Ilustrasi PRT bunuh anak majikan. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

PRT Bunuh Anak Majikan, Kriminolog: Ada Masalah Interpersonal

Estimasi Baca:
Jumat, 10 Ags 2018 07:05:48 WIB

Kriminologi.id - Kasus pembunuhan terhadap anak majikan oleh pembantu rumah tangga atau PRT terjadi karena adanya permasalahan interpersonal di kedua belah pihak. Permasalahan tersebut dinilai merupakan sebab PRT melampiaskan emosi hingga terjadi pembunuhan itu.

"Kalau korbannya anak, ada kemungkinan ada masalah interpersonal antara pelaku dengan orang tua dari anak," kata Kriminolog dari Universitas Indonesia Iqrak Sulhin kepada Kriminologi.id, Kamis, 9 Agustus 2018.

Iqrak menjelaskan, sebaiknya masyarakat tidak selalu menyalahkan PRT jika terjadi kasus-kasus seperti ini. Karena, kata Iqrak, bisa jadi beberapa kejahatan kekerasan terutama kekerasan serius yakni pembunuhan, penganiayaan, dan pemukulan terjadi karena adanya masalah interpersonal antara diri pelaku dan diri korban.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/kriminolog-ui-iqrak-sulhin-foto-ist-1533807346.jpg

Iqrak mencontohkan, PRT di titik tertentu bisa mengalami kejengkelan terhadap majikannya. Kejengkelan itu, kata Iqrak, terjadi karena pelaku tidak menerima atas perlakuan tidak manusiawi dari majikan terhadap dirinya.

"Pada titik tertentu, dia mengalami jengkel, dan dia tidak bisa melakukan kekerasan untuk membalas majikannya, maka pelampiasannya adalah kepada anak majikan. Nah, yang paling beresiko adalah anak yang belum bisa menceritakan kepada orang tua apa yang ia alami tadi," kata Iqrak.

Agar peristiwa seperti itu tidak terjadi lagi di kemudian hari, Iqrak mengingatkan majikan harus menjaga relasi dengan pembantu rumah tangga. Sebab PRT memiliki akses luas di dalam rumah tangga, mulai dari menyediakan makanan, menjaga rumah, hingga menjaga anak.

"Orang ini bekerja pada kita atau pada majikan bukan berarti dia diperlakukan seenaknya gitu, jadi buatlah relasi yang baik, sehingga yang memberikan jasa (PRT) merasa diorangkan, dihargai, dan dihormati dengan baik. Bila ini diterapkan, saya yakin kejadian-kejadian seperti itu tidak akan terjadi lagi," kata Iqrak.

Selain itu kata Iqrak, sebelum mempekerjakan PRT, pihak majikan juga memastikan mendapatkan PRT tersebut dari lembaga penyalur yang resmi dan memastikan lembaga itu memiliki kapabilitas.

Ratifah Rafsani Ahmad (3) tewas di tangan PRT, Sani binti Muksin (29). Sani mengaku memukul bayi tersebut karena rewel. Ratifah ditemukan tewas di dalam kamar mandi rumahnya di Perum Griya Asri Cluster Mahoni B 14 No 30, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Banten. 

Kepala bayi berusia tiga tahun itu ditemukan tenggelam di dalam ember berisi air dengan posisi kaki berada di atas. Penemuan balita tewas itu pertama kali oleh Sutihati (25), ibu korban, saat hendak mencuci kaki di kamar mandi rumahnya.

Polisi yang mendapatkan laporan dari warga langsung mendatangi lokasi kejadian untuk olah tempat kejadian perkara atau TKP. Polisi menangkap Sani (29), di tempat persembunyiannya di Kampung Baluk, Desa Nambo Ilir, Kecamatan Cikande, Rabu, 1 Juli 2018 dini hari. (Farhan Dzakwan Taufik/Muhammad Rizqi Ghiffari) YH

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500