Pelibatan Anak dalam Terorisme, LPAI: Hak Mereka Dirampas

Estimasi Baca :

Ilustrasi penculikan anak. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi penculikan anak. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Pelibatan anak-anak dalam kasus bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur sangat disayangkan. Ini juga mencerminkan wajah anak Indonesia yang masih menjadi korban eksploitasi. Diketahui, pelaku bom bunuh diri tiga lokasi di Surabaya, Jawa Timur adalah satu keluarga. Mereka terdiri dari ayah dan ibu serta keempat anaknya yang masih di bawah umur.

Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Reza Indragiri mengatakan anak-anak yang dilibatkan ayahnya dalam serangan di Surabaya merupakan korban. Mereka, kata Reza, adalah pribadi-pribadi yang haknya dirampas.

Pernyatan Reza merujuk Pasal 76c Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang melarang  siapa pun menyuruh anak melakukan kekerasan. Bertemu pasal 15 UU yang sama, salah satu hak anak adalah bebas dari perlibatan dalam aksi kekerasan. 

"Merujuk pada larangan dan hak tersebut, bisa dipahami bahwa walaupun ke badan anak-anak dimaksud dikenakan rompi bahan peledak, mereka adalah pihak yang diajak atau dilibatkan oleh orang lain untuk melakukan aksi kekerasan. Juga dapat dikatakan, mereka adalah anak-anak yang tengah dirampas hak-haknya," kata Reza dalam siaran pers yang diterima Kriminologi.id di Jakarta, Selasa, 14 Mei 2018. 

Dengan demikian, menurut Reza, anak-anak tersebut merupakan korban. Dan karena pihak yang mengajak atau melibatkan anak-anak itu dalam kekerasan adalah orang tua mereka sendiri, maka orang tua tersebut, jika masih hidup, harus dijatuhi pemberatan hukuman.

Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI Anang Hermansyah mengatakan pelibatan anak-anak dalam serangan bom memukul dunia pendidikan di Indonesia. Harus ada koreksi dalam sistem pembelajaran kepada anak didik. Anang sendiri mengaku prihatin terkait pelaku bom melibatkan anak-anak.

"Saya prihatin atas keterlibatan anak-anak dalam aksi teror. Ini harus diurai mengapa sampai anak-anak terlibat," ujar Anang di Jakarta.

Musikus asal Jember ini menyebutkan pemerintah harus semakin meningkatkan penguatan pendidikan karakter pada anak didik yang telah tertuang dalam Perpres No 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. 

"Sekolah tidak hanya dimaknai belajar ilmu eksakta, mengejar nilai, namun lebih dari itu menguatkan karakter anak didik. Memumbuhkan rasa empati, gotong royong, dan kepedulian. Ini nilai yang harus ditanamkan bagi anak didik," ujarnya. 

Selain itu, Anang juga menyoroti hubungan antara pihak sekolah dan wali siswa. Menurut dia, hubungan pihak sekolah dengan wali siswa harus terbangun dengan baik. Pola komunikasi yang baik, kata Anang, pihak sekolah akan mengetahui kondisi dan latar belakang siswa dan wali siswa.

"Hubungan pihak sekolah dengan wali siswa mestinya terbangun dengan baik. Setidaknya masalah di rumah siswa akan diketahui pihak sekolah," kata Anang. AS

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Pelibatan Anak dalam Terorisme, LPAI: Hak Mereka Dirampas

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu