Rilis kasus miras oplosan di Mapolres Jakarta Selatan. Foto: M. Adam Isnan/Kriminologi.id

Pesta Miras Oplosan dan Pergaulan Generasi Milenial

Estimasi Baca:
Sabtu, 14 Apr 2018 12:05:15 WIB

Kriminologi.id - Fenomena minuman keras oplosan yang terjadi selama dua minggu ini di Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Sukabumi telah menyebabkan hampir 100 orang meninggal dunia. Pesta miras kerap menjadi identitas kelompok sosial terutama pada geneasi milenial.

Data yang disampaikan oleh Polda Metro Jaya dan Polda Jawa Barat diketahui bahwa mayoritas korban miras oplosan adalah mereka yang berumur 18 sampai dengan 35 tahun.

Rentang umur 18 sampai dengan 31 tahun kerap disebut dengan Generasi Y atau Generasi Milenial. Menurut Zamke dalam buku Generations at Work: Managing the Clash of Veterans, Boomers, Xers, and Nexters in Your Workplace menyebutkan bahwa yang dimaksud generasi milenial adalah individu yang lahir 1981 hingga 1999.

Walaupun masih banyak perbedaan pendapat di kalangan akademis dalam menentukan tahun, namun perbedaannya tidak terlalu jauh.

Keterlibatan generasi milenial dalam mengkonsumsi minuman keras bukan hal yang baru, berbagai riset telah dilakukan untuk melihat pola perilaku generasi milenial ini. Salah satu contohnya yang dilakukan oleh perusahaan riset Nielsen pada tahun 2007 dengan judul Millenial Cunsumers Seek New Tastes, Willing to Pay A Premium for Alcoholic Beverages.

Riset ini menemukan bahwa generasi milenial di Amerika memiliki respon positif terhadap minuman jenis Wine untuk acara-acara formal. Sedangkan minuman keras yang kerap generasi milenial ini pilih untuk berpesta adalah bir dan jenis minuman beralkohol lainnya.

Banyak hal yang dapat mendorong seseorang mengkonsumsi minuman beralkohol, akan tetapi khusus untuk kelompok dewasa muda alasan yang paling menonjol adalah subkultur kelompok ataupun nilai sosial yang dibangun di dalam kelompoknya.

Secara sosiologis, sebuah subkultur dapat pula diartikan sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka. Hal itu bisa terjadi karena perbedaan usia, ras, etnisitas, kelas sosial, gender, atau lainnya.

Subkultur atau nilai sosial yang dibangun oleh kelompoknya ini menempatkan perilaku minum minuman beralkohol sebagai subkultur. Hal ini seperti yang disebutkan oleh Marinelli dkk dalam tulisannya yang berjudul Generation Y, Wine and Alcohol: A Semantic Differential Approach to Consumption Analysis in Tuscany.

Masalah budaya dan subkultur kelompok yang mempengaruhi generasi milenial dalam mengkonsumsi alkohol juga diungkapkan oleh salah satu korban selamat miras oplosan di Depok yang bernama Nana Tulus yang masih berusia 25 tahun.

"Di sini mah ya sudah kayak kebiasaan, dulunya juga ya dari abang-abang yang tinggal di sini, kan mereka kenal sama temen-temen saya, ada yang saudaranya, ponakannya, awalnya kenalan sama saya, tiap ketemu sering bilang 'eh ayo mampir lah ke rumah kita beli yang seger-seger', eh makin sini ya jadi sering ngajakin minum," ujar Nana kepada kriminologi.id saat ditemui di kediamannya, Jumat, 8 April 2018.

Sehingga subkultur kelompok terkait minuman keras ini terus-menerus dibangun dan ditularkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Sehingga anggapan terhadap minuman keras di dalam kelompok masyarakat tersebut menjadi hal yang biasa-biasa saja dilakukan.

Minuman beralkohol ini dipandang oleh generasi milenial sebagai salah satu cara yang dapat digunakan untuk melupakan masalah sejenak, tidak adanya aturan yang ketat seperti narkoba, dan harganya yang relatif murah.

Sehingga generasi milenial akan menganggap minuman beralkohol adalah pengganti narkoba dimana mereka masih bisa merasakan kesenangan dengan anggapan resiko yang akan diterima lebih kecil ketimbang mengkonsumsi narkoba.

Ini yang diungkapkan oleh Degenhardt dkk  dalam tulisannya yang berjudul Evaluating The Drug Use Gateway. Theory Using Cross National Data: Consistency and Association of The Order of Initiation of Drug Use among Participants in The WHO World Mental Healt Survey.

Tidak hanya generasi milenial yang berpikir bahwa minuman beralkohol lebih aman ketimbang narkoba. Para orang tua generasi milenial ini juga memiliki pandangan yang serupa, ini seperti yang dituturkan oleh Nana tentang bagaimana orang tuanya dan orang tua teman-temannya memberikan lampu hijau untuk minum minuman beralkohol namun memberikan lampu merah untuk konsumsi narkoba.

“Kebanyakan sih saya sama temen-temen yang lain cuma dibilangin gini (sama orang tua): 'kalau cuma minum-minum ya boleh-boleh aja, asal tetep harus jaga diri, jangan sampe bikin rese, jangan ngebahayain orang lain, kalau narkoba sama yang sejenisnya itu baru dilarang, engga boleh', dibilanginnya gitu sih," ujar Nana.

Sehingga penyebab mengapa begitu banyak generasi milenial yang mengkonsumsi minuman beralkohol dapat disimpulkan karena adanya subkultur kelompok masyarakat yang mendukung perilaku konsumsi minuman beralkohol, sebagai sarana pelarian sementara, harganya yang lebih murah ketimbang narkoba, dan ancaman hukum yang tidak sama tingkat seriusitasnya dengan ancaman hukum terhadap pengguna narkoba.

KOMENTAR
500/500