Lokasi dokter Letty ditembak di klinik Azzahra Medical. Foto: Ist/Kriminologi

Penembakan Dokter Letty, Puncak Kekerasan Terhadap Perempuan

Estimasi Baca:
Sabtu, 18 Nov 2017 15:05:35 WIB

Kriminologi.id - Dokter Letty Sultri tewas ditembak suaminya dr. Helmi di tengah proses perceraian. Dokter Helmi menuntut dr. Letty agar membatalkan gugatan cerai yang diajukannya ke pengadilan.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan menyatakan kasus kematian dr. Letty merupakan bentuk femicide. Femicide adalah penghilangan nyawa perempuan berhubungan dengan identitas gendernya.

Femicide menurut Komnas perempuan adalah puncak dari kekerasan terhadap perempuan yang berakhir pada hilangnya nyawa perempuan.

LIHAT: Infografik Lima Kejanggalan Pengakuan Helmi Si Pembunuh Dokter Letty

"Femicide jarang terungkap atau dilaporkan, karena dianggap korban sudah meninggal," kata Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin di Jakarta, Selasa, 14 November 2017.

Data yang dimiliki Komnas Perempuan, kasus femicide minim terlaporkan ke Komnas Perempuan ataupun lembaga layanan. Hal itu dikarenakan, kata Mariana, dianggap korbannya sudah meninggal, padahal hak asasi seseorang atas martabat, hak kebenaran, hak atas keadilan dan sebagainya, tidak berhenti dengan hilangnya nyawa.

Mariana menjelaskan, kasus femicide cenderung dianggap kriminalitas biasa yang ditangani polisi, yang lebih fokus untuk mencari pelaku. Hal itu kata Mariana, minim analisa kekerasan berbasis gender dan tidak ada diskusi serta tidak memperhatikan aspek pemulihan korban serta keluarganya.

TONTON: Video: Adik Dokter Letty Nyaris Pukul Helmi

"Femicide perlu menjadi perhatian, karena dapat saja terjadi karena tidak dijalankannya fungsi perlindungan korban saat terancam nyawanya, termasuk dalam konteks PKDRT. Femicide terjadi karena kuatnya kuasa patriarki, relasi kuasa antara pelaku dan korban, dan pelaku adalah orang-orang dekat yang dikenal korban," kata dia.

Komnas Perempuan juga menganalisa pola-pola kasus femicide yang selama terjadi. Analisa itu didapat dari data yang dikumpulkan dari data terlaporkan langsung, tertulis, media dan mitra. Komnas Perempuan menilai, femicide dapat disebabkan oleh kekerasan seksual dengan atau berakhir pembunuhan, ketersinggungan maskulinitas seksual laki-laki.

Selain itu penyebab lain adalah kecemburuan, kawin siri yang tidak ingin terbongkar, menghindar tanggungjawab karena menghamili, prostitusi terselubung yang minim pantauan, dan kekerasan dalam pacaran. Pelaku adalah orang-orang yang dikenal, orang dekat, baik pacar, kawan kencan, suami, pelanggan, dan lainnya.

BACA: Tembak Istri, Helmi Sebut Arwah Dokter Letty Pindah ke Tubuh Lain

Pola kasus femicide yang terjadi menurut data Komnas Perempuan juga sadis dan tidak masuk akal, seperti korban dimasukkan dalam koper, dibuang di bawah jalan tol, terjadi di tempat kos atau hotel dengan kondisi jenazah dihukum secara seksual, dibunuh dalam keadaan hamil, dibuang ke lumpur, jurang dan lainnya.

Komnas Perempuan juga mencatat lima kasus pengaduan femicide yang dilaporkan langsung ke Komnas Perempuan, kemudian melalui penelusuran kliping di media di tahun 2017 saja, ada sekitar 15 kasus pembunuhan perempuan, termasuk dr. Letty.

Di tahun 2016, kasus-kasus yang mencuat antara lain kasus pembunuhan dan perkosaan berkelompok YY di Bengkulu, kisah korban yang diperkosa lalu dibunuh dengan gagang cangkul menancap di vagina korban, pembunuhan dan kekerasan seksual kepada F anak 9 tahun di Kalideres.

BACA: Polisi Bakal Periksa Penadah Mobil Letty yang Dijual Helmi

Pembunuhan korban yang dibuang dalam kardus di bawah jalan tol, pembunuhan dengan mutilasi ibu hamil di Tangerang karena relasi personal janji nikah.

Pelapor Khusus PBB untuk VAW (Violence Against Women), Dubracka Simonovic, pada tahun 2015, telah menyerukan kepada dunia agar setiap negara membuat femicide watch atau gender related killing of women watch.

Selain itu ia juga meminta agar data-data tersebut harus diumumkan setiap tanggal 25 November pada Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Data WHO menyebutkan, di seluruh dunia 37 persen pembunuhan perempuan dilakukan oleh intimate partner di mana di dalamnya terdapat suami, pacar, mantan suami, mantan pacar.

BACA: Sebelum Tembak Dokter Letty, Helmi Isi Peluru di Warung

Agar hal tersebut tak terulang Komnas Perempuan meminta polisi harus siaga penuh untuk menjaga dan menjamin keamanan pelapor atau perempuan yang terindikasi terancam jiwanya.

Kemudian Komnas Perempuan meminta media untuk menghindari viktimisasi pada korban dengan menjaga integritas korban dan keluarganya. Selain itu Komnas Perempuan meminta masyarakat, termasuk keluarga besar, tempat kerja, organisasi, lembaga pendidikan untuk menjadi bagian untuk pencegahan dan perlindungan berbasis komunitas.

Pemerintah juga diminta menyerukan pendataan yang serius terhadap femicide sebagai acuan agar bisa diambil langkah sistemik untuk pencegahan dan penangannya.

BACA: Kakak Letty tentang Helmi: Dia Tak Gila, Mungkin Psikopat

Dokter Letty Sultri tewas ditembak di tempat praktiknya di Klinik Azzahra Medical Centre, Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, Kamis, 9 November 2017, oleh suaminya. 

Aksi penembakan itu dilatari oleh masalah rumah tangga. Pertengkaran korban dan pelaku sudah diketahui warga yang berada di sekitar lokasi penembakan. Hingga kini tersangka penembakan, dr. Helimi, masih ditahan guna menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. AS

Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500