Ilustrasi radikalisme di dunia pendidikan. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Paham Radikal, Strategi Teroris Serang Pola Pikir Manusia

Estimasi Baca:
Sabtu, 7 Apr 2018 09:05:17 WIB

Kriminologi.id - Kelompok-kelompok teroris tidak pernah berhenti dalam menyebarkan paham radikal. Salah satu strategi yang digunakan kelompok teroris adalah dengan masuk ke dalam institusi pendidikan. Mereka menyusupkan paham radikal yang dianut di dalam sekolah-sekolah dan universitas guna membentuk pola pikir radikal sedini mungkin. Serangannya kini gencar ditujukan pada ‘perangkat lunak’ manusia, yakni cara berpikir pada otak.

Belum lama ini pemerintah Arab Saudi mulai melakukan penindakan untuk mencegah strategi ini dan menyatakan akan melakukan pembersihan kurikulum sekolah dan universitas di negaranya dari setiap pengaruh Ikhwanul Muslimin. Tidak hanya itu, pemerintah juga mengancam akan memecat karyawan yang terbukti juga simpatisan kelompok terlarang itu.

Hal tersebut dilakukan sebagai langkah Arab Saudi untuk memerangi ideologi ekstrimis dan radikal dengan meninjau kurikulum sekolah dan buku-buku untuk memastikan mereka bebas dari agenda Ikhwanul Muslimin.

Langkah itu diambil setelah pemerintah Arab Saudi menyebut kelompok Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teror dan telah menyusup ke sekolah-sekolah dan universitas. Ikhwanul Muslimin sendiri sejak 2014 masuk ke dalam daftar hitam Saudi sebagai organisasi teroris, bersama dengan Hezbollah, ISIS dan Al-Nusra terkait Al-Qaeda.

Upaya pembersihan pengaruh teroris yang dilakukan pemerintah Arab Saudi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya dampak terorisme di negara itu. Menurut data Global Terrorism Index 2016, jumlah kematian akibat terorisme di Arab Saudi tahun 2015 meningkat enam kali lipat dari tahun sebelumnya, dengan total 48 serangan yang menyebabkan 107 kematian.

Fakta itu disebut sebagai dampak terorisme tertinggi yang dialami oleh Arab Saudi sejak tahun 2000. Selain itu, Arab Saudi juga dinyatakan menjadi negara terdampak terorisme dengan peringkat ke-32 dari 163 negara yang dianalisa.

Tidak hanya di Arab Saudi, strategi penyebaran paham radikal yang mengarah pada intoleran melalui institusi pendidikan sebenarnya juga pernah ditemukan di Indonesia. Dunia pendidikan Indonesia sempat diramaikan dengan ditemukannya peredaran buku ajar berkonten intoleran untuk Taman Kanak-kanak (TK) pada 2016 silam.

Dalam buku bertajuk “Anak Islam Suka Membaca” itu terdapat muatan kata-kata yang berhubungan dengan tindakan menyerang dan perang yang berlandaskan agama, seperti “ha-ti ha-ti zo-na ba-ha-ya”, “sa-hid di me-dan ji-had”, “ban-tai’, dan lain sebagainya.

Pada tahun 2015 juga pernah ditemukan pesan Intoleran dalam buku pelajaran “Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti” untuk siswa SMA. Dalam buku itu terdapat pesan “yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah SWT, dan orang yang menyembah selain Allah telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.”

Lebih jauh lagi, paham radikal yang mengarah pada intoleran di institusi pendidikan tidak hanya disebarkan melalui buku pelajaran. Tidak jarang ditemukan pula karyawan dan guru di sekolah yang juga berperan aktif dalam penyebaran paham itu pada siswa.

Salah satu contohnya adalah pernah ditemukannya TK di Malang yang melarang siswanya memberikan hormat ke bendera Merah Putih karena dianggap musyrik. Selain itu, mereka juga melarang siswa menyanyikan lagu Padamu Negeri.

