Abdullah Sunandar eksekutor Herdi Sibolga di Penjaringan. Foto: Ist/Kriminologi.id

Pembunuh Bayaran Herdi Sibolga Semi Profesional, Ini 5 Indikatornya

Estimasi Baca:
Minggu, 5 Ags 2018 12:05:24 WIB

Kriminologi.id - Pembunuh bayaran beraksi kembali, kali ini korbannya adalah warga penjaringan bernama Herdi Sibolga. Ia tewas ditembak di kepala dan dadanya pada 20 Juli 2018.

Hingga saat ini, polisi telah mengamankan empat orang yang terlibat dalam pembunuhan Herdi. Para pelaku dijanjikan uang senilai Rp 400 juta jika berhasil membunuh Herdi.

Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, diketahui setiap orang menjalankan perannya masing-masing dalam pembunuhan tersebut. Pelaku AS misalnya, bertugas menjadi eksekutor, pelaku PWT dan SM bertugas mengawasi daerah sekitar saat eksekusi dilakukan. Sedangkan pelaku JS bertugas mempelajari kebiasaan dan keseharian korban. Pembagian kerja antarpelaku ini menggambarkan perencanaan yang cukup baik sebelum eksekusi dilakukan.

Menurut tulisan Schlesinger yang berjudul The Contract Murderer: Patterns, Characteristics, and Dynamics menyebutkan ada tiga tingkatan profesionalitas para pembunuh bayaran. Mulai dari kelompok amatir, semi-profesional, hingga profesional.

Tingkatan profesionalitas para pembunuh ini dapat dilihat dari beberapa indikator. Indikator pertama adalah dari metode pembunuhan yang dilakukan. Kelompok pembunuh bayaran amatir biasanya melakukan eksekusi dengan perencanaan yang buruk, tidak terorganisir, dan bahkan tindakan eksekusi kerap dilakukan secara spontan.

Sedangkan kelompok pembunuh bayaran semi-profesional sudah memiliki perencanaan, pembagian kerja, dan dilakukan dengan sistematis. Walaupun sebenarnya perencanaan yang dilakukan kelompok ini masih cukup sederhana dan masih memiliki banyak celah yang memungkinkan bagi penegak hukum untuk melacak mereka.

Kelompok pembunuh bayaran kelas profesional lebih cermat dalam membuat perencanaan, mulai dari awal kedatangan, saat eksekusi, hingga saat melarikan diri telah dibuat perencanaannya. Inilah kemudian yang menyulitkan pihak penegak hukum untuk melacak mereka dan melakukan penangkapan.

Herdi, korban penembakan misterius di Penjaringan, Jakarta Utara. Foto: Walda Marison/Kriminologi.id
Herdi, korban penembakan misterius di Penjaringan, Jakarta Utara. Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

Indikator kedua adalah kondisi tempat kejadian perkara atau TKP. Kelompok amatir kerap meninggalkan berbagai barang bukti di TKP dan bahkan wajah mereka juga kerap terekam dalam CCTV. Sedangkan kelompok semi-profesional hanya meninggalkan sedikit barang bukti di TKP. Misalnya saja selongsong peluru, sidik jari, dan puntung rokok yang bisa saja dilacak kepolisian untuk menemukan mereka.

Kelompok profesional sangat sedikit meninggalkan barang bukti di TKP, bahkan mayat korban dibuang di tempat-tempat yang menyulitkan penyelidikan. Tindakan eksekusi, pembersihan barang bukti, dan pembuangan mayat korban dilakukan dengan sangat efektif dan biasanya tidak meninggalkan saksi mata.

Indikator ketiga adalah tipe korban yang menjadi target eksekusi. Kelompok pembunuh bayaran amatir seringkali disewa untuk melakukan eksekusi terhadap pasangan intim si penyewa baik suami, istri, ataupun pasangan kekasih.

Sedangkan kelompok pembunuh bayaran semi-profesional biasanya disewa untuk melakukan eksekusi terhadap rival bisnis, baik legal maupun ilegal. Kelompok pembunuh bayaran profesional disewa untuk melakukan eksekusi terhadap anggota kelompok organisasi kriminal yang seringkali juga menjalankan bisnis-bisnis ilegal.

Indikator keempat adalah motif para klien yang menyewa kelompok pembunuh bayaran. Motif klien yang menyewa kelompok pembunuh bayaran amatir biasanya adalah sakit hati, dendam, dan masalah personal antara klien dengan korban.

4 Pelaku penembakan Herdi SIbolga dirilis di Polda Metro Jaya (28/07/2018). Foto: Walda/Kriminologi
4 Pelaku penembakan Herdi SIbolga dirilis di Polda Metro Jaya (28/07/2018). Foto: Walda/Kriminologi

Sedangkan motif klien yang menyewa kelompok pembunuh bayaran semi profesional adalah persaingan bisnis. Sebenarnya klien yang menyewa kelompok pembunuh bayaran profesional juga bisa saja didasari motif persaingan usaha, akan tetapi biasanya persaingan usaha ini melibatkan bisnis ilegal, kelompok kriminal, dan jaringan kelompok kejahatan yang melibatkan politisi hingga aparat penegak hukum.

Indikator kelima kondisi organisasi kelompok pembunuh bayaran. Kelompok pembunuh bayaran amatir kondisinya sangat tidak stabil. Selain itu antara satu anggota dengan anggota lainnya belum tercipta solidaritas yang tinggi sehingga memungkinkan munculnya konflik-konflik internal yang bisa berujung keluarnya anggota kelompok.

Sedangkan kelompok pembunuh bayaran semi-profesional lebih stabil karena mereka sudah saling mengerti posisi dan fungsi masing-masing. Walaupun konflik masih terjadi namun dapat diselesaikan. Sedangkan untuk kelompok pembunuh bayaran profesional, kondisi organisasi kelompoknya sudah sangat stabil. Konflik-konflik internal yang muncul sangat minim, masing-masing orang sudah bertindak sesuai dengan perannya dalam kelompok tersebut. Bahkan anggota kelompok pembunuh bayaran profesional akan saling melindungi rekannya jika ada salah satu di antara mereka tertangkap.

Selain itu, tulisan Douglas dkk dalam Crime Classification Manual juga menyatakan para pembunuh profesional hanya sedikit meninggalkan luka di tubuh korbannya. Luka tembak maupun bekas tusukan pembunuh bayaran profesional tepat ke organ vital korban sehingga korban akan tewas seketika itu juga.

Melihat pola tindakan dan metode yang dilakukan kelompok pembunuh bayaran terhadap Herdi Sibolga, kelompok tersebut dapat dikategorikan sebagai kelompok pembunuh bayaran semi-profesional. Hal ini disebabkan mereka masih meninggalkan cukup banyak barang bukti di TKP seperti selongsong peluru dan terekam CCTV walaupun wajahnya tidak dapat dikenali.

Selain itu, kelompok pembunuh bayaran terhadap Herdi juga sudah membuat perencanaan eksekusi dan melakukan pembagian peran antar-anggota kelompoknya. Walaupun perencanaan tersebut masih memiliki banyak celah sehingga kepolisian dengan mudah melacak keberadaan mereka.

KOMENTAR
500/500