Pengamat: Anak Polisi, Metode Perekrutan Baru ISIS di Indonesia

Estimasi Baca :

Eka Fitra Akbar, terduga pelaku penyerangan dan pembakaran kantor Polres Dharmasraya, Sumatera Barat - Kriminologi.id
Eka Fitra Akbar, terduga pelaku penyerangan dan pembakaran kantor Polres Dharmasraya, Sumatera Barat

Kriminologi.id - Polisi menembak mati Eka Fitra Akbar, pelaku pembakaran Polres Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu, 12 November 2017. Belakangan, pria berusia 24 tahun ini ternyata adalh anak dari Inspektur Satu Muhammad Nur, perwira polisi yang bertugas di Kepolisian Resor Muaro Bungo.

Pengamat terorisme Al-Chaidar mengatakan Eka diduga terlibat Jaringan Ansarut Khilafah atau JAK yang berafiliasi dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS. Alasannya, kata Al Chaidar, letak Kabupaten Dharmasraya di antara dua provinsi yakni, Sumatera Barat dan Jambi. Ini sangat memungkinkan Eka terlibat JAK.

"Dharmasraya itu kabupaten baru yang sebenarnya berada di antara perbatasan antara Sumbar dan Jambi. Dan pelaku semuanya datang dari Jambi, bukan dari Sumbar. Mereka sudah mengincar kantor Polres Dharmasraya ini sejak lama," kata Al Chaidar kepada Kriminologi, Jakarta, Senin, 13 November 2017.

Al Chaidar mengatakan, sebagai anak perwira polisi, keterlibatan Eka dalam jaringan ini sangat mengejutkan, tak terkecuali bagi semua pengamat terorisme di Indonesia. Menurut dia, pola ini merupakan cara baru ISIS dalam melakukan perekrutan para anggotanya.

"Iya, ini cara baru dan mengejutkan kita juga itu," ujarnya.

Selain mengincar anak polisi, Al Chaidar juga menyebut penyerangan dengan cara membakar juga merupakan metode baru. ISIS, menurut Al Chaidar, belum pernah menyerang dengan cara yang demikian.

"Engak pernah pola ini dipakai ISIS dengan cara membakar. Yang biasa itu bom, senjata atau dengan cara menggunakan pisau atau sangkur. (Pembakaran kantor polisi) Ini baru sekali," tuturnya.

Baca: Polres Dharmasraya Dibakar, Orang Tua Eka Fitra Akbar Minta Maaf

Eka sendiri dilaporkan pernah berniat ke Suriah untuk berjihad, namun ditentang ibunya. Sebelum menyerang kantor polisi, ia juga tak lagi tinggal di rumah orang tuanya itu sejak 2016. Eka tak boleh lagi kembali ke rumah orang tuanya setelah menunjukkan perubahan sikap yang radikal sejak bergabung dengan kelompok pengajian di Masjid Al Furqon, Kelurahan Cadika, Rimbo Tengah, Jambi.

Menurut Al Chaidar, kemungkinan besar niat Eka yang radikal dipendam lalu bergabung dengan JAK. Tanpa ke Suriah sekalipun, ia dapat menyerang polisi dengan indoktrinasi yang singkat dari JAK.  

Eka dan salah satu pelaku pembakaran kantor Polres Dharmasraya lainnya yakni Engria Sudarmadi tewas ditembak polisi karena melakukan perlawanan saat akan ditangkap. Keduanya dipergoki berada di lokasi saat petugas Pemadam Kebakaran berupaya memadamkan api di kantor Polres tersebut.

Baca: Seorang Polisi Terluka Saat Pembakaran Polres Dharmasraya

Saat melakukan aksinya, Eka mengenakan kaos hitam dibalut jaket loreng, celana taktikal berwarna gelap dan bersepatu lars. Ada logo bendera ISIS yang menempel di lengan kanan jaket yang dipakainya.

Beberapa jam sebelum melakukan aksinya itu, Sabtu malam sekitar pukul 18.30 WIB, 11 November 2017, Eka terlihat berjalan kaki mendatangi rumah orang tuanya di Jalan Imam Bonjol. Ia tak meninggalkan pesan apapun baik kepada orang tua maupun istrinya. MG

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Pengamat: Anak Polisi, Metode Perekrutan Baru ISIS di Indonesia

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu