Ilustrasi pelaku kejahatan, Foto: Pixabay.com

Penyebab Sekeluarga Jadi Penjahat, Faktor Genetika dan Lingkungan

Estimasi Baca:
Sabtu, 30 Jun 2018 18:00:21 WIB

Kriminologi.id - Pelaku perampokan yang kerap terjadi di wilayah Kalideres, Jakarta Barat berhasil dibekuk pada 25 Juni 2018. Kepolisian menangkap empat orang pelaku dan seorang diantaranya tewas tertembak karena berusaha melawan petugas. Sedangkan ketiga orang lainnya ternyata ada yang memiliki hubungan keluarga sebagai ibu dan anak.

Sebelumnya, bapak dan anak ditangkap satuan kepolisian Polres Pandeglang pada 23 Juni 2018 karena ulah mereka mencuri mobil milik Dinas Perikanan Kabupaten Pandeglang. Keduanya diamankan ketika berusaha mengganti kunci dan warna mobil hasil curiannya tersebut. 

Terlibatnya suatu keluarga dalam melakukan kejahatan bukan hal yang aneh. Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk melihat hubungan maupun penyebab terjadinya fenomena tersebut. Kevin M. Beaver dalam tulisannya yang berjudul The Familial Concentration and Transmission of Crime menjelaskan bahwa sekeluarga yang melakukan kejahatan dapat terjadi karena faktor lingkungan yang membentuk tindakan dan juga adanya sifat-sifat potensial kejahatan yang diturunkan secara genetika.

Farrington, Jolliffe dkk dalam tulisannya yang berjudul The Concentration of Offenders in Families and Family Criminality In The Prediction Of Boy’s Delinquency menyebutkan bahwa faktor-faktor potensial melakukan kejahatan diturunkan ke generasi berikutnya karena lingkungan. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan tempat tinggal yaitu rumah dimana nilai sosial dan pola asuh mempengaruhi tingkah laku generasi selanjutnya.

Nilai-nilai yang disosialisasikan di lingkungan sekitar khususnya di lingkungan keluarga kepada anak akan menjadi nilai yang tertanam hingga anak tersebut dewasa. Sehingga ketika anak kerap melihat orang tuanya melakukan kejahatan, kerap melihat kekerasan, dan tindakan illegal maka tanpa disadari nilai tersebut akan tertanam pada anak.

Selain itu, Farrington dkk menambahkan bahwa fenomena sekeluarga jadi pelaku kejahatan tidak hanya disebabkan karena lingkungan dan sosialisasi nilai tetapi juga disebabkan oleh faktor genetika.

Moffit dalam tulisannya yang berjudul The New Look of Behavioral Genetics in Development in Psychopathology: Gene-environment Interplay in Antisocial Behaviour memperlihatkan perilaku anti sosial dan kejahatan diwariskan, ada sekitar 50 persen varian gen yang dapat menjelaskan faktor genetik kejahatan. Hal ini juga dapat menggambarkan bagaimana perilaku kejahatan dapat terkonsentrasi pada suatu keluarga.

Sering dijumpai di dalam masyarakat ada sebuah keluarga yang hampir seluruh anggota keluarganya terlibat dengan tindak kejahatan tertentu. Inilah yang disebut oleh Moffit sebagai kejahatan yang terkonsentrasi pada suatu keluarga tertentu. Penyebutan terkonsentrasi juga ditujukan untuk menjelaskan tidak semua keluarga memiliki anggota keluarga yang melakukan kejahatan. 

Gen yang diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya tidak hanya membawa informasi-informasi genetik tetapi juga membawa sifat-sifat keturunannya baik yang nampak pada fisiknya maupun sifat personalnya. Seperti yang disebutkan oleh Thomas J. Bouchard Junior dalam tulisannya Genetic Influence on Human Psychological Traits memaparkan jika fenotipe manusia baik yang normal maupun yang tidak normal hampir seluruhnya dipengaruhi oleh faktor genetik.

Fenotipe adalah suatu karakteristik organisme dalam hal ini manusia yang dapat diamati, termasuk berbagai macam ekspresi dan perilaku suatu organisme. Sehingga dengan menggabungkan pendapat Moffit dan Thomas yang lebih ke arah pendekatan biologis dengan pandangan Farrington dan Kevin yang lebih fokus kepada pendekatan sosiologis dipandang mampu menjelaskan fenomena sekeluarga menjadi pelaku kejahatan. Bahkan dalam beberapa kasus, perilaku kejahatan dalam satu keluarga terus berlanjut dari generasi ke generasi.

KOMENTAR
500/500