Barang bukti berupa mobil yang digunakan oleh pelaku perampokan yang berporfesi sebagai sopir taksi online. Foto: Arief Pratama/Kriminologi.id

Peminjaman Akun Bukti Penyedia Jasa Taksi Online Lalai

Estimasi Baca:
Sabtu, 20 Jan 2018 05:05:22 WIB

Kriminologi.id - Pinjam meminjam akun lain oleh oknum sopir taksi online yang digunakan menjemput penumpangnya banyak ditemukan di lapangan. Tidak jarang, sopir taksi online yang menjemput berbeda identitasnya dengan data yang dikirim perusahaan penyedia jasa angkutan transportasi daring (online) pada pemesan melalui telepon seluler (ponsel).

Hal ini menunjukkan perusahaan penyedia jasa taksi online lalai dalam melakukan pengawasan terhadap anggotanya, kata Pengamat Transportasi Azas Tigor Nainggolan kepada Kriminologi pada Jumat, 19 Januari 2018.

"Pinjam akun pengemudi lain itu tidak boleh. Kalau itu yang terjadi, menunjukkan pengawasan perusahaan provider taksi online itu lemah," ujarnya. 

Baca: Sopir Taksi Perampok Karyawati Bank BRI Pinjam Akun Uber Rekannya

Peminjaman akun ini yang dilakukan Aldy Erlangga, oknum sopir taksi Uber perampok karyawati Bank BRI Cabang Setia Budi, Bandung yang menggunakan akun rekannya bernama Helmi. 

Aldy, oknum sopir taksi Uber yang akunnya telah dibekukan (suspend) perusahaannya itu merampok Mega Anisa, penumpangnya sendiri, Rabu, 17 Januari 2018 malam. Mega berhasil lolos saat kendaraan yang ditumpanginya menunggu antrian di pintu keluar Gerbang Tol Cileunyi, Bandung, Jawa Barat. 

Ia loncat keluar mobil dengan borgol yang masih melingkar di tangan. Mega ditolong petugas penjaga pintu tol yang mengantarkannya ke kantor Patroli Jalan Raya (PJR).   

Baca: Hanya Dapat Rp 3 Juta Sebulan, Sopir Uber Nekat Rampok Karyawati Bank

Tigor menjelaskan kasus pinjam meminjam akun ini bukan hal baru di kalangan sopir taksi online. Dirinya punya pengalaman saat menggunakan jasa transportasi online itu, mobil dan sopir yang muncul berbeda dengan yang terlapor di aplikasi ponselnya. Namun, karena pertimbangan mendesak sehingga ia tidak menghiraukan perbedaan itu. 

"Sudah sering begitu. Bagaimana lagi, karena kami butuh sehingga naik aja," ujarnya. 

Tigor menambahkan, Pemerintah Daerah setempat bisa melakukan penindakan terhadap perusahaan provider yang terbukti lemah mengawasi driver (pengemudi) sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) tahun 2017.

Baca: Video: Mobil Sopir Uber Perampok Karyawati Bank Terekam CCTV

"Jangan asal terima orang melamar jadi partnernya (driver). (Pengawasan) Itu kan kelemahan perusahaan provider. Makanya, provider itu harus membentuk badan usaha angkutan umum," ujarnya. 

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 108 tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umur Tidak Dalam Trayek, kata Tigor itu dijelaskan angkutan taksi online harus memenuhi persyaratan. 

Misalnya, kata Tigor harus dilengkapi dengan kartu identitas yang menempel di dashboard mobil, stiker penanda taksi online. 

"Sampai sekarang kan itu belum dipenuhi. Padahal itu  bagian dari keamanan penumpang," ujarnya. SM

Reporter: Syahrul Munir
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500