merujuk pada jurnalnya Sea dan Beauregard, penelitian yang dilakukan oleh Watanabe dan Tamura (2001) terhadap 60 kasus pembunuhan dengan mutilasi di Jepang menunjukkan temuan bahwa dalam kasus di mana korban berusia di bawah 19 tahun, sedikit lebih dari separuh pelaku tidak memiliki hubungan dengan korban dan pembunuhan tersebut dipicu oleh kegiatan seksual. 

Namun, ketika korban berusia lebih dari 19 tahun, mereka biasanya terbunuh oleh orang yang sudah dikenal, seperti anggota keluarga atau kekasih. (Aditya Tjandra)

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Mutilasi Kerap Dilakukan Orang Dekat Korban

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu