Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua. Foto:facebook.com/victor.yeimo

Pengamat: Pemerintah Harus Tegas Sikapi Teror KKB di Papua

Estimasi Baca:
Rabu, 15 Nov 2017 15:15:17 WIB

Kriminologi.id - Pemerintah diminta bertindak tegas dalam menangani aksi teror yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB di Papua karena upaya persuasif yang dilakukan selama ini tidak membuahkan hasil yang signifikan. Sebaliknya, korban terus berjatuhan, baik dari pihak aparat keamanan, karyawan PT Freeport Indonesia, hingga warga setempat akibat serangan KKB.

Pengamat militer dan pertahanan dari Universitas Indonesia, Connie Rahakundini Bakrie, mengatakan upaya persuasif sudah terlalu sering dilakukan terhadap kelompok ini, namun sampai saat ini tak juga membuahkan hasil. Seharusnya negara memiliki sikap tegas pada gerakan ini dengan menentukan target yang jelas. 

Baca: KKB Kuasai Tembagapura, Ribuan Warga Minta Dievakuasi

“Misalnya, kapan dan hingga sejauh mana persuasif dilakukan. Lalu meningkat pada penanganan-penanganan berikutnya baik dari upaya keamanan dan ketertiban masyarakat oleh Polri hingga penyerbuan pada kantong-kantong utama, gerakan ini oleh TNI, Special Forces,” kata Connie kepada Kriminologi di Jakarta, Rabu, 15 November 2017.

Menurut Connie, sikap tegas pemerintah diperlukan karena serangan teror KKB berdampak pada keutuhan dan persatuan bangsa. Terlebih, pasca konstelasi politik 1998, isu separatisme dan perbedaan semakin berbahaya lantaran terus diangkat ke publik.

Dalam perspektif terorisme, gerakan KKB sudah mengarah pada separatisme yang dapat dikategorikan sebagai terorisme terhadap negara. 

Baca: Kejar KKB di Tembagapura, 1 Brimob Tewas Tertembak dan 1 Kritis

“Karena itu, negara harus bersikap tegas sebelum gerakan ini semakin merasa mendapat peluang untuk terus bergerak dan membesar. Gerakan ini akan memginspirasi gerakan-gerakan separatisme lainnya, terutama di Indonesia Timur,” ujar Connie.

Ketegasan negara terkait kasus ini, kata Connie, harus jelas, terukur dan akurat. Bukan hanya pihak keamanan dan pertahanan yang perlu aktif turun tangan menangani persoalan ini. Tetapi juga Kementerian Luar Negeri perlu aktif menyuarakan kepada kalangan internasional mengenai posisi negara yang terjepit akan serangan gerakan ini. 

“Kemenlu harus berani menegur keras terhadap negara-negara yang mendukung gerakan KKB ini,” kata Connie.

Baca: Teror KKB Dalam 2 Bulan: Tembak, Perkosa, dan Bakar di Papua

Teror KKB di Papua sudah berlangsung lebih dari sebulan. Bermula pada akhir September 2017, kelompok kriminal bersenjata atau KKB pimpinan Sabinus Waker melancarkan serangkaian penembakan ke tiga kendaraan milik PT Freeport Indonesia, yang saat itu tengah melintas di Mile 61 Jalan Poros Timika menuju Tembagapura. Peristiwa ini mengakibatkan kaca depan truk tangki air pecah.

Satuan Brimob yang bertugas melakukan pengamanan di sana mengejar kelompok tersebut. Hingga pengejaran pada 21 Oktober 2017, penembakan kembali terjadi sehingga dua anggota Brimob terluka, yakni Brigadir Polisi Mufadol dan Barada Alwin. 

Briptu Ferry Pramana Putra yang meninggal akibat kontak senjata di Papua, Foto: Ist/Kriminologi.id

Pada 22 Oktober 2017, Briptu Berry Pramana Putra tewas setelah ditembak KKB saat melakukan pengejaran pasca penembakan oleh KKB di mile 67,5 Tembagapura. Briptu Berry terkena tembak pada bagian perut di sekitar Jembatan Bukit Sangker, Utikini, Tembagapura, Papua, sekitar pukul 16.00 WIT. 

Baca: KKB Tolak Komunikasi, Polri Tetap Upayakan Persuasif

Sejak itulah, KKB seolah tak pernah berhenti melancarkan serangkaian teror. Bahkan aksinya kini meluas tak hanya menyerang aparat, tetapi juga kepada warga setempat. Seorang warga berinisial E atau mama L dilaporkan telah diperkosa oleh kelompok pimpinan Sabinus Waker itu. Juga perusakan kios warga yang telah ditinggalkan dengan cara dibakar. 

Yang terbaru, aksi KKB menewaskan anggota Brimob bernama Brigadir Firman. Firman tewas dalam upaya pengejaran KKB di wilayah operasional PT Freeport mile 69 Tembagapura, Papua, pada Rabu dinihari, 15 November 2017. Tak hanya Firman, satu orang anggota lainnya kritis terkena tembakan di bagian punggung. TD

Reporter: Tito Dirhantoro
Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500