Ilustrasi kekerasan di Sekolah. Ilustrasi: Kriminologi.id

Pemerhati: Anak Pelaku Kekerasan Tumbuh di Keluarga Tidak Bahagia

Estimasi Baca:
Sabtu, 2 Des 2017 05:00:05 WIB

Kriminologi.id - Kasus kekerasan yang terjadi di sekolah seperti tidak pernah habis mencoreng dunia pendidikan di Tanah Air. Kasus yang sangat menyita perhatian dunia pendidikan minggu ini adalah tewasnya Andhika Maulana, siswa Sekolah Dasar Mekarjaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Keluarga dinilai memiliki peran vital terhadap beragam kasus kekerasan yang terjadi.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat, 84 persen pelajar mengaku pernah mengalami kekerasan di sekolah. Sebanyak 45 persen siswa laki-laki menyebut bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan di sekolah, sementara 22 persen siswa perempuan menyebut bahwa guru atau petugas sekolah sebagai pelaku kekerasan di sekolah.

Pemerhati pendidikan, Asep Sapaat menilai banyak persoalan yang tengah terjadi di dunia pendidikan Indonesia tidak terselesaikan. Banyaknya persoalan itu, kata Asep, karena akar persoalan tidak diselesaikan.

“Sebenarnya fenomena ini, persolan akan terus berlajut, karena akar persoalan tidak terselesaikan. Ada tiga ranah, formal informal dan nonformal,” kata Asep melalui sambungan telepon kepada Kriminologi, Kamis, 30 November 2017.

Baca: Aniaya Teman SD Hingga Tewas, AR Selalu Menangis Lihat Orang Asing

Asep menjelaskan, pendidikan di keluarga menurutnya menjadi pengaruh besar dalam perilaku anak-anak, selain lingkungan sekolah dan masyarakat. 

“Pedidikan di keluarga adalah hal-hal yang paling mempengaruhi. Komunikasi di keluarga mengedepenakan kekerasan dengan verbal, marah-marah, kekerasan fisik. Kalau suami istri ada problem anak-anak melihat. Hal tiu akan ditiru, karena anak-anak itu para peniru,” ujarnya.

Sementara itu, selain keluarga, faktor lainnya juga mempengaruhi perilaku anak adalah di lingkungan sekolah. Hal itu menurut Asep akan menjadi kompleks persoalannya jika problem yang ada di keluarga tidak terselesaikan.

“Di sekolah, saya pikir sama problemnya, bullying misalkan itu juga tumbuh di sana. Di dalam persoalan kekerasan keluarga tidak tuntas, anak-anak kemudian bersekolah. Anak yang pernah jadi korban kekerasan, pada saat bertemu dengan yang lebih lemah akan meluapkan perasaannya,” katanya.

Baca: Tewaskan Murid SD, AR Wajib Jalani Konseling Enam Bulan

Asep menjelaskan, pada saat anak korban kekerasan memiliki kekuatan pada satu kesempatan, kemudian bertemu dengan orang yang lebih lemah. Asep meyakini, anak tersebut akan meluapkan kemarahan, kebencian atau kekesalan yang didapatnya. 

Bahwa anak-anak pelaku kekerasan, kata Asep, merupakan anak-anak yang tidak bahagia di lingkungan keluarga. 

“Mereka biasanya tumbuh di lingkungan keluarga tidak bahagia. Jadi orang-orang yang mengintimidasi sebenarnya jiwanya rapuh atau pelaku kekerasan sebenenarnya jiwanya rapuh. Dia tidak mendapatkan kebahagiaan di keluarga. Sehingga caranya dengan mengintimidasi, membully, atau tindakan lain agar anak tersebut merasa puas,” ujar Asep.

Bentuk kekerasan itu menurut Asep bisa berupa broken home, kekerasan oleh para orang tua kepada anak. Dan faktor-faktor lain yang bisa menyebabkan kekerasan tersebut muncul dan membuat anak tidak bahagia.

“Faktor ekonomi, faktor kekerasan. Anak akan menduplikasi. Duplikasi perilaku itu bagian dari ekspresi. Marahnya kepada pihak lain yang lebih lemah,” katanya.

Baca: Tewaskan Siswa SD, Bocah 11 Tahun Jalani Trauma Healing

Menurut Asep, faktor-faktor tersebut baik lingkungan rumah dan sekolah ataupun masyarakat saling menguatkan dalam membentuk anak menjadi seorang pelaku kekerasan.

“Tapi kalau ditanya yang mana paling berpengaruh, saya jawab keluarga paling berperan. Di keluarga, anak yang tumbuh dengan bahagia, lahir dari proses pola asuh yang baik, mengedepeankan kasih sayang. Mustahil melahirkan perilaku kekerasan,” tegasnya.

Asep juga menjelaskan, persoalan lain yang menjadi pokok terjadinya perilaku kekerasan pada anak adalah persoalan psikis anak korban kekerasan.

“Pada saat anak korban kekerasan. Problem akut ada pada sisi psikis ini yang tidak mudah memulihkannya. Berbahayanya kalau tidak diatasi sangat mungkin akan yang jadi korban bisa menjadi pelaku,” katanya.

“Itu, akan seperti itu siklusnya. Anaka-anak yang menjadi korban harus dipulihkan psikisnya secara tuntas,” ujarnya.

Terkait pemulihan secara tuntas itu menurut Asep, diperlukan peran pemerintah. Pasalnya, peran orang tua untuk proses pemulihan itu sangat penting. Pemulihan tersebut juga harus didukung oleh orang tua anak agar anak pelaku kekerasan dapat kembali normal.

Baca: Tewaskan Murid SD, Bocah 11 Tahun di Bandung Depresi Berat

“Ketika anak berperilaku penuh dengan kekerasan, namun memang orang tuanya suka dengan kekerasan. Maka di situ, ada satu indikator gagal dalam mendidik anaknya. Maka anaknya akan diserahkan negara,” katanya.

Satu hal yang paling penting menurut Asep, tekait pemecahan problem kekerasan pada anak terkait mekanisme hukuman. Menurutnya, jika seseorang anak menjadi pelaku kekerasan, orang-orang yang ada di lingkungan sekita anak tersebut harus menerima hukuman akibat perilaku itu.

“Mekanisme yang dilakukan adalah kita fokus pada orang-orang di sekitarnya, hukumanya yang paling fear harus ditimpakan ke orang tuanya. Sama ketika terjadi di sekolah.  Sekolah harus betanggung jawab, karena sekolah, kan lembaga. Kalau saya sederhana, cabut saja izinnya supaya semua punya kesadaran kolektif,” tegas Asep.

Seperti diberitakan sebelumnya, Andhika Maulana tewas setelah dianiaya oleh AR saat peringatan hari Guru di lapangan PGRI, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Dari hasil olah tempat kejadian yang dilakukan pihak kepolisian, Andhika diketahui ditantang oleh AR, siswa siswa SD Ciapus 2 untuk berkelahi. Andhika yang merupakan siswa Sekolah Dasar Mekarjaya di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung tidak menanggapi tantangan AR.

Baca: Murid SD Tewas Usai Duel, KPAI: Guru Harus Bertanggung Jawab

Bahkan korban menyatakan tidak berani berkelahi dengan pelaku. Andika juga sempat meminta maaf kepada pelaku.
Namun AR tetap memukul korban di bagian ulu hati sebantak 1 kali. Selain itu pelaku juga menendang kemaluan korban. Pelaku AR kemudian memukul kembali bagian ulu hati korban hingga tersungkur.

Dalam keadaan jatuh, pelaku lalu menekan dada korban menggunakan lutut kanan. Pelaku juga memukul lagi di bagian leher korban sebanyak 3 kali.

Teman-teman korban juga sempat melerai perkelahian itu. AR akhirnya pergi dari tempat tersebut dan meninggalkan korban yang tergeletak di lapangan.

KOMENTAR
500/500