Ilustrasi pemeriksaan pasien di rumah sakit. Foto: Pixabay.com

Pelecehan Pasien Cantik, IDI: Pencet Puting Payudara Teknik Anestesi

Estimasi Baca:
Senin, 29 Jan 2018 11:00:49 WIB

Kriminologi.id - Sekjen Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi mengatakan memencet puting payudara merupakan salah satu teknik yang digunakan dokter atau perawat anestesi untuk mengetahui apakah seorang pasien sudah pulih dari keadaan bius. Pernyataan Adib Ini menyikapi kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Zunaidi Abdillah, seorang mantan perawat Rumah Sakit National Hospital Surabaya.

Meskipun diakuinya memencet payudara merupakan salah satu teknik untuk mengetahui apakah pasien pulih dari keadaan bius, menurut Adib hal itu harus tetap dilakukan sesuai prosedur.

"Ya itu salah satunya (pencet puting). Tapi kan ada batasannya, misalnya karena terkait hal yang sensitif maka perlu pendampingan, apakah dari dokter atau keluarga," kata Adib saat dihubungi Kriminologi melalui sambungan telepon di Jakarta, Senin, 29 Januari 2018.

Menurut Adib, petugas anestesi punya wewenang menangani pasien sebelum dan sesudah operasi di ruang pemulihan. Bahkan menyentuh daerah dada pasien juga merupakan wewenangnya sejauh itu termasuk dalam prosedur penanganan.

Namun, kata Adib, di ruang pemulihan, seorang petugas anestesi hanya melakukan kontrol saja. 

"Misalnya kalau dia menyentuh daerah dada untuk pelepasan alat elektroda atau red dot mestinya ada pendampingan kalau itu terkait lawan jenis," ujarnya.

Baca: Kejanggalan Pengakuan Korban Pelecehan di RS National Hospital

Zunaidi Abdillah sudah ditetapkan sebagai tersangka. Berdasarkan gelar perkara, penyidik diikuti pengawas intern Polrestabes Surabaya, polisi setidaknya mengantongi dua alat bukti yang cukup.

Mantan perawat itu dijerat Pasal 290 KUHP, tentang pencabulan kepada seseorang yang pingsan atau dalam keadaan tidak berdaya dengan ancaman tujuh tahun penjara.  Kejadian pelecehan seksual itu dilakukannya saat ia sedang melakukan tugasnya sebagai asisten dokter anestesi.

"Saat tersangka mengambil elektroda atau red dot yang menempel di tubuh korban itulah, perbuatan itu dilakukan. Dia mengaku merasa terangsang," kata Kepala Polrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan di Surabaya, Jumat, 27 Januari 2018.

Baca: Perhimpunan Perawat Sebut Sanksi RS National Hospital Terlalu Cepat

Dugaan pelecehan seksual di RS National menurut Adib, perlu investigasi menyeluruh dilakukan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk mengetahui apakah Zunaidi Abdillah memang melanggar prosedur penanganan pasien di ruang pemulihan. 

"Harus ada investigasi dari PPNI apakah ada prosedur yang dilanggar," ujarnya.

Sementara itu Ketua Umum Komite Persatuan Perawat Nasional Indonesia  (PPNI), Harif Fadillah sebelumnya mengatakan penetapan tersangka atas zunaidi terlalu cepat. Pihaknya akan mengklarifikasi ke Polrestabes Surabaya terkait kronologis pelecehan itu yang membuat mantan perawat kehilangan pekerjaan dan ditetapkan sebagai tersangka. 

"Terlalu cepat pemecatan hanya karena rekaman video yang kurang dari satu menit," ujar Harif Fadilah kepada Kriminologi pada Minggu, 28 Januari 2018.

Baca: Perawat Pria Lecehkan Pasien Cantik di Rumah Sakit

Harif mengatakan, pihaknya akan mendatangi Polrestabes Surabaya untuk mengetahui kronologis peristiwa pelecehan seksual oleh mantan perawat rumah sakit National Hospital Surabaya terhadap pasiennya. 

"Kami ingin memastikan kronologinya seperti apa," ujar Harif. 

Seorang perawat pria diduga melakukan pelecehan terhadap seorang pasien perempuan di Rumah Sakit National Hospital Surabaya, Jawa Timur, saat masih lemas dalam perawatan usai pembiusan.

Pasien perempuan bernama Widya meluapkan kemarahannya setelah digerayangi payudaranya dua kali. Kisah ini terekam dalam video berdurasi 1 menit yang diunggah di media sosial Instagram oleh akun bernama @thelovewidya pada Rabu, 24 Januari 2018.

Dalam video itu, wanita berusia 23 tahun itu terus menangis, sambil terduduk lemas di atas ranjang rumah sakit. Sesekali tangannya sebelah kiri menunjuk-nunjuk seorang pria yang diketahui sebagai perawat.

Dicecar pengakuan oleh perempuan berambut panjang yang masih terpasang infus di tangannya itu, perawat pria yang berdiri tepat di depan Widya mengenakan baju putih strip biru dan celana hitam mengakui perbuatannya. AS

KOMENTAR
500/500