Ilustrasi: Kejahatan siber Foto: Pixabay

Pakar: Keamanan Siber Indonesia Lemah, Data Penting Rentan Dicuri

Estimasi Baca:
Sabtu, 25 Nov 2017 18:05:27 WIB

Kriminologi.id - Indonesia sebagai negara yang mengalami kemajuan pesat dalam dunia teknologi informasi tak lepas dari sejumlah persoalan. Salah satunya adalah serangan siber yang kerap terjadi. Dalam sehari ternyata Indonesia terjadi 836.200 serangan siber.

Rentannya keamanan siber di Indonesia diungkap oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Ia mengatakan, sejak Januari hingga Juli 2017, Indonesia mengalami ratusan juta serangan siber. 

“Ini data ID-SIRTII (Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure). Tantangannya, ada 177,3 juta serangan sejak Januari sampai Juli 2017 atau 836.200 serangan per hari," ujarnya dalam Seminar Nasional 10 Tahun UMN bertajuk Memperkuat Keamanan Siber Nasional di kampus UMN, Serpong, Tangerang, Banten, Selasa, 21 November 2017.

BACA: Singapura Ajak Negara ASEAN Kerjasama Perangi Kejahatan Siber

Menurut Rudiantara, kebanyakan serangan itu dalam bentuk fraud dan malware. Ternyata tak hanya di Indonesia yang bernasib demikian, kerentanan terhadap serangan siber juga tidak jauh berbeda dengan negara-negara di Amerika Selatan, seperti Brasil dan Afrika.

Lemahnya keamanan siber di Indonesia juga diamini oleh pakar politik dan keamanan internasional dari Universitas Indonesia Andi Wijayanto. Bahkan Andi mengungkapkan pemerintah haru segera membentuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Andi menjelaskan, kelamahan tingkat keamanan siber Indonesia itu berpotensi terjadinya pencurian data-data penting nasional.

"Yang rentan dicuri bermacam-macam, ada yang sifatnya data transaksi keuangan atau bisa juga data kita yang kita masukkan melalui aplikasi online, seperti tanggal lahir, nomor induk kependudukan, hingga pengamanan kartu kredit kita," kata Andi seusai acara Pembahasan Policy Paper Diplomasi Siber Indonesia: Kini dan Nanti di Yogyakarta, Kamis, 23 November 2017.

BACA: Mengantisipasi Ancaman Siber di Kawasan Samudera Hindia

Menurut dia, mengacu indeks kesiapan jejaring atau Networked Readiness Index (NRI), Indonesia masih menempati urutan ke-76. Malaysia sendiri menempati urutan 30, dan urutan pertama ditempati Singapura. 

"Dari indeks itu kita masih jauh di bawah," kata mantan Sekretaris Kebinet (Seskab) ini.

Hal itu, kata dia, belum termasuk keamanan dari sisi komunikasi antarlembaga pemerintah yang idealnya memiliki infrastruktur yang sifatnya privat dan tidak terkoneksi dengan situs umum.

"Namun itu belum terjadi. Sebagian besar lembaga pemerintah masih menggunakan domain email umum, seperti yahoo atau gmail," kata dia.

Oleh sebab itu, kata Andi, pemerintah perlu segera merampungkan pemembentukan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

BACA: Ancaman Serangan Siber, Indonesia Lebih Mujur Ketimbang Jepang

Menurut Andi, jika BSSN sudah terbentuk akan sangat efektif menangkal serangan siber karena badan itu akan memiliki sejumlah fungsi khusus, meliputi penanganan diplomasi pertahanan siber, pidana siber, signal intelijen, peroteksi siber, hingga internet filterring.

"Sedangkan objek yang akan dikelola BSSN ada tiga mulai jejaring komunikasi dan infrastruktur kritikal, serta melakukan standarisasi untuk pengembangan e-commerce dan digital inovation," kata dia. AS | ANT

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500