Berdasarkan penelusuran Kriminologi.id, sejumlah penelitian lembaga anti-terorisme di Indonesia menunjukkan kalangan siswa sangat rentan terpapar paham radikal.

Tahun 2017, survei yang dilakukan SETARA Institute terhadap siswa SMA di Jakarta dan Bandung menunjukkan 2,4 persen siswa masuk dalam kategori intoleran aktif dan 0,3 persen siswa berpotensi menjadi teroris.

Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) terhadap 59 sekolah swasta dan 41 sekolah negeri, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50 persen pelajar setuju tindakan radikal. Tepatnya sebanyak 48,9 persen siswa bersedia terlibat aksi kekerasan terkait dengan agama dan moral.

Data itu juga menyebutkan 25 persen siswa dan 21 persen guru menyatakan Pancasila sudah tidak relevan lagi. Sementara itu, 84,8 persen siswa dn 76,2 persen guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia.

Data-data yang terpaparkan di atas cukup mencengangkan. Hal tersebut sekaligus menandakan bahwa intervensi kelompok teroris melalui ideologi radikalnya di institusi pendidikan harus dipandang sebagai ancaman yang serius.

Pembahasan mengenai strategi atau metode kelompok teroris dalam menyebarkan ideologinya sempat diangkat dalam sesi wawancara VICE dengan Steven Hassan, seorang mantan pengikut kelompok radikal tahun 1980-an The Moonies.

Wawancara bertajuk Inside the Mind Control Methods ISIS Use to Recruit Teenagers itu mencoba menguak tentang salah satu strategi jitu kelompok teroris (radikal, kultus, dan lain sebagainya) dalam merekrut simpatisan, yaitu melalui pengendalian pikiran (mind control). 

Penulis buku Combating Cult Mind Control itu menyatakan bahwa pengendalian pikiran merupakan metode yang gencar digunakan, metode yang sangat halus. Dengan metode ini, perekrut cenderung akan ‘menggoda’ targetnya secara emosional. 

Perekrut biasanya adalah orang yang target anggap sebagai teman atau seorang mentor, atau seseorang yang sangat dikaguminya. Dengan demikian, indoktrinasi berjalan lebih halus dan mendalam karena ada lebih banyak rasa kepemilikan bersama yang terbagikan atas keyakinan baru mereka.

Penyebaran radikalisme di institusi pendidikan nampaknya menjadi salah satu bentuk realisasi dari strategi pengendalian pikiran oleh kelompok teroris sebagaimana yang diutarakan oleh Steven Hassan.

Melalui buku pelajaran, ide-ide radikalisme masuk secara halus membentuk cara berpikir dan pandangan para siswa. Indoktrinasi lebih jauh dan mendalam didukung dengan keberadaan karyawan sekolah yang juga berperan aktif menyebarkan radikalisme ke para siswa, dengan memanfaatkan status mereka sebagai guru atau mentor.

Guru menjadi sosok yang dipercaya dan dipandang sebagai sumber ilmu oleh siswa. Status mereka pun dinilai memiliki kedekatan emosional yang lebih dengan siswa jika dibandingkan dengan karyawan sekolah lainnya.

Kedekatan emosional yang terbentuk itu membuat paham radikali bisa semakin mulus diturunkan ke para siswa. Hal inilah yang kemudian perlu diwaspadai lebih jauh.

Kendati demikian, penyebaran radikalisme bukan berarti tidak dapat dibendung. Pada sebuah artikel berjudul The Psychology Of Radicalization: How Terrorist Groups Attract Young Followers, yang dipublikasikan oleh Hidden Brain, menyebutkan para peneliti yang mempelajari kelompok-kelompok teroris menunjukkan bahwa kekuatan komunitas dapat menangkal pola pikir yang rentan terhadap radikalisasi. 

Dalam konteks komunitas sekolah, hal itu dapat dilakukan dengan mengajarkan siswa nilai-nilai seperti menerima ketidaksempurnaan dunia, mentolerir perbedaan, dan tidak mengidealkan utopia yang jauh. Dengan kata lain, mengajarkan nilai-nilai moderat.

KOMENTAR
500/500