Pil PCC, Foto: Ist/kriminologi.id

PCC dan Somadril, Obat Kuat Para Pelacur

Estimasi Baca:
Selasa, 19 Sep 2017 13:06:48 WIB

Kriminologi.id - Kasus penyalahgunaan obat PCC (paracetamol, caffeine, dan carisoprodol), yang memakan puluhan korban dari kalangan remaja terus didalami oleh pihak-pihak terkait. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah mendalami kasus tersebut, termasuk penyebaran obat keras itu yang memakan dua korban meninggal dunia.

Badan POM menyatakan, pihaknya secara serentak telah menurunkan tim guna menelusuri kasus ini lebih lanjut. Selain itu, seperti yang dilansir dari laman pom.go.id, Selasa, 19 September 2017, BPOM juga melakukan investigasi terkait obat lain yang juga berbahaya.

“Hasil uji laboratorium terhadap tablet PCC menunjukkan positif mengandung Karisoprodol, dan sedang diuji bahan aktif lain,” kata BPOM dalam laman tersebut.

Badan POM juga mengklarifikasi, bahwa seluruh obat yang mengandung Karisoprodol, termasuk Somadril, dibatalkan izin edarnya pada 2013. Hal itu dikarenakan, menurut Badan POM dampak penyalahgunaannya lebih besar jika dibandingkan dengan efek terapinya.

Penyalahgunaan obat tersebut karena obat-obatan yang mengandung zat aktif Karisoprodol memiliki efek farmakologis sebagai pelemasan otot. Namun di dalam tubuh akan segera dimetabolisme menjadi zat aktif lain yaitu Meprobamat yang menimbulkan efek menenangkan (sedatif). Efek tersebut menurut BPOM menyebabkan obat-obat yang mengandung zat aktif Karisoprodol disalahgunakan.

Namun apakah pembatalan izin edar yang dikeluarkan BPOM sudah berjalan sesuai prosedur?

BACA: Bareskrim Gerebek Pabrik PCC di Cimahi, 4 Ton Bahan Baku Disita

Hasil pelacakan di dunia maya, Kriminologi mendapati sebuah hasil penelitian yang dikeluarkan oleh lembaga penelitian Amerika Serikat yang intens meneliti obat-obatan dan kesehatan (US National Library of Medicine National Institutes of Health).

Laman ncbi.nlm.nih.gov pada 2014 merilis penelitiannya dengan judul “Somadril and edgework in South Sulawesi”. Hasilnya mengungkap betapa mudahnya mendapatkan Somadril, nama generik dari PCC. Penelitian itu bertujuan mengungkap bagaimana pekerja seks menggunakan obat-obatan itu, pola penggunaanya dan pengendalian risiko atas obat tersebut.

Penelitian itu mengkhususkan obat-obatan psikoaktif yang mensyaratkan resep dokter untuk mendapatkannya. Penelitian itu juga mengkhususkan pil Somadril yang beredar di masyarakat.

Dalam penelitian itu disebutkan telah mewawancarai sekelompok anak-anak muda dari usia 18 hingga 25 tahun yang biasa mengkonsumsi Somadril. Obat tersebut memberi peran lebih dalam kehidupan mereka. Di antara kelompok yang mengaku menggunakan Somadril, punya pola penggunaan berbeda.

Dari hasil wawancara kepada petugas mal, pelayan, petugas salon, mereka mengakui jika mengkonsumsi Somadril punya efek yang berbeda-beda. Bahkan mereka melaporkan hanya mengkonsumsi satu hingga tiga pil sehari. Hal itu untuk membantu mereka bersosialisasi dan meningkatkan libido.

Penelitian itu juga mengambil wawancara pekerja seks di sepanjang Pantai Losari, Makassar, serta para pelayan yang bekerja di bar karaoke. Dalam wawancara itu bahkan mereka antusias menceritakan pengalaman mengkonsumsi produk itu dan memperdebatkan manfaat dan risiko relatifnya. 

BACA: Polda Sultra Tahan 16 Tersangka Pengedar Pil PCC

Dari sampel wawancara yang diambil dari tiga pria dan tiga perempuan, didapatkan bahwa efek buruk obat tersebut yakni, susah tidur, mengantuk, cemas, sedih, menangis, lebih banyak berpikir, membuat bodoh. Sementara efek manfaat dari obat itu mampu membuat seseorang percaya diri, menghilangkan hasrat seksual, nyaman.

Selain melalui penelitian itu, maraknya peredaran obat tanpa resep dokter juga bisa dilihat dari banyaknya penyitaan obat itu yang dilakukan pihak kepolisian.

Pada Senin, 10 Oktober 2016, tercatat petugas Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar menggagalkan pengiriman obat daftar G atau somadril dengan berat 21 kilogram dengan tujuan Timika, Papua. Rencana obat tersebut dikirim melalui pesawat Garuda Indonesia gagal setelah petugas pemeriksa mengetahuinya.

Kepolisian Resor Gowa, Makassar, Sulawesi Selatan, juga menggagalkan peredaran jutaan obat daftar G berbagai jenis, Senin 17 Juli 2017. Polisi menyita 32 ribu butir obat daftar G di antaranya Tramadol, Somadril, Gastrul, Gynaecosit, Luxuan, Emperor Capsule, Frixitas.

Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara menahan 16 tersangka pengedar pil PCC, Senin 18 September 2017. Polisi juga menyita 5.428 butir produk penenang dengan rincian 1.647 butir Tramadol, 3.043 butir PCC dan 738 butir Promed.

Sementara informasi terbaru, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Kepolisian Republik Indonesia (Polri) berhasil menggerebek sebuah pabrik yang diduga memproduksi pil PCC di Cimahi, Jawa Barat, Senin, 18 September 2017. Polisi menyita 4 ton bahan baku yang diduga menjadi bahan pembuatan pil PCC. AS

KOMENTAR
500/500