Ilustrasi kekerasan rumah tangga. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Pasangan Terpaut Usia yang Jauh Berisiko Terjadi Pembunuhan

Estimasi Baca:
Senin, 14 Mei 2018 06:05:25 WIB
Penelitian menunjukkan risiko pembunuhan oleh pasangan semakin meningkat seiring dengan semakin jauhnya rentang perbedaan usia pasangan.

Kriminologi.id - Terungkapnya peristiwa pembunuhan dan pembakaran Laura (41) menggegerkan warga Gambir, Jakarta Pusat. Laura tewas secara mengenaskan di tangan Stefanus (25), calon suami yang terpaut 16 tahun lebih muda dari dirinya. Hasil penelitian menunjukkan, perbedaan usia menjadi salah satu faktor risiko terjadinya pembunuhan oleh pasangan.

Rencana pernikahan pada Agustus 2018 mendatang pun kandas begitu saja karena emosi sang kekasih yang meledak hingga berujung pada pembunuhan yang disertai pembakaran itu. Stefanus gelap mata setelah kekasihnya mencibir dan mengungkit-ungkit biaya pernikahan serta masa lalunya.

Salah satu fakta yang menarik untuk dikaji lebih jauh adalah perbedaan usia di antara keduanya yang sangat mencolok, yakni 16 tahun. Adakah keterkaitan antara rentang perbedaan usia pasangan dan tingkat risiko pembunuhan oleh pasangan?

Tiga peneliti dari Amerika, yakni Noelia Breitman, Todd K. Shackelford dan Carolyn Rebecca Block ternyata pernah meneliti tentang hal ini dan ditulis dalam jurnal berjudul Couple Age Discrepancy and Risk of Intimate Partner Homicide sebagai bagian dari serial jurnal Violence and Victims, Volume 19, Nomor 13, Juni 2004.

Hasil penelitian Breitman dan rekan-rekan menunjukkan bahwa perbedaan usia menjadi salah satu faktor risiko terjadinya pembunuhan oleh pasangan. Risiko pembunuhan pasangan intim sangat meningkat bagi pasangan yang memiliki perbedaan usia yang jauh, di mana pria setidaknya 16 tahun lebih tua dari pasangan wanitanya atau wanita setidaknya 10 tahun lebih tua dari pasangan prianya, jika dibandingkan dengan pasangan sama usia.

Penelitian ini menggunakan Chicago Homicide Dataset yang terdiri dari seluruh data pembunuhan yang terjadi di Chicago dari tahun 1965 hingga 1996, di mana tercatat sebanyak 24.609 kasus pembunuhan terjadi selama periode tersebut. Dari data tersebut, Breitman dan rekan-rekan menganalisis 2.577 kasus pembunuhan yang korbannya dibunuh oleh pasangan, baik yang telah menikah atau belum menikah, dengan usia minimal wanita 18 tahun.

Mereka kemudian membagi 14 kategori perbedaan usia pasangan, lalu memperkirakan populasi pasangan intim heteroseksual dengan mengaplikasikan data proporsi perbedaan usia dari Chicago Women’s Health Risk Study terhadap populasi wanita berusia 18 tahun dan lebih di Chicago tahun 1980. Kemudian menghitung risiko pembunuhan berbasis populasi dari data tersebut.

Infografik data pembunuhan oleh pasangan berbeda usia. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Hasilnya menunjukkan bahwa risiko pembunuhan oleh pasangan secara substansial meningkat untuk pasangan dengan perbedaan usia yang sangat jauh. Tingkat pembunuhan pada pasangan yang usia wanita lebih tua 16 tahun atau lebih dari usia pasangan prianya (21,41 kasus per 100.000 pasangan per tahun) empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan yang tidak ada perbedaan usia (5,25 kasus per 100.000 pasangan per tahun).

Sementara risiko pembunuhan oleh pasangan di mana usia pria lebih tua 16 hingga 20 tahun dari pasangan wanitanya (23,99 kasus per 100.000 pasangan per tahun) memiliki tingkat 4,5 lebih tinggi jika dibandingkan dengan pasangan usia sama.

Perhitungan Risiko Berdasarkan Jenis Kelamin Pelaku

Lebih jauh lagi, Breitman dan rekan-rekan juga mengategorikan kembali kasus pembunuhan oleh pasangan tersebut berdasarkan jenis kelamin pelaku. Menariknya, hasil yang didapatkan menunjukkan peningkatan yang sama. Baik pasangan pria maupun wanita sebagai pelaku, risiko pembunuhan oleh pasangan lebih tinggi pada pasangan dengan perbedaan usia yang jauh.

Risiko per 100.000 pasangan per tahun untuk wanita pelaku pembunuhan tertinggi ketika pasangan prianya lebih tua dari si wanita dengan beda usia lebih dari 15 tahun (11,38 kasus ketika pria 16 hingga 20 tahun lebih tua; 9 kasus ketika pria lebih dari 20 tahun lebih tua), atau ketika si perempuan lebih tua 13 hingga 15 tahun dari pasangan prianya (9,11 kasus). Nilai tersebut didapatkan dari analisis terhadap total 1.255 kasus.

Infografik data pembunuhan oleh pasangan berbeda usia. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Dalam kasus pria sebagai pelaku, risiko per 100.000 pasangan per tahunnya tertinggi ketika pria berusia lebih tua 16 hingga 20 tahun (12,6 kasus) atau pasangan wanitanya lebih tua 10 tahun atau lebih dari si pria.

Dengan rincian 9,11 kasus ketika wanita berusia 10 hingga 12 tahun lebih tua, 8,02 ketika perempuan berusia 13 hingga 15 tahun lebih tua, 16,4 kasus ketika wanita lebih tua dengan perbedaan usia lebih dari 15 tahun. Nilai tersebut didapatkan dari analisis terhadap total 1.322 kasus.

Infografik data pembunuhan oleh pasangan berbeda usia. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Fakta menarik lainnya yang didapatkan dari hasil penelitian Breitman dan rekan-rekannya adalah catatan kriminal sebelumnya dari pelaku tidak berpengaruh pada tingkat risiko pembunuhan pada pasangan. Baik pria/wanita yang pernah terlibat kasus hukum maupun yang belum pernah, memiliki tingkat risiko yang sama untuk menjadi pelaku pembunuhan pada pasangannya.

Meskipun penelitian ini tidak secara langsung menjelaskan apa yang menyebabkan meningkatnya risiko pembunuhan oleh pasangan seiring semakin jauhnya perbedaan usia pasangan, Breitman dan rekan-rekan menghadirkan beberapa kemungkinan alasan.

Pertama, perbedaan usia pasangan memiliki efek langsung pada kekerasan yang mematikan di antara pasangan. Misalnya, pasangan yang sangat berbeda dalam usia juga mungkin memiliki kekuatan fisik dan kerentanan yang jauh berbeda, sehingga risiko korban untuk terbunuh dari serangan pasangannya lebih mungkin terjadi.

Selain itu, mereka juga mengutip hasil penelitian Wu dan rekan-rekan (1995; 2001) yang menghadirkan skenario lain. Yakni perbedaan usia pasangan adalah salah satu aspek dari heterogenitas pasangan dan heterogenitas itu memiliki efek mendasar pada stress dalam hubungan. 

Meskipun penelitian Wu tidak menyebut secara langsung kekerasan pasangan, masuk akal untuk berhipotesis bahwa kekerasan bisa menjadi salah satu hasil dari peningkatan stress dalam suatu hubungan.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500