Sabu-sabu. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Narkoba Menyerbu Indonesia karena Eksekusi Mati Terlalu Lama

Estimasi Baca:
Senin, 26 Feb 2018 09:20:50 WIB

Kriminologi.id - Pengamat hukum Azmi Syahputra menilai maraknya narkoba masuk ke Indonesia merupakan dampak sampingan dari eksekusi mati bandar narkoba yang terlalu lama sehingga tidak ada kepastian hukum. Hal ini dilihat sebagai celah bagi bandar narkoba untuk tetap berani memasukkan barang terlarang itu ke Indonesia. 

"Hukum di Indonesia dianggap oleh para pebisnis narkoba masih flexibility," kata Azmi yang merupakan pengajar Hukum Pidana Universitas Bung Karno di Jakarta, Senin, 26 Februari 2018.

Baca: Artis Narkoba, Penuturan Cemas DJ Seksi Lihat Temannya Pakai Sabu

Azmi mengatakan, negara tidak boleh abai atau dalam posisi kedap hukum. Negara harus hadir melihat kenyataan ancaman berbahaya bagi keselamatan bangsa akibat serbuan narkoba. Di lain sisi, kelemahan regulasi hukum dan penegakan hukum di Indonesia terhadap para pengedar atau produsen narkoba belum maksimal dan efektif. 

"Saatnya hukuman yang maksimal berupa hukuman mati dan merampas kekayaannya jika perlu diterapkan tanpa tawar," katanya.

Azmi mengatakan, pemerintah terutama penegak hukum harus tegas agar terlindunginya warga negara Indonesia dari jahatnya para pebisnis narkoba. Hal ini merupakan wujud penjajahan gaya baru untuk Indonesia dengan merusak mental manusia Indonesia. 

Azmi juga menyoroti Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang memberikan dispensasi bagi terpidana mati. Dalam RKUHP itu, terpidana mati yang sudah menjalani hukuman 10 tahun dan berkelakuan baik, maka pidana mati dapat diubah menjadi hukuman 20 tahun.

"Ini menjadi celah bahaya, Indonesia akan jadi ladang bisnis segar bagi para pebisnis narkoba dengan ancaman hukuman seperti RKUHP ini sehingga pemerintah harus tegas karena kalau tidak Indonesia akan hancur dan generasi mudanya akan lemah sukanya halusinasi," kritik Azmi.

Baca: Kapolri: Kapal Pengangkut Sabu 1,6 Ton Diincar Sejak 2017

Ia juga menyebutkan, semakin gencarnya serangan narkoba ke Indonesia terbukti dengan semakin canggihnya modus dengan jumlah yang sangat besar hingga jumlahnya berton-ton.

Menurutnya, Indonesia harus dinyatakan darurat narkoba dan seluruh elemen pemerintah harus mengambil langkah cepat, tegas terarah dan konkret. Saat ini diketahui hampir semua lapisan masyarakat nyata-nyata kena dampaknya baik sebagai pemakai bahkan miris menjadi pengedar atau dijadikan wilayah Indonesia menjadi tempat produksi atau ladang bisnis.

"Maka eksekusi mati harus dijalankan tidak boleh ditunda lagi karena faktanya bisnis narkoba ini banyak dijalankan dari dalam LP atau rutan oleh orang-orang yang berstatus narapidana. Posisi mereka sebagai narapidana ini dimanfaatkan oleh mafia pebisnis narkoba," katanya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, kapal pembawa sabu seberat 1,6 ton itu telah dipantau sejak lama oleh petugas gabungan Polri serta Bea dan Cukai sebelum akhirnya ditangkap pada Selasa, 20 Februari 2018.

"Sudah lama diikuti, Polri dan Bea Cukai sudah mengintai kapal pembawa sabu 1,6 ton yang diamankan di perairan Kepulauan Riau sejak 2017," kata Tito dalam keterangan yang disampaikan bersama dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Batam, Kepulauan Riau, Jumat, 23 Februari 2018.

Tonton: Video Penangkapan Kapal Pembawa Sabu 1,6 Ton di Tengah Laut

Tito mengatakan, kapal pengangkut sabu-sabu tersebut disergap oleh tim pada Selasa, 20 Februari 2018, sekitar pukul 2 dinihari. Kemudian, setelah dilakukan pemeriksaan di seluruh badan kapal, tim berhasil menemukan 81 karung yang berisi sabu dengan total berat mencapai 1,622 ton 

Menurut Tito, sabu tersebut diselundupkan menggunakan kapal ikan yang disamarkan dalam kompartemen khsusus. Saat ditangkap, kapal yang menggunakan bendera Singapura dan Cina itu memasuki  wilayah perairan Indonesia tanpa memiliki kelengkapan izin.

Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500