Tangkapan layar rekaman CCTV detik-detik pelaku bom bunuh diri yang mengendarai sepeda motor terobos kerumunan orang di gereja di Surabaya. Foto: Ist/Kriminologi.id

Penyebab Anak Jadi Teroris, Psikolog: Belum Bisa Membayangkan Surga

Estimasi Baca:
Selasa, 15 Mei 2018 09:05:55 WIB

Kriminologi.id - Pelibatan anak-anak sebagai pelaku aksi bom bunuh diri di beberapa titik di Surabaya dinilai terjadi karena kemampuan kognitif anak belum berkembang sempurna. Dengan kondisi ini, anak belum bisa berpikir secara kompleks dan abstrak, sehingga mereka mudah mempercayai sesuatu. 

“Tingkat perkembangan kognitif mereka belum sampai ke sana, belum matang, apalagi dalam memahami sesuatu yang bersifat abstrak, seperti bagaimana membayangkan surga itu seperti apa,” kata Psikolog Universitas Indonesia Rose Mini Agoes Salim ketika dihubungi Kriminologi.id pada Senin, 14 Mei 2018.

Romi, panggilan akrab Rose menjelaskan, seorang anak usia dini akan mudah mempercayai suatu informasi yang ia terima secara terus menerus dan itu-itu saja. Bahkan, suatu informasi serupa juga bisa diterima secara mudah oleh remaja dewasa, bila orang tersebut tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang terbatas.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/59e46072019b7-1508139122-68a924bc8b749cf5e5e988632909e917.png

Selain belum mampunyai seorang anak berpikir menyeluruh, sifatnya yang mudah mengidolakan seseorang atau tokoh tertentu juga dapat mempengaruhi sikapnya.

“Di usia anak-anak, mereka memang mudah menerima informasi, apalagi jika itu diberikan oleh orang-orang yang menjadi panutannya. Misalnya oleh orang tua ataupun mereka yang dia idolakan. Itu sangat gampang masuknya. Seperti halnya mereka menyukai tokoh superhero. Anak anak mudah meniru apa yang dilakukan oleh tokoh superhero,” Romi melanjutkan.

Tak hanya dari sisi kognitif dan pengaruh tokoh idola, menurut Romi, faktor lingkungan juga ikut mempengaruhi. Romi menjelaskan, bila di keseharian seorang anak lebih sering bergabung dengan orang-orang yang berpikiran tentang kekerasan, misalnya, pola pemikirannya akan terbentuk ke arah hal tersebut.

Apalagi menurutnya jika anak tersebut tidak mendapatkan informasi lain dari luar. Ia mencontohkan, orang tua dari pelaku bom anak di Sidoarjo, lebih memilihkan pendidikan anaknya dengan cara homeschooling, dan tidak di sekolah umum.

“Ketika anak didoktrin sesuatu, berada dalam lingkungan tertutup dan eksklusif, maka anak tidak bisa berpikir secara luas,” kata Romi.

Sebelumnya diberitakan, pada Minggu, 13 Mei 2018, empat orang anak yakni Fadila Sari, Vamela Rizkita, Yusuf Fadil, dan Irman Ali melakukan aksi bom bunuh diri di tiga rumah ibadah di Surabaya. Selain itu, dua anak perempuan tercatat ikut serta sebagai pelaku peledakan bom di rumah susun Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur. 

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500