Ilustrasi pencabulan anak. Ilustrasi: Pixabay

Pakar: Pelaku Seks Menyimpang Merasa Superior Atas Korbannya

Estimasi Baca:
Senin, 9 Jul 2018 16:52:26 WIB

Kriminologi.id - Pelaku pencabulan yakni DR (38) terhadap sedikitnya enam bocah di Purwakarta, Jawa Barat, diduga memiliki perilaku menyimpang dalam melakukan hubungan seksual. Kepada penyidik kepolisian, DR mengaku bahwa ia pernah melakukan hubungan seks dengan hewan, seperti ayam dan bebek. Bahkan, hubungan itu ia lakukan secara sadar.

"Ini cukup unik, biasanya binatang yang dipilih itu mamalia misalnya kambing atau sejenisnya. Yang pasti, secara klinis, dia itu ada gangguan dan biasanya terpengaruh dari latar belakangnya. Bisa jadi dia punya pengalaman eksperimen seksual tertentu, pengetahuan seksualnya tidak baik. Atau ada sejarah penganiayaan seksual yang pernah dia alami," kata psikolog klinis dari Universitas Tarumanegara Denrich Suryadi kepada Kriminologi.id, Senin, 9 Juli 2018.

Denrich menyebutkan, tindakan pelaku DR yang melakukan penyimpangan seksual kepada hewan dinamai zoofilia. Seseorang bisa melakukan zoofilia dan juga fedofilia ini, kata Denrich, ada beberapa alasannya. Salah satunya pelaku menilai kalau korban tidak berdaya untuk melaporkan tindakan kejahatan.

"Korban itu intinya makhluk yang tidak berdaya, dianggapnya tidak bisa melaporkan apa-apa, jadi dia (pelaku) merasa aman dan dia bisa mengekspresikan kebutuhan seksualnya dan di satu sisi, dia juga tidak merasa terancam," kata Denrich.

Dengan menyasar pada korban yang tidak berdaya itu, kata Denrich, menandakan bahwa pelaku ingin menunjukkan jati dirinya. Kedudukan korban secara psikologis berada di bawah pelaku, membuatnya merasa hebat.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/5b42eed05108f-1531113168-0afd7d657f177e8a072a53b2b626c394.jpg

"Kalau korbannya itu memiliki kedudukan lebih rendah atau lemah dibandingkan dia, dia akan merasa superior. Karena yang namanya fedofilia, zoofilia, biasanya dia punya kecenderungan ada upaya untuk menundukkan sesuatu dan di sisi lain perbuatannya itu tidak berbahaya bagi dia," kata Denrich menegaskan.

Penyebab seseorang bisa mengalami penyimpangan seksual seperti pelaku DR di Purwakarta ini, Denrich mengungkapkan karena harga diri atau self esteem seseorang itu rendah. 

Bila seseorang memiliki harga diri yang rendah artinya dia merasa bahwa ia tidak berharga atau bernilai bagi diri sendiri maupun orang lain. Harga diri itu sifatnya pribadi atas penilaian pribadi tentang diri sendiri.

"Apabila seseorang merasa ia tidak berharga, otomatis ia merasa kurang dibandingkan orang lain. Secara tidak langsung ia akan merasa tidak mampu sebab orang lain lebih hebat dibandingkan dengan dirinya, sehingga muncul rasa minder atau rendah diri," kata Denrich menjelaskan.

Perilaku seks menyimpang ini meski bisa disembuhkan, kata Denrich, namun untuk pelaku DR yang sudah berusia dewasa, membutuhkan waktu lama. Menurutnya, kebiasaan DR yang melakukan perbuatan itu disinyalir telah dilakukan sejak lama, sehingga turut mempengaruhi proses penyembuhannya.

"Ini masih bisa disembuhkan, terapinya cukup lama mengingat usianya udah sekian dan kebiasaan dia kan udah lama, dalam sekian belasan tahun, itu artinya dia sudah terbiasa melakukan itu. Otomatis, pola pikirnya berubah," kata Denrich.

Terapi yang bisa dilakukan agar pelaku tidak melakukan perbuatannya lagi, kata Denrich, tergantung dari hasil pemeriksaan psikologis nanti. Jika dari hasil tersebut menyatakan pola pikir pelaku DR terganggu, maka terapi yang bisa dipakai adalah terapi kognitif behaviour, yakni terapi perilaku kognitif atau hanya dengan pemberian terapi perilaku saja.

"Kalau pelaku memiliki latar belakang pendidikan yang rendah, cukup menggunakan terapi perilaku saja. Artinya, cukup dengan punishment atau penjara. Ini terapi sederhana dan mudah dia pahami supaya dia bisa mengubah kebiasaan itu," ujar Denrich.

Terkait dengan dampak yang bisa dialami korban pelecehan ini, Denrich menjelaskan, trauma terhadap anak itu tergantung dengan penanganan pasca kejadian itu berlangsung. Ia berharap, agar anak-anak korban pelecehan ini dapat segera tertangani oleh pihak yang profesional agar tidak berdampak pada mereka di usia dewasa.

"Tiap-tiap anak berbeda, tergantung seberapa tingkat ketakutan mereka, tingkat traumanya dan seberapa cepat perubahan persepsi mereka atas perilaku yang mereka alami. Makanya, setiap anak harus diperiksa satu persatu, mereka juga membutuhkan treatment berbeda-beda. Karena, ada anak yang bisa melaluinya dengan cepat tanpa terlalu banyak trauma, tapi ada juga anak yang mencernanya lebih dalam dan panjang," kata Denrich.

Ia berharap, pemeriksaan terhadap pelaku dan korban dapat berjalan baik dan ditangani oleh psikolog yang berwenang. Karena menurutnya sifat manusia itu kompleks sehingga membutuhkan penanganan psikologis yang bersifat personal. Sehingga, untuk pemulihan membutuhkan tidak hanya satu macam terapi atau pendekatan, namun sesuai dengan kondisi pelaku dan korban.

"Semua relatif, ada anak usia di bawah 12 rahun yang mudah melewati masa trauma, ada juga yang kesannya tidak apa-apa, tetapi ketika dia berusia dewasa malah menjadi masalah, atau bisa saja sekarang bermasalah namun jika ia mendapatkan terapi, akan menjadi lebik baik di kemudian hari," ujar Denrich.

Sebelumnya diberitakan, petugas Kepolisian Resor Purwakarta telah menangkap pelaku DR pada Kamis, 5 Juli 2018 di Kampung Pasir Kahiyang, Desa Lebak Anyar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.  Saat dimintai keterangan oleh penyidik, pelaku DR mengakui pernah melakukan hubungan seks dengan hewan seperti ayam dan bebek. Atas pengakuan pelaku ini, petugas setempat akan melibatkan psikolog dalam melakukan penyidikannya.

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Nula
KOMENTAR
500/